Babak Baru Kehidupan Penyintas Gempa Palu

CNN Indonesia | Minggu, 29/09/2019 12:59 WIB
Babak Baru Kehidupan Penyintas Gempa Palu Kusdin, salah satu warga di Desa Marana, Sulawesi Tengah yang menerima bantuan huntara. Bantuan huntara juga diberikan pada ratusan warga lain yang rumahnya rusak ringan dan sedang di Desa Watusampu dan Desa Tipo. (CNN Indonesia/ Priska Sari Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Cucu saya usianya baru 29 hari waktu tertimbun reruntuhan."

Mata Kusdin berkaca-kaca saat menceritakan gempa yang melanda Palu dan sejumlah kabupaten di Sulawesi Tengah setahun lalu. Rumahnya yang berada di pinggir Pantai Marana, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah turut hancur karena gempa hebat saat itu.

Namun bagai keajaiban, cucunya masih hidup meski tertimbun reruntuhan dinding rumah selama tiga hari.


"Ini masih ada bekas operasinya," ujar Kusdin sambil menunjukkan tanda samar bekas operasi di dahi cucu laki-lakinya itu beberapa waktu lalu.

Kusdin tak menyangka gempa besar itu meluluhlantakkan rumahnya. Beruntung, tsunami tak sampai menggulung meski rumahnya berada dekat di pinggir pantai.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan ini menunjukkan bekas reruntuhan bangunan rumahnya saat CNNIndonesia.com mengunjungi Desa Marana. Sisa puing-puing dan kayu masih teronggok sekadarnya.
Kusdin menyebut ada sekitar puluhan orang yang tinggal di pinggir pantai bernasib sama seperti dirinya: kehilangan rumah.

Selama berbulan-bulan Kusdin dan keluarganya tinggal di tenda darurat pascagempa. Kondisi pengap, sesak, dan panas di tenda sungguh tak nyaman untuk ditinggali. Ia bahkan sempat tidur di ladang terbuka tanpa atap milik orang.

"Bantuan tak juga datang waktu itu," katanya.

Kusdin baru dapat bernapas lega ketika Wahana Visi Indonesia (WVI), yayasan sosial kemanusiaan Kristen membangun hunian rumah sementaraa (huntara) untuk keluarganya. Lokasi huntara ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari rumahnya yang telah hancur.

Reruntuhan sisa gempa Palu. (CNN Indonesia/ Priska Sari Pratiwi)
Huntara sederhana ini dibagi Kusdin menjadi dua sekat, satu untuk dapur dan ruangan yang lain untuk tidur. Sementara kamar mandi ada di luar rumah. Ia berbagi tinggal bersama istri, anak dan menantu, serta cucu semata wayangnya.

"Saya bersyukur sekali dapat bantuan ini. Terima kasih, terima kasih," tuturnya.
Bantuan Huntara Palu

Bantuan huntara ini merupakan bagian dari fase pemulihan pascabencana gempa dan tsunami oleh WVI mulai April 2019 hingga 30 September 2020. Di Desa Marana sendiri ada 101 rumah yang akan dibangun.

Selain rumah Kusdin, WVI juga memberi bantuan perbaikan rumah yang rusak ringan dan sedang akibat gempa di Desa Watusampu dan Desa Tipo, Palu. Untuk Desa Watusampu ada 39 rumah yang mendapat perbaikan. Sementara di Desa Tipo ada sekitar 90 rumah.

Uniknya, bantuan perbaikan rumah ini harus menggunakan voucher untuk membeli material bangunan yang akan digunakan.
[Gambas:Video CNN]

Bantuan untuk rumah yang rusak ringan adalah sebesar Rp1,5 sampai Rp3 juta. Sementara untuk rumah yang rusak sedang sebesar Rp3 sampai Rp6 juta. Voucher itu dibuat dalam bentuk kertas dengan nominal jumlah mulai dari Rp50 ribu hingga Rp100 ribu dengan keterangan 'perbaikan dan penguatan rumah tinggal'.

"Voucher ini bisa dipakai sesuai kebutuhan," kata Ika, pendamping dari WVI.

Warga yang memperoleh bantuan pun tak bisa sembarangan. Bantuan ini diprioritaskan bagi mereka yang lanjut usia, berstatus janda/duda, rumah tidak bertingkat, dan penghasilan di bawah Upah Minimum Regional (UMR).

(psp/ain)