Tragedi Yogyakarta 1998 dan Inspirasi Aksi #GejayanMemanggil

CNN Indonesia | Senin, 23/09/2019 11:05 WIB
Tragedi Yogyakarta 1998 dan Inspirasi Aksi #GejayanMemanggil Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejak Minggu (22/9) malam jagat maya diramaikan seruan aksi dengan tagar #GejayanMemanggil. Tagar ini menjadi nomor satu terpopuler di Twitter Indonesia.

#GejayanMemanggil merupakan seruan unjuk rasa damai yang digelar hari ini di Jalan Gejayan, Yogyakarta. Protes yang melibatkan bukan saja mahasiswa melainkan juga pelajar dan kelompok masyarakat dilatari rentetan masalah yang dinilai akan memberangus demokrasi juga mengancam kehidupan warga sipil.

Gerakan ini sengaja mengambil nama salah satu jalan, Gejayan, karena pernah menjadi salah satu saksi bisu perlawanan mahasiswa Yogyakarta terhadap rezim Orde Baru, 1998 silam.


"21 tahun lalu, kekuasaan rezim militer Soeharto runtuh setelah 32 tahun berkuasa. Peristiwa tersebut menandakan ada semangat memperjuangkan kembali demokrasi untuk rakyat," demikian keterangan tertulis Aliansi Rakyat Bergerak dalam seruan aksi Gejayan Memanggil, Senin (23/9).

Salah satu momen paling diingat dalam aksi di Gejayan, 1998 silam terjadi pada 8 Mei 1998. Aksi yang menuntut Presiden Soeharto mundur itu memakan korban jiwa yakni seorang mahasiswa bernama Moses Gatotkaca.

Mahasiswa Universitas Sanata Dharma itu ditemukan tewas di ruas jalan sebelah selatan kampus Mrican. Nama Moses diabadikan sebagai nama Jalan. Sementara peristiwanya dikenal sebagai dengan nama Tragedi Yogyakarta.

Selain menewaskan seorang mahasiswa, peristiwa Gejayan juga mengakibatkan ratusan orang terluka. Saat itu mahasiswa menggelar aksi di sejumlah titik. Aksi dimulai selepas salat Jumat. 

Demonstrasi digelar Bundaran Kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, halaman kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta juga kampus IKIP Negeri Yogyakarta.

Tuntutan aksi para mahasiswa ini sama, yakni soal perekonomian yang dilanda krisis moneter, penolakan Soeharto menjadi presiden lagi, protes kenaikan harga dan menginginkan terwujudnya reformasi. 

Pada sore hari sekitar pukul 17.00 WIB, para mahasiswa dan masyarakat sipil hendak bergabung di kampus UGM, namun diadang oleh aparat. Bentrok pun pecah.

Petugas saat itu disebut membubarkan paksa para pengunjuk rasa di daerah pertigaan antara Jalan Gejayan dan Jalan Kolombo, Yogyakarta. Ketegangan berlangsung hingga malam hari.

Peristiwa Gejayan dikenang sebagai salah satu gerakan semangat perlawanan rakyat terhadap rezim Orde Baru. Konteks tersebut menurut Aliansi Rakyat Bergerak, patut dijadikan refleksi untuk peristiwa di Indonesia belakangan ini--mulai dari pengesahan revisi Undang-Undang KPK hingga pelbagai pasal bermasalah di RKUHP.

"Di tahun 2019, Gejayan kembali memanggil jiwa-jiwa yang resah karena kebebasan dan kesejahteraannya terancam oleh pemerintah," tulis salah satu poster dalam seruan aksi damai #GejayanMemanggil.

Aksi ini bakal memprotes langkah pemerintah dan DPR yang disebut memojokkan rakyat melalui rencana mengesahkan RKUHP, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan.

Semua elemen yang turun dalam aksi #GejayanMemanggil juga menyatakan kekecewaan terhadap pengesahan RUU KPK menjadi UU, kriminalisasi aktivis di berbagai sektor dan, ketakseriusan dalam penanganan isu lingkungan.

[Gambas:Video CNN] (ika/wis)