Kabut Asap Menebal, Disdik Sumsel Bakal Mundurkan Jam Sekolah

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 06/09/2019 22:45 WIB
Kabut Asap Menebal, Disdik Sumsel Bakal Mundurkan Jam Sekolah Kabut pekat menutupi Jembatan Ampera di Palembang, Sumatera Selatan pada Jumat (6/9). (Foto: CNNIndonesia/Hafidz)
Palembang, CNN Indonesia -- Dinas Pendidikan Sumatera Selatan berencana untuk memundurkan jam kegiatan belajar mengajar para siswa apabila kondisi kabut asap yang melanda daerah terdampak semakin menebal. Dinas Pendidikan akan berkoordinasi dengan pihak terkait lain untuk memberlakukan kebijakan tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Selatan Widodo berujar, kondisi menebalnya kabut asap di Palembang beberapa hari belakangan menjadi acuan pihaknya mempertimbangkan untuk memundurkan jam kegiatan belajar mengajar. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Sumsel sebelum menerapkan kebijakan tersebut.

"Kalau kualitas udara akibat kabut asap sudah semakin membahayakan, baru kita geser jam masuk sekolah. Sekolahnya jadi siang," ujar Widodo, Jumat (6/9).



Widodo menjelaskan, saat ini kegiatan belajar-mengajar di Palembang dan daerah terdampak kabut asap lainnya masih berlangsung normal. Kabut asap yang melanda hanya terjadi pada subuh hingga pagi hari. Saat matahari mulai meninggi dan menjelang siang, kabut asap semakin memudar.

Namun apabila kondisi kabut asap semakin parah hingga menyebabkan jarak pandang berkurang, pihaknya tidak ragu untuk memberlakukan sistem belajar di rumah.

"Kalau sudah semakin parah bisa belajar di rumah. Tapi untuk sekarang masih normal belajar di sekolah. Sudah kita imbau juga ke sekolah untuk memberikan masker kepada siswa untuk mengurangi dampak kabut asap sekarang," kata dia.

Berdasarkan pantauan satelit dari situs Lapan, terdapat 154 titik api yang terpantau berada di Sumatera Selatan. Citra satelit tersebut merupakan hasil pantauan Kamis (5/9) petang hingga Jumat (6/9) petang. Sebanyak 47 titik api memiliki tingkat kepercayaan di atas 80 persen, 104 titik api memiliki tingkat kepercayaan di atas 30 persen, tiga lainnya di bawah 30 persen.


Kondisi kabut asap yang melanda Palembang paling parah terjadi pada Kamis (5/9) pagi. Berdasarkan pantauan kualitas udara konsentrasi partikulat (PM10) di situs BMKG, titik tertinggi di Palembang mencapai 202,37 mikrogram pada pukul 07.00. Konsentrasi pm10 menurun hingga menjelang siang hari yakni 195,78 mikrogram pada pukul 08.00 dan 153,82 mikrogram pada pukul 09.00. Diketahui, ambang batas tidak sehat konsentrasi pm10 yakni 150-250 mikrogram.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi SMB II BMKG Palembang Bambang Beny Setiaji berujar, kabut asap yang terjadi di Palembang merupakan dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah titik di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Beberapa di antaranya yakni di Kecamatan Pampangan, Tulung Selapan, Cengal, Mesuji dan Pematang Panggang yang terjadi sejak Rabu (4/9).

Jarak pandang terendah di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin Ii Palembang 300-500 meter menyebabkan satu jadwal penerbangan sempat tertunda.

"Kondisi ini berpotensi terus berlangsung dikarenakan berdasarkan model prakiraan cuaca BMKG tidak ada potensi hujan hingga tanggal 11 September 2019 di wilayah Sumatera Selatan," ujar Bambang. 

[Gambas:Video CNN] (idz/rea)