Banyak Mahasiswa Lemas Belum Makan saat Demo 24 September

CNN Indonesia | Rabu, 25/09/2019 14:08 WIB
RS Bhakti Mulia merawat 35 orang korban demo rusuh di depan gedung DPR, sebagian besarnya mengalami lemas akibat belum makan. Mahasiswa menggotong rekannya saat aksi demo di DPR, Jakarta, Selasa (24/9). A (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 35 orang korban demo ricuh di depan gedung DPR sempat dilarikan ke RS Bhakti Mulia, Slipi, Jakarta Barat, sejak Selasa 24 September sore.

Menurut Manager Medis RS Bhakti Mulya Dokter Sally mengatakan hanya ada satu pasien yang dirawat inap, sementara yang lainnya sudah dipulangkan.

"35 orang [korban], ada mahasiswa, ada yang bukan. Satu dirawat inap," tutur Dokter Sally ketika ditemui CNNIndonesia.com pada Rabu (25/9).


Satu korban yang dirawat inap, kata Sally, mengalami nyeri perut hebat. Hal ini diperkirakan karena korban belum makan dari pagi ketika mengikuti aksi.

Dokter Sally juga menambahkan kebanyakan korban yang dibawa dalam keadaan lemas karena belum makan. Banyak juga yang sesak karena terkena gas air mata.

Dari korban yang dirawat jalan, Sally menyebut ada beberapa korban yang mengalami luka robek di bagian kepala, lutut, dan jari. Salah satunya korban yang mengaku hanya melintas di lokasi demo. Korban, kata dia, mengaku sedang berswafoto ketika lemparan batu menghantam kepalanya.

"Sempat saya tawarkan rawat inap karena robeknya cukup besar dan ada pendarahan intensif. Tapi pasien tidak mau karena rumahnya di Bekasi," jelas Dokter Sally.

Menurutnya, korban mulai berdatangan sejak pukul 17.30 WIB sampai 02.30 WIB, dan kebanyakan dibawa oleh ambulans.

Ketika membutuhkan penanganan, pasien dibawa langsung ke ruang IGD. Sedangkan sisanya dibawa ke ruang poli yang difungsikan sebagai ruang IGD darurat. Hal ini dikarenakan jumlah korban yang banyak dan ruang IGD tidak cukup menampung.

Di ruang itu, kata Sally, pasien diberi oksigen, makan, serta minum. Penanganan terhadap pasien pun diberikan secara gratis atas kebijakan rumah sakit serta instruksi dari Kementerian Kesehatan.

(fey/arh)