Akademisi Penolak Revisi UU KPK Dapat Teror

ryn, CNN Indonesia | Kamis, 12/09/2019 04:40 WIB
Akademisi Penolak Revisi UU KPK Dapat Teror Sejumlah pegawai KPK menggelar penutupan seluruh logo KPK dengan menggunakan kain hitam di Gedung Merah Putih pada Minggu (8/9). (CNN Indonesia/Jonathan Patrick)
Jakarta, CNN Indonesia -- Guru Besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Hariadi Kartodihardjo menuturkan dirinya dan sejumlah rekan yang tergabung dalam akademisi tolak revisi UU KPK mengalami teror berupa panggilan telepon dari nomor tidak jelas.

"Saya juga kena itu. Beberapa orang kena, ini masih terjadi. Saya barusan ditelepon dari Arizona Amerika. Saya enggak angkat nomor enggak dikenal. Teman-teman sudah mengganti WA grup tetapi masih waspada ini beneran apa enggak," ujar Hariadi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (11/9).

Hariadi mengatakan rekannya yang merupakan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Rimawan mengalami peretasan pada akun WhatsApp-nya. Rimawan, kata dia, mengirim pesan bernada mendukung revisi UU KPK di dalam grup akademisi tolak revisi UU KPK.


"Akun Pak Rimawan, sekarang sudah ganti handphone dan sudah bikin WhatsApp grup lagi," tuturnya.


Hariadi menjelaskan grup tersebut terdiri dari akademisi lintas universitas yang tegas menolak revisi UU KPK. Dia menjelaskan setiap perkembangan yang terjadi masing-masing universitas dilaporkan dalam grup tersebut.

"Iya sama, terus ditambahi yang lain. Yang terakhir dosen perguruan tinggi supaya bisa inklusiflah teman-teman dosen bisa gabung," imbuhnya.

Grup tersebut merupakan kelompok yang sama ketika mendesak Jokowi menolak calon pimpinan KPK bermasalah yang diserahkan oleh panitia seleksi. Bahkan, mereka juga menyurati Jokowi.

"Kita dapat dari sumber informal, tapi jawaban resmi enggak dapat," katanya.


Senada, Ketua Pusat Kajian Antikorupsi UGM Zainal Arifin Mochtar juga mengalami kejadian serupa, yaitu dihubungi nomor tidak jelas. Begitu pula dengan rekan-rekannya yang biasa bersuara menolak revisi UU KPK.

"Sekitar puluhan kali (mendapat telepon), saya ngecek ke teman-teman, mostly semua ngeluh. Kalau di WhatsApp grup ada sekitar 10 orang yang ngaku, seperti Bivitri Susanti dan sebagainya," ucap Zainal saat diskusi bertajuk Pelemahan KPK 4.0 di Gedung Dwiwarna KPK, Rabu (11/9).

[Gambas:Video CNN] (pmg)