Kian Meningkat, Pekerja Migran Tewas Asal NTT Capai 85 Orang

CNN Indonesia | Minggu, 15/09/2019 10:00 WIB
Kian Meningkat, Pekerja Migran Tewas Asal NTT Capai 85 Orang Ilustrasi (Istockphoto/Fergregory)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pekerja migran Indonesia (PMI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meninggal dunia di luar negeri sudah mencapai 85 orang sejak Januari 2019. Jumlah PMI yang meninggal dunia terus meningkat.

Ketua Jaringan Nasional Anti Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) Rahayu Saraswati Djojohadikusumo mengatakan jenazah ke-85 tiba di Bandara El Tari Kupang, NTT, pada Sabtu kemarin (14/9).

Jenazah yang dimaksud bernama Yanto Olin. Dia berasal dari Desa Banfanu Noemuti.


"Jenazah yang ke-85 non prosedural kembali ke NTT lewat Bandara El Tari, Kupang," tutur Sara melalui pesan singkat, Minggu (15/9).

"Dan sekarang juga sedang disiapkan 2 jenazah lagi untuk pulang dari Malaysia," lanjutnya.

Sebelumnya, jenazah PMI atas nama Jidron Faot juga telah tiba di Kupang, NTT pada Jumat (13/9). Jidron merupakan PMI ke-84 asal NTT yang meninggal dunia pada tahun ini.
"Ini adalah informasi yang hampir setiap minggu kami dapat dari rekan-rekan seperjuangan di NTT," tutur Sara.

Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Nusa Tenggara Timur (NTT) memang sudah menerima puluhan jenazah PMI sejak Januari hingga Agustus lalu.

Mereka mencatat ada 73 jenazah yang telah diterima per Agustus. Jumlah tersebut kian meningkat memasuki bulan September yang kini telah mencapai 85 jenazah.

"Berdasarkan data kami, sejak Januari sampai 19 Agustus 2019, NTT sudah menerima 73 jenazah PMI," tutur Kepala BP3TKI NTT Siwa mengutip Antara, Rabu (4/9).

Pada 2017 lalu, jumlah pekerja migran Indonesia yang meninggal dunia dan dikirim ke NTT sebanyak 62 orang. Jumlah tersebut meningkat pada 2018 yang mencapai 105 orang.
Siwa menjelaskan bahwa pekerja migran asal NTT yang selama ini menjadi korban kekerasan hingga meninggal dunia umumnya tidak melalui prosedur resmi. Akibatnya, mereka tidak mendapat perlindungan, sehingga menjadi korban kekerasan hingga meninggal dunia.

Siwa yakin pekera migran yang melalui prosedur resmi tidak mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan. Alasannya, pemerintah menjamin perlindungan kepada mereka.

"Kalau PMI resmi, di manapun mereka bekerja, majikan tidak berani berbuat yang aneh-aneh karena ada perlindungan dari negara. Berbeda dengan PMI tidak resmi, bisa diperlakukan secara tidak manusiawi," katanya.

Siwa mengatakan pihaknya bakal terus mendorong masyarakat yang ingin bekerja di luar negeri agar melalui prosedur resmi. Dia yakin  halitu bisa mengurangi jumlah pekerja migran yang menjadi korban kekerasan hingga meninggal dunia.
[Gambas:Video CNN] (bmw/bmw)