Kabut Asap Selimuti Palembang, Lima Penerbangan Terganggu

CNN Indonesia | Jumat, 13/09/2019 18:32 WIB
Kabut Asap Selimuti Palembang, Lima Penerbangan Terganggu Kabut asap menyelimut Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan. (Foto: ANTARA FOTO/Nova)
Palembang, CNN Indonesia -- Kabut asap sebagai dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Palembang pada Jumat (13/9) pagi menyebabkan 5 penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang sempat tertunda. Tercatat jarak pandang terendah mencapai 300-500 meter yang terjadi pada 04.00-07.00.

Pelaksana Tugas General Manager Angkasa Pura II Bandara SMB II Palembang Indra Crisna Seputra berujar, tiga jadwal kedatangan dari Bandara Soekarno-Hatta dan dua keberangkatan menuju Cengkareng dan Depati Amir Pangkal Pinang sempat tertunda akibat kondisi kabut asap yang menebal.

"Kabut asap sangat mempengaruhi proses pendaratan sehingga kondisi ini membuat kedatangan harus ditunda unutk meminimalisir resiko yang akan terjadi," ujar dia, Jumat (13/9).


Maskapai Garuda Indonesia GA100 dari Cengkareng yang dijadwalkan tiba pada pukul 06.45 WIB tertunda hingga 08.55 WIB karena terganggu jarak pandang yang rendah. Penundaan tersebut berpengaruh pada penerbangan selanjutnya yakni GA102 dari Cengkareng yang baru tiba pukul 09.18 WIB dari jadwal sebelumnya yakni 08.45 WIB.

Maskapai Citilink QG980 pun tertunda hingga 145 menit dari seharusnya tiba pukul 07.15 WIB menjadi 09.37 WIB. Sementara dua keberangkatan yang tertunda hampir 2 jam yakni Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia.

Indra menuturkan penundaan waktu penerbangan karena jarak pandang rendah akibat kabut asap karhutla tersebut sudah terjadi dua kali di Palembang. Kejadian pertama pada 5 September lalu hanya menyebabkan satu penerbangan yang terganggu.

"Kondisi kabut asap yang sangat tebal menyulitkan proses pendaratan. Segala kondisi yang ada di bandara tujuan akan dilaporkan kepada maskapai. Namun terkait waktu terbang, semua diserahkan kepada pilot yang mengetahui kondisi lapangan," kata dia.

Sementara itu, Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi BMKG Palembang Bambang Beny Setiaji mengatakan kabut asap yang dibawa oleh angin dari tenggara disebabkan oleh karhutla di Ogan Komering Ilir (OKI) dan Banyuasin. Selain berdampak terhadap jarak pandang, kualitas udara di Palembang pun memburuk.

Konsentrasi PM10 yang tercatat di masuk kategori sedang hingga sangat tidak sehat dengan nilai 89-295 mikrogram per meter kubik. Diketahui, nilai ambang batas tidak sehat adalah pada 150 mikrogram per meter kubik .

"Kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat umumnya terjadi pada rentang waktu 22.00-08.00 WIB. Sementara kondisi sedang dan sehat terjadi usai matahari terbit hingga senja," ujar dia.


Bambang menjelaskan setelah terbit matahari keadaan udara akan relatif labil sehingga kabut maupun asap akan terangkat naik dan jarak pandang akan menjadi lebih baik. Akan tetapi partikel asap yang bergerak karena angin horizontal akan tetap ada di permukaan dan menyebabkan kekeruhan udara.

"Kondisi ini akan terus berpotensi berlangsung dikarenakan berdasarkan model prakiraan cuaca BMKG tidak ada potensi hujan dalam rentang prakiraan 13-19 September 2019 di wilayah Sumsel," kata dia.

[Gambas:Video CNN] (idz)