Keluhan Pedagang atas Premanisme di Tanah Abang

CNN Indonesia | Sabtu, 07/09/2019 09:01 WIB
Keluhan Pedagang atas Premanisme di Tanah Abang Dari beberapa pedagang yang CNNIndonesia.com temui menilai premanisme sudah menjadi budaya di Tanah Abang dan sepertinya sulit dihilangkan. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah pedagang di Pasar Tanah Abang mengeluhkan perihal premanisme yang menurut mereka seolah telah membudaya di kalangan masyarakat sana.

Salah satu pedagang baju, Niniek M, menilai dirinya seolah tak pernah melihat kegiatan premanisme di Tanah Abang berhenti dari dulu hingga kini.

Niniek pun mengatakan saking seolah membudayanya, kegiatan premanisme pun lalu dinilai sebagai hal biasa bagi warga ataupun pedagang yang setiap harinya berada di sana.


"Yah kalo preman mah udah (menjadi hal) biasa, apalagi buat pedagang sama warga yang tiap hari di sini. Udah pada tahulah (premanisme), udah ada dari dulu juga sih," Kata Niniek kepada CNNIndonesia.com di lapaknya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (6/9).

Niniek mengatakan para preman tersebut biasanya akan menagih uang dengan bermacam dalih seperti 'keamanan' ataupun 'kebersihan'.

"Ya dari dulu udah ada, kayak kerjaan aja. Kalau pedagang sama warga mah kan enggak mau ada masalah, jadi kasih-kasih aja sih, enggak ada yang protes. Ada aja mas alasannya, biasanya ke pedagang keamananlah, kebersihan, iuran apalah, apa aja," kata dia.

Niniek pun mengaku iuran 'keamanan' dari preman tersebut datang secara tak menentu. Menurutnya, para preman melakukan pemalakan tersebut saat mereka butuh uang.

"Enggak menentu mintanya, kadang bisa seminggu dua kali, kadang berbulan-bulan enggak ada. Pas lagi butuh duit aja paling mereka (memalak)," ujarnya.

Namun, Niniek berpendapat jumlah preman tersebut memang sudah jauh berkurang dibandingkan saat ia pertama kali berjualan di Tanah Abang.

"Kalau jumlah, kurang. Jauh. Cuma ya masih ada," ujarnya.

Selain Niniek, pedagang kue di Pasar Tanah Abang M Umar pun juga melontarkan pendapat serupa.

"Udah biasa mas disini, udah jadi budaya," katanya.

Meskipun begitu, kata Umar, cara meminta uang yang dilakukan preman tersebut tak sama. Ia pun menyinggung video viral yang merekam preman meminta uang kepada pengemudi kendaraan yang melintas.

"Beda-beda mas kalo yang di video Itu kan masih pada kecil-kecil mungkin ya, jadi mereka (preman-preman) masih amatir, (memalak) terang-terangan," kata Umar.

Umar menyebutkan ada pula terdapat preman yang memalak korbannya secara 'sopan', sehingga tidak mencuri perhatian umum. Untuk soal tersebut, Umar membagikan kisah pengalamannya.

"Kalau yang sopan mereka dateng seringnya make baju rapih, gak kayak preman deh. Biasanya langsung ke toko pedagang. Biasanya siang atau sore pas ramai. Terus mereka nyapa trus nagih, 'sore mas, maaf nih kita mau ambil iuran nih'," katanya.

Serupa Niniek, Umar pun menilai kegiatan premanisme di Tanah Abang sulit untuk dihilangkan.

"Susah sih mau dijaga kayak gimana juga, kadang ga kelihatan juga sih. Kadang (penampilan) kayak pengemis, kadang rapih, harus ubah pola pikirnya mereka kalau mau hilangin," tuturnya.

Sementara itu pedagang lain, Abdi menilai sebetulnya aksi premanisme di Tanah Abang ini terorganisasi. Ia berpendapat demikan karena melihat beberapa preman terkesan sudah saling mengenal dan menyusun waktu dan tempat mereka memalak.

"Kayaknya sih kalau menurut saya udah terorganisir lah itu, jadi ada yang atur siapa malak siapa, kapan, dimana, bergantian aja," ujarnya.

Abdi mengatakan dugaan tersebut muncul karena preman-preman tersebut tidak memilih pedagang ataupun warga secara spesifik, serta tidak memiliki pola tetap, namun mereka tidak pernah berbenturan memalak. Ia menerangkan nominal pemalakan dari para preman-preman itu kepada pedagang sekisar 20 hingga 100 ribu rupiah.

"Beda-beda sih mas. Saya juga kan orang sini, kadang mereka (preman) itu datang dari luar (Tanah Abang). Kadang bisa 20 ribu, kadang 50 ribu, gak banyak sih, paling gede 100 ribu, tapi jarang," ujarnya.

Sebelumnya, Polsek Tanah Abang telah mengamankan enam orang dan menetapkan empat di antaranya sebagai tersangka. Keempat tersangka itu berinisial T, MIA, MNH, dan S. Mereka dijerat Pasal 368 KUHP tentang pemerasan.

[Gambas:Video CNN] (ara/kid)