Akibat dari kejadian itu, fasilitas umum, gedung pemerintahan, rumah, pertokoan, hingga gedung perkantoran mengalami kerusakan. Selain itu, empat warga sipil dan seorang personel TNI dinyatakan meninggal dunia saat aksi di Deiyai, Papua.
Dan, untuk meredam situasi di Papua, terbaru Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengundang 64 tokoh--di mana yang datang 61 orang asal Papua dan Papua Barat untuk berdialog di Istana Negara, Jakarta, Selasa (10/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait dengan pertemuan antara Jokowi dengan para tokoh Papua-Papua Barat itu, Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI Adriana Elisabeth menilai itu tak akan menyelesaikan akar persoalan. Pasalnya, sambung dia, aspirasi yang disampaikan tokoh-tokoh Papua dan papua Barat itu tak mewakili masyarakat di wilayah timur Indonesia tersebut. Ia menilai itu hanya aspirasi dari segelintir elite di Papua dan Papua Barat.
Terkait aspirasi yang disampaikan para tokoh Papua dan Papua Barat kala menemui Jokowi, Adriana melihat hanya merupakan isu lama. Terkait dengan pemekaran misalnya, ia mengatakan setiap wilayah adat Papua sejak dahulu menuntut adanya pembagian secara formal sesuai dengan adatnya masing-masing.
Adriana pun berharap pemekaran wilayah di manapun itu seharusnya dilakukan lewat kajian yang matang sebelum direalisasikan. Adriana merasa kajian menjadi hal yang penting karena masih ada beberapa hal yang belum siap di Papua dan Papua Barat, salah satunya kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM).
Ketua DPRD Kota Jayapura Abisai Rollo yang menjadi ketua rombongan perwakilan tokoh Papua dan Papua Barat memberi keterangan pers usai bertemu Presiden Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (10/9). (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan) |
"Terkait pemekaran, jangan banyak-banyak dulu. Tadi tambahan berapa? lima. Saya iya, tetapi mungkin sementara tidak lima dulu. Mungkin kalau enggak dua, tiga [pemekaran]. Ini kan perlu ada kajian," ujar Jokowi menjawab permintaan tokoh Papua di istana.
Kemudian untuk aspirasi tokoh Papua soal Palapa Ring, Adriana menyatakan itu hanyalah proyek lama yang sebenarnya sudah dijadwalkan akan dikunjungi Jokowi ketika rampung.
Adriana membeberkan ada empat akar masalah di Papua yakni diskriminasi rasial; pelanggaran HAM; kegagalan pembangunan; serta status dan sejarah politik Papua-Papua Barat menjadi bagian Indonesia. Ia menilai empat persoalan itu yang seharusnya direspon Jokowi selaku kepala negara juga kepala pemerintahan Republik Indonesia.
"LIPI sudah lama mengatakan ini akar empat masalah ini lho penyebabnya. Nah yang harus diselesaikan penyebabnya itu. Kalau datang, terus bicara minta pemekaran itu kan konflik di tengah-tengah mayarakat Papua sendiri," ujar Adriana.
Lalu aspirasi soal asrama nusantara bagi mahasiswa dari berbagai daerah, Adriana menilai hal tersebut masih kurang tepat diajukan di hadapan presiden. Ia menilai aspirasi asrama nusantara merupakan ranah pemerintah daerah asal mahasiswa, dan pemerintah di mana bangunan itu berada.
Oleh karena itu, Adriana menilai aspirasi yang disampaikan Ketua Delegasi Papua Abisai Rollo itu masih jauh dari kata komprehensif terkait isu-isu di Papua kini dan yang telah menjadi persoalan dari masa lalu yang belum diselesaikan.
"Jadi kalau fokusnya hanya ke delapan atau sembilan isu yang disampaikan itu tidak representatif dari persoalan-persoalan di Papua, apalagi akar masalah itu sama sekali jauh dari itu," ujar Adriana.
Lebih lanjut, Adriana enggan berkomentar soal motif di balik Jokowi memanggil tokoh Papua-Papua Barat ke Istana Negara. Namun, ia tak bisa menampik kecurigaan bahwa tokoh-tokoh yang datang ke istana adalah mereka yang mewakili pihak-pihak tertentu di Papua dan Papua Barat.
"Selalu kalau bicara keterwakilan itu begitu karena di Papua itu kan faksi dan kelompoknya banyak. Yang diundang nih kelompok yang mana?" ujarnya.
Presiden RI Joko Widodo mendengarkan aspirasi perwakilan tokoh Papua dan Papua Barat dalam pertemuan di Istana Negara, Jakarta, 10 September 2019. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan) |
Ia meyakini dialog dengan diaspora Papua proreferendum yang bertentangan dengan Benny akan meredam upaya-upaya kampanye yang dilakukan Benny dan simpatisannya selama ini.
"Jadi tidak usah urus Benny Wenda-nya, tapi dalam tanda petik mendekati, approach kepada diaspora Papua yang tidak setuju dengan strateginya Benny Wenda," ujarnya.
[Gambas:Video CNN] (jps/kid)

Presiden RI Joko Widodo mendengarkan aspirasi perwakilan tokoh Papua dan Papua Barat dalam pertemuan di Istana Negara, Jakarta, 10 September 2019. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)