Warga Laporkan Polisi Diduga Penyebab Bentrok Empat Lawang

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 03/09/2019 02:16 WIB
Warga Laporkan Polisi Diduga Penyebab Bentrok Empat Lawang Ilustrasi uang yang diduga digunakan saat pungutan liar atau pungli. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Warga Desa Tanjung Raman, Kecamatan Pendopo, Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan hendak melaporkan dugaan pungutan liar (pungli) yang dilakukan oknum anggota Polres Empat Lawang ke Ombudsman. Dugaan pungli tersebut diyakini sebagai penyebab terjadinya bentrok antara warga dan anggota polisi, Rabu (31/7) lalu.

Kepala Divisi Pembelaan HAM Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Arif Nur Fikri berujar, beberapa waktu lalu pihaknya menerima aduan dari warga Desa Tanjung Raman yang membantah pernyataan polisi terkait awal mula bentrok.

Arif mengatakan, persoalan utama yang bisa ditindaklanjuti adalah dugaan pungli yang dilakukan oleh para oknum anggota kepolisian tersebut. Pihak KontraS bersama Konsorsium Pembaruan Agraria mendampingi warga Desa Tanjung Raman Kecamatan Pendopo, Kabupaten Empat Lawang untuk melaporkan dugaan tersebut ke Ombudsman RI.


"Kalau warga di sana ada data dan bukti terkait dugaan pungli itu bisa dilampirkan dan segera dilaporkan. Sudah diagendakan ke Ombudsman. Itu kan kalau dilihat dari pengakuan warga, itu [pungli] masalah awalnya. Makanya dikejar ke situ dan dibuktikan dengan data yang ada," ujar dia.


Pihaknya pun mempertanyakan mengenai penetapan tersangka terhadap Hendi, yang berdasarkan keterangan kepolisian, dilaporkan oleh Sariman atas tindakan pengancaman. Pihaknya menuntut kepolisian untuk menunjukkan surat penetapan tersangka tersebut, sebagai dasar hukum untuk menangkap Hendi. Dengan adanya dua cerita yang berseberangan antara kepolisian dan warga, kata Arif, warga Desa Tanjung Raman mesti menunjukkan bukti untuk mengungkap dugaan pungli tersebut.

Selain itu, pihaknya menuntut kepolisian untuk menyelidiki dugaan terjadinya penganiayaan terhadap para tersangka dan saksi yang dilakukan penyidik saat proses penyelidikan. Saat ini, satu orang tersangka masih dirawat di rumah sakit.

"Ada yang yang dirawat di RS itu, kita dapat laporan mereka diborgol meskipun kondisinya tidak berdaya. Kita menyayangkan itu, dia sudah mengalami luka tembak, tidak berdaya, masih diborgol. Padahal dia tidak bisa lari kemana-mana karena luka itu, tidak mungkin juga melarikan diri," kata Arif.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumsel Komisaris Besar Yustan Alpiani telah menetapkan 14 tersangka terkait penyerangan terhadap anggota polisi di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, Rabu (31/7) lalu. Pihaknya mengaku belum mengetahui adanya laporan warga terkait dugaan pungli. Dirinya mengimbau kepada warga agar tidak asal menuding, namun melaporkan hal tersebut langsung ke kepolisian disertai bukti permulaan agar bisa dilakukan penyelidikan.

"Kalau itu kan terserah, apapun versi mereka. Seandainya kalau ada dia menemukan [bukti pungli] itu, dia bisa lapor dong. Melaporkan siapa yang melakukan [pungli] itu," ujar Yustan, Senin (2/9).


Yustan melanjutkan, dugaan pungli dan penangkapan terhadap 14 tersangka penyerangan tersebut adalah kasus yang berbeda. Dugaan pungli tidak bisa dijadikan pembenaran untuk melakukan penyerangan terhadap anggota polisi yang sedang bertugas.

"Di sini kan konteks kita pada saat anggota mau nangkap orang, dilakukan perlawanan. Kalau itu [pungli] ada juga itu kita kan di luar kasus [penyerangan] ini. Kalau awalnya yang lain itu terserah. Yang pasti seandainya tidak ada perlawanan, penyerangan terhadap anggota, itu tidak akan terjadi. Dugaan pungli-nya juga kita belum menerima laporan," imbuh Yustan.

Dia menjelaskan, penyerangan bermula saat empat orang anggota Polsek Ulu Musi Kabupaten Empat Lawang hendak melakukan penangkapan terhadap Hendi alias Cendil, tersangka pengancaman atas laporan Sariman, salah seorang anggota LSM. Saat mencari Hendi, mereka bertemu dengan 9 orang lainnya di lokasi kejadian. Dua orang dari  rombongan tersebut adalah Erwan (30) dan Erwin (30), adik kembar dari Hendi.

Saat Inspektur Dua Arsan Fajri, Ajun Inspektur Dua Darmawan, Brigadir Kepala Suhardi, serta Brigadir Satu Ilham Kurniawan menanyakan keberadaan Hendi kepada mereka, rombongan tersebut menunjukkan gelagat tidak berkenan. Hingga akhirnya Erwan dan Erwin melakukan penusukan terhadap Ipda Arsan Fajri dan Aipda Darmawan karena enggan kakaknya ditangkap.

Akibat penyerangan tersebut, ujar Yustan, dua penyidik polisi lainnya melakukan penindakan dan penembakan terhadap Erwan dan Erwin. Tersangka Erwanto alias Irwan (19) yang ikut dalam penyerangan ikut ditembak. Letusan senjata api polisi tersebut membuat rombongan tersebut melarikan diri. Sebanyak empat orang yang berhasil ditangkap yakni Erwan dan Erwin, Irwan, serta Sukiran (50).

Warga Laporkan Polisi Diduga Penyebab Bentrok Empat LawangIlustrasi polisi yang terpaksa menembakkan senjata api. (Foto: Skitterphoto/Pixabay)
Usai kejadian tersebut, beberapa warga melakukan penyerangan ke RSUD Tebing Tinggi sebagai buntut terjadinya penangkapan sebelumnya. Sebanyak 10 orang ditangkap yakni Egi (35), Gilang (20), Hendi alias Cendol (30), Darwanto (50), Sermin (40), Yomyi (60), Sarjono (50), Irwanto, Safrizal dan Irwan dalam kasus penyerangan RSUD Tebing Tinggi Empat Lawang. Satu orang tersangka masih dirawat di rumah sakit karena menderita luka tembak.

"Sekarang kita tangani dulu kasus penyerangan ini. Kalau warga mau lapor itu [pungli], itu terserah mereka," kata Yustan.

Sebelumnya diberitakan, berdasarkan kronologi yang dibeberkan kepolisian, bentrokan antara warga dan polisi berawal dari laporan pengancaman terhadap oleh tiga warga Desa Tanjung Raman terhadap seorang anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pada Selasa (30/7).

Namun pada Selasa (27/8) beberapa warga Desa Tanjung Raman mendatangi Kantor KontraS di Jakarta dan menjelaskan kronologi yang berseberangan dengan keterangan polisi. Syarifudin (58), paman dari tersangka Erwan dan Erwin mengungkapkan, penyerangan terhadap anggota polisi berawal dari permintaan pungutan liar aparat kepolisian terkait proyek pembangunan jalan.

Dirinya berujar, polisi meminta jatah Rp30 ribu per angkutan batu dalam satu truk. Polisi lebih dari satu kali meminta jatah sejak proyek pembangunan jalan mulai sejak dua bulan sebelum peristiwa bentrokan terjadi.

[Gambas:Video CNN] (idz/rea)