Kesaksian di Slipi: Dicekik Gas Air Mata dan Amarah Massa

CNN Indonesia | Kamis, 26/09/2019 18:39 WIB
Cerita detail soal bentrok antara pelaku aksi dengan kepolisian di kawasan Slipi pada Rabu malam. Ada gas air mata dan amarah pelaku massa. Suasan malam hari ketika massa pelajar dan aparat bentrok di kawasan Slipi, Jakarta Barat (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Geser ke Slipi sekarang. Cek di sana 'pecah'. Jaga jarak aman," ucap salah satu editor melalui sambungan telepon, Rabu petang (25/9).

Saya sedang menikmati es kopi susu di wilayah SCBD saat permintaan redaksi itu datang. Jam di ponsel menunjukkan pukul 19.13 WIB.

Tak pikir lama, saya pesan ojek online via dua aplikasi ternama. Namun tak ada satupun yang mau mengantar ke arah Slipi, Jakarta Barat.Hampir setengah jam menanti di pos satpam. Akhirnya ada satu pengendara ojek online bersedia mengantar.


Raut mukanya agak ragu sebab peta digital menunjukkan pemblokiran jalan di mana-mana. Namun, seorang satpam yang mengetahui saya wartawan, berusaha meyakinkan sang pengendara.

"Sudah enggak ada lagi demonya. Kalau masih ada, di sini sepi. Ini masih ramai," kata satpam itu seraya memberi isyarat kepada saya.

Setelah itu, kami berangkat menuju Slipi.

Jalanan memang ditutup di sana-sini. Kami baru sampai di kawasan KS Tubun sekitar pukul 21.00 WIB. Saya minta pengendara ojek online agar berhenti di depan Rumah Sakit Pelni demi keamanannya.


Saya lanjut diantar teman ke titik bentrokan antara massa pelajar dengan aparat.

Setengah jam kemudian, saya sampai di kolong Tol Tomang-Semanggi. Massa pelajar sudah menyemut di sekitar Halte Transjakarta Slipi Petamburan.

Sebagian massa, pemuda berusia sekitar 20 tahun, memanjat atap jembatan penyeberangan untuk bisa naik ke atas jalan tol. Mereka lalu bergabung dengan massa lainnya menyerang aparat kepolisian menggunakan batu dan petasan.

Massa di kolong tol merusak rambu lalu lintas dan membakarnya di tengah jalan. Seorang pria dengan penutup wajah membawa batu dan merusak kaca halte bus Trans Jakarta. Seorang lainnya membakar sebagian halte.

Saya melihat itu semua dengan mata telanjang.
Massa pelajar saat bentrok dengan aparat di bilangan Slipi, Jakarta BaratMassa pelajar saat bentrok dengan aparat di bilangan Slipi, Jakarta Barat (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Massa Tergeletak

Di kolong tol, mulanya tidak tidak tampak keberadaan polisi. Aksi massa mulai di luar kendali. Sekitar pukul 22.00 WIB, massa di atas jalan tol berlarian ke arah Tomang.

Puluhan Brimob dilengkapi tongkat dan tameng mulai terlihat di kolong tol. Massa terdesak. Panik membungkus benak mereka.

Berlarian ke sana ke mari tak tentu arah. Tercerai berai.

"Atas! Atas!" teriak salah seorang massa di kolong tol.

Gas air mata ditembakkan dari atas tol. Mendarat di antara kerumunan massa. Orang-orang berlarian tak keruan.


Pandangan saya buram. Perih bukan main. Belum lagi asap yang mencekik saluran pernapasan.

Saya bergegas mencari tempat aman dengan pandangan terbatas dan napas yang sama sekali tidak mengenakkan. Bersama ratusan massa, saya memanjat pagar setinggi 2,5 meter.

Kami berlari ke dalam kompleks perkantoran. Beberapa orang sudah tergeletak. Saya tetap memacu langkah. Mencari pertolongan sembari meladeni telepon dari redaksi.

"Saya pers, saya pers," ucap saya ke salah seorang petugas keamanan gedung. Lalu dia membukakan pintu gerbang menuju Gedung Jakarta Design Center.

Saya mencoba mengatur napas. Perlahan saya berikan laporan di lapangan kepada redaksi via telepon.

Petugas keamanan gedung memberi izin masuk bagi wartawan dan pekerja yang masih terjebak. Namun massa aksi diarahkan keluar lewat pintu ke Jalan KS Tubun.

Saya lanjut melihat keadaan sekitar. Mencari bahan dari lapangan untuk dilaporkan ke redaksi.

Beberapa aparat TNI tampak membantu menenangkan massa. Pengunjuk rasa manut diminta pergi. Mereka lalu berterima kasih kepada anggota militer karena sudah merasa diselamatkan.
Suasana saat bentrokan terjadi antara massa pelajar dengan kepolisian di kawasan Palmerah, Jakarta BaratSuasana saat bentrokan terjadi antara massa pelajar dengan kepolisian di kawasan Palmerah, Jakarta Barat (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
Bagai Dibentak Bapak

Malam masih panjang. Kepolisian terus berusaha mensterilkan jalan tol dengan tembakan-tembakan gas air mata.

Massa juga terus melawan dengan petasan seadanya. Berbagai jenis benda pun turut dilempar ke arah petugas.

Saat jam menunjuk angka 23.35 WIB, jalan tol sudah dikuasai polisi. Personel Brimob diterjunkan menyisir kolong tol dan mendorong massa ke arah Palmerah.

Tak tanggung-tanggung, dua mobil Baraccuda dan satu water canon terlihat mengiringi polisi berseragam hitam. Menyisir jalan.

Satu kendaraan taktis kepolisian sempat masuk ke area perkantoran. Massa di arah KS Tubun melihatnya dan mencoba menerobos pagar untuk melancarkan serangan.
Tak sampai lima menit, kendaraan itu pergi. Pasukan TNI yang berjaga meminta mereka keluar guna mencegah massa semakin liar dan merusak perkantoran.

Tak lama berselang, derap langkah pasukan kepolisian terdengar dari kejauhan. Mereka menyerang massa dan mendorongnya ke arah KS Tubun. Massa terlihat melakukan perlawanan dengan melempar botol kaca.

Saya hanya bisa menyaksikan dari balik pagar. Menjaga jarak dari bentrokan.

"Tak ada berita seharga nyawa," kalimat dari seorang dosen saya itu kembali terlintas dalam benak.

Arah Palmerah pun sempat ramai. Puluhan tembakan gas air mata terdengar hingga hari berganti. Saat satu-dua orang massa terciduk, aparat membawanya ke kolong tol.
Para anggota polisi menyambut mereka dengan teriakan dan pukulan. Dengan nada tinggi dan mata melotot. Layaknya pria dewasa membentak anak muda.

"Disuruh pulang, lu enggak pulang," teriak salah seorang di antaranya.

Slipi mulai membisu sekitar pukul 03.00 WIB. Saya dan beberapa teman jurnalis memanfaatkan situasi untuk pergi. Kami membuntuti konvoi aparat kepolisian yang menyisir ke arah KS Tubun.

Meski semalaman suntuk di Slipi, saya tak lagi menemukan tuntutan yang jelas dari massa aksi. Tak ada lagi kemarahan atas revisi UU KPK dan UU SDA. Tak ada lagi penolakan terhadap RKUHP, revisi UU Pertanahan, dan berbagai revisi undang-undang kontroversial lainnya.

Hanya teriakan revolusi dari beberapa orang. Sebagian lainnya cuma memprovokasi aparat dan bertepuk tangan usai meledakkan petasan.

Udara masih tidak nyaman untuk dihirup akibat gas air mata. 

[Gambas:Video CNN] (dhf/bmw)