Karhutla di Musi Banyuasin, 100 Hektare Terbakar Belum Padam

CNN Indonesia | Rabu, 14/08/2019 19:05 WIB
Karhutla di Musi Banyuasin, 100 Hektare Terbakar Belum Padam Ilustrasi kebakaran hutan. (REUTERS/Costas Baltas)
Palembang, CNN Indonesia -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghanguskan sedikitnya 100 hektare lahan gambut di Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Satgas Karhutla Sumsel masih berjibaku memadamkan api hingga Rabu (14/8) sore.

Kepala Bidang Penanganan Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Ansori mengatakan titik api baru mulai terdeteksi pada pagi hari setelah memantau melalui satelit Lapan dan dikonfirmasi oleh tim patroli udara.
Berdasarkan pantauan satelit di website Lapan, 105 hotspot terdeteksi di Sumatera Selatan sejak Selasa (13/8) siang hingga Rabu (14/8) petang. Dengan tingkat kepercayaan di bawah 29 persen sebanyak 3 titik panas, 30-79 persen sebanyak 46 titik panas, serta tingkat kepercayaan di atas 80 persen sebanyak 56 titik panas.

"Untuk luasan pastinya belum dapat laporan dari tim darat, namun diperkirakan sekitar 100 hektare. Hasil patroli kemarin tidak terpantau, setelah pengecekan pagi ini dikonfirmasi memang benar adanya. Secara fisik asapnya sangat tebal namun api tidak terlihat. Sudah kita kerahkan 3 helikopter untuk water bombing," ujar Ansori.


Dia mengatakan tim pemadam darat kesulitan mencapai lokasi kebakaran karena wilayah gambut dan jauh dair lokasi pemukiman. Titik api diduga muncul dari lahan milik warga, yang merembet ke lahan perkebunan milik perusahaan.
"Water bombing siang tadi sudah dilakukan 42 kali namun api belum padam. Sekarang masih dilakukan pemadaman. Tim pemadam terkendala ketersediaan air jauh dari lokasi kebakaran," kata dia.

Sementara itu Komandan Satgas Karhutla Sumsel Kolonel Arhanud Sonny Septiono mengatakan upaya pemadaman menggunakan helikopter di kawasan Musi Banyuasin terkendala jarak yang cukup jauh dari landasan udara dan sumber air yang juga sama jauh.

Dia mengatakan jarak tempuh ke kawasan Bayung Lencir dari Pangkalan Udara Palembang bisa mencapai 1,5 jam. Dengan keterbatasan bahan bakar, helikopter hanya bisa melakukan pemadaman selama 1 jam sebelum bahan bakar helikopter habis dan kembali ke pangkalan.

"Opsinya kita buat semacam terminal bahan bakar sementara di lokasi terdekat dengan sumber api. Namun kendalanya untuk menyimpan bahan bakar di lokasi pun tidak bisa terlalu banyak karena kondisi lapangan yang kurang memungkinkan," ujar dia.


[Gambas:Video CNN] (idz/pmg)