Tim Kemanusiaan: Konflik Nduga Renggut 182 Korban Jiwa

CNN Indonesia | Rabu, 14/08/2019 16:06 WIB
Tim Kemanusiaan: Konflik Nduga Renggut 182 Korban Jiwa Puluhan warga Papua yang tergabung dalam Soladiritas #SaveNduga menggelar aksi damai , Jakarta, 26 Desember 2018. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tim Kemanusiaan Kabupaten Nduga, Papua, merilis jumlah korban meninggal yang terjadi akibat konflik yang terjadi di sana sejak Desember 2018. 

Dari hasil Investigasi yang dilakukan lembaga bentukan Bupati Nduga ini, jumlah korban meninggal yang ditemukan hingga saat ini sebanyak 182 orang. Sebarannya berada di beberapa distrik seperti Mbua, Dal, Mbulmuyalma, Mugi, Yigi fan Nirkuri, hingga Mapenduma.

Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Theo Hesegem memastikan data 182 korban ini telah diverifikasi pihaknya yang secara langsung dengan memasuki kawasan Nduga sejak terjadi konflik sebanyak tiga kali. 


"Ini bermula dari serangan awal pada bulan Desember 2018 lalu kepada pekerja konstruksi (Istaka Karya) dan ada operasi militer hingga saat ini sudah 182 (pengungsi) meninggal dunia karena berbagai macam faktor," kata Theo di Kantor Amnesti Internasional, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/8).

182 korban itu rinciannya adalah 21 korban perempuan dewasa, 69 laki-laki dewasa, 20 anak laki-laki, dan 21 anak perempuan. Kemudian 14 balita perempuan, 12 balita laki-laki, 8 bayi laki-laki dan 17 bayi perempuan. 

Meski begitu, Theo menyatakan para korban meninggal ini tak terjadi hanya karena dibunuh atau terlibat dalam konflik. Faktor meninggalnya mereka ini terjadi karena berbagai penyebab, mulai dari sakit karena terlalu lama menetap di hutan. 

"Ada juga yang baru melahirkan dan tidak mendapatkan pertologan medis. Bahkan ada beberapa pengungsi yang tewas karena mendapatkan tindak kekerasan dari aparat TNI dan Polri," kata Theo. 

Dia menerangkan dari semua korban itu, sedikitnya ada 13 orang yang meninggal karena kekerasan fisik baik berupa ditembak hingga penghilangan paksa yang dilakukan aparat. 


"Korban akibat kekerasan fisik ada di beberapa tempat, ada 13 korban fisik artinya yang ditembak atau mereka yang dilakukan penghilangan paksa (oleh aparat)," ujar Theo.


Tak hanya itu, menurut Theo, selain 182 korban tewas, ada sedikitnya 45 ribu warga yang terpaksa melarikan diri dan mengungsi dari tempat tinggalnya. Para warga, kata dia, ketakutan karena operasi yang dilakukan militer untuk mengejar Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB).

Hal berbeda justru dibeberkan melalui data yang dimiliki pemerintah. Dalam temuannya, pemerintah menyatakan korban meninggal yang mereka data hingga saat ini sejumlah 53 orang. Data itu disampaikan dalam konferensi pers yang dilakukan Kementerian Sosial pada 30 Juli lalu.

"Laporan Kemensos, ada 53 korban, itu data dari bulan Desember sampai Maret. Setelah Maret, belum dipublikasi lagi, jadi itu data Kemensos," kata Theo. 

Meski begitu, Theo memastikan data tim investigasi ini dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Karena mereka telah melakukan pemeriksaan langsung ke lapangan dan memiliki dokumentasi investigasi.


"Kami pikir data ini akurat dan valid karena semua hamba tuhan sudah melalukan koreksi, saya sebagai PJ laporan itu ada satu notulensi terkait kutukan tindakan  kekejaman yang terjadi akibat konflik ini," tutur Theo.


Tim Kemanusiaan Kabupaten Nduga, terdiri dari Pemkab Nduga, DPRD Kabupaten Nduga, Majelis Rakyat Papua, Sidone Gereja Kingmi di Tanah Papua, Yayasan Kejadian Keutuhan Manusia Papua, dan pemerhati HAM.

(tst/kid)