Menristek Minta Polisi Usut Kasus 2 Mahasiswa Tewas Saat Demo

CNN Indonesia | Selasa, 01/10/2019 05:52 WIB
Menristek Minta Polisi Usut Kasus 2 Mahasiswa Tewas Saat Demo Menristekdikti Mohamad Nasri minta Kepolisian lekas mengusut kasus di Kendari yang mengakibatkan 2 mahasiswa meninggal dunia(CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir meminta Kepolisian agar lekas menyelesaikan kasus di Kendari, Sulawesi Tenggara yang mengakibatkan dua mahasiswa meninggal dunia. Dia berharap penyelesaian dilakukan melalui jalur hukum.

Mahasiswa Universitas Halu Oleo, Immawan Randi dan Yusuf Kardawi meninggal dunia saat ikut dalam unjuk rasa di depan Kantor DPRD Sulawesi Tenggara pada Kamis lalu (26/9).

"Saya sudah komunikasi (dengan polisi), saya kemarin, tolong diselesaikan dengan jalur hukum yang benar," ucapnya di gedung Kemenristekdikti, Jakarta, Senin (30/9).


Nasir juga mengaku telah meminta rektor universitas yang bersangkutan untuk melapor padanya. Ia mendorong agar pihak yang berwenang segera menemukan pelaku yang menyebabkan dua mahasiswa meninggal dunia.

"Harus menyelidiki mengapa itu terjadi kematian pada seseorang pada mahasiswa dan masyarakat, lah ini penyebabnya apa? Kematian kan ini kalau kematian itu siapa yang salah? itu harus kita cari," tutur Nasir.

Aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Kantor DPRD Sulawesi Tenggara di Kota Kendari mengakibatkan dua mahasiswa meninggal dunia. Mereka adalah Immawan Randi dan Muhammad Yusuf Kardawi. Keduanya merupakan mahasiswa Universitas Halu Oleo.

Mereka bersama mahasiswa lainnya ketika unjuk rasa dilakukan di depan Kantor DPRD Sulawesi Tenggara pada Kamis lalu (26/9).
Saat itu, Randi tertembak di dada sebelah kanan. Dia lantas dibawa ke RS Korem. Namun, dia meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit.

Hasil autopsi menyatakan Randi tewas tertembak. Namun belum diketahui apakah akibat dari peluru tajam atau bukan.

Muhammad Yusuf Kardawi juga bernasib nahas. Dia mengalami luka berat di bagian kepala. Sempat dirawat intensif di rumah sakit, akan tetapi nyawanya tidak bisa diselamatkan.

Mabes Polri lalu mengirim dua tim ke Kendari untuk menyelidiki kasus tersebut.
Unjuk rasa di depan kantor DPRD Sulawesi Tenggara berujung ricuh dan mengakibatkan dua mahasiswa meninggalUnjuk rasa di depan kantor DPRD Sulawesi Tenggara berujung ricuh dan mengakibatkan dua mahasiswa meninggal (ANTARA FOTO/Jojon)
Dua tim yang dikirim antara lain Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri yang dipimpin oleh Brigjen Hendro Pandowo dan Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) yang dipimpin oleh Brigjen Dedi Gabril. Selain itu Wakapolri Komjen Ari Dono juga turut bertolak ke Kendari.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan tim yang dikirim ke Kendari, Sulawesi Tenggara untuk sudah mulai bekerja. Dia berjanji hasil yang diperoleh nanti akan disampaikan kepada publik.
"Tim sudah bekerja, nanti hasil kerja akan segera mungkin disampaikan secara terbuka juga. Tidak ada yang kita tutup-tutupi," tuturnya di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (30/9).

Kapolda Sulawesi Tenggara Brigjen Merdisyam juga mengatakan pihaknya sudah menerima informasi bahwa proses penyelidikan sudah dijalankan.

"Seperti yang disampaikan, Kapolri sudah membentuk satu tim ya. Dan sudah disampaikan proses saat ini sudah sampai penyelidikan. Dan itu semua di bawah kendali Polri," tutur Merdi.

Merdi menyampaikan pihak Kepolisian mengedepankan asas praduga tak bersalah. Nantinya, juga akan ada tindakan tegas yang diambil jika memang ada anggota yang terbukti bersalah.

"Paling penting bagaimana kita berupaya bisa mengungkapkan permasalahan ini secara jelas sehingga masyarakat akan [menerima informasi yang] jelas," tambahnya.

Terkait pengawalan aksi demonstrasi yang dilakukan di beberapa wilayah Indonesia pada hari ini, termasuk Sulawesi Tenggara, Merdi mengatakan Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah memerintahkan agar peluru karet maupun tajam tak digunakan.

"Sudah menjadi ketegasan dari Pak Kapolri dalam menanggapi demo. Jangankan peluru tajam, peluru karet pun tidak diperkenankan," ujar Merdi.
[Gambas:Video CNN] (ani/bmw)