Kisah Pengepul Beli Harta Karun Sriwijaya Puluhan Juta Rupiah

CNN Indonesia | Jumat, 11/10/2019 09:06 WIB
Selain pemburu harta karun, banyak pengepul muncul untuk menampung barang-barang perhiasan sisa peninggalan kerajaan Sriwijaya di wilayah Cengal, Kabupaten OKI. Beberapa harta karun Sriwijaya yang telah berada di tangan penjual emas. (CNN Indonesia/Hafidz Trijatnika)
Ogan Komering Ilir, CNN Indonesia -- Para pemburu harta karun yang diduga merupakan peninggalan masa Kerajaan Sriwijaya di Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan tidak akan bisa mengeruk keuntungan, kecuali mereka tahu kepada siapa bisa menjual barang temuannya. Rata-rata warga pencari harta karun ini akan menjualnya kepada pengepul.

Levi Lestari (30), seorang pedagang emas, menjadi satu dari segelintir pengepul yang menerima barang-barang temuan para pemburu.

Saat ditemui CNNIndonesia.com di toko emas miliknya di Jalan Pasar Baru, Desa Sungai Jeruju, Kecamatan Cengal, ia mengaku sudah sejak 2015 lalu membeli barang-barang berbahan emas dari para pemburu harta karun. Ia mengaku harta karun pertama yang dibelinya adalah sebuah perhiasan emas berbentuk cincin.


"Dari pertama dapat itu, pas tahu mereka dapatnya dari melimbang, saya simpan. Banyak dari hasil mereka yang bagus-bagus saya koleksi. Saya enggak tahu itu gimana mereka nyarinya, saya cuma tahu belinya saja," ujar Levi, Selasa (8/10).

Melimbang adalah cara mencari emas yang hanyut di sungai dengan cara mencucinya dalam sebuah ayak atau nyiru.

Levi mengatakan barang temuan berbahan emas dari warga yang melimbang rata-rata memiliki kadar karat 18-22. Kadar kemurnian emas paling tinggi yang pernah ia cek, aku Levi, mencapai 95 persen. Levi menjelaskan dirinya membeli emas di kisaran harga Rp400-900 ribu per gram tergantung kadarnya.

Saat ini dirinya mengoleksi 14 perhiasan emas berbentuk cincin berbagai motif. Ada 3 perhiasan emas yang belum bisa diidentifikasikan jenisnya. Namun, dari bentuknya, Levi menganggap langka karena jarang ditemui.

Cerita Pembeli Harta Karun Sriwijaya Puluhan Juta RupiahLevi Lestari, seorang pedagang emas, menjadi satu dari segelintir pengepul yang menerima barang-barang temuan para pemburu. (CNN Indonesia/Hafidz)
Tak hanya yang berbentuk perhiasan, Levi pun mengaku membeli pula serpihan berbentuk serbuk dan pecahan lempengan berbahan emas seberat 43 gram yang dihargainya Rp28 juta.

Bukan hanya yang berbahan emas, Levi pun menerima barang temuan pemburu harta karun Sriwijaya yang berupa manik-manik, terutama berukuran besar dan langka.

"Kalau manik-manik mata setan (motif) harga jualnya Rp4-5 juta. Sempat ada orang Palembang nawar koleksi saya. Belum saya jual karena belum pas harganya. Yang ada motif-motifnya biasanya kita hargai lebih mahal lagi soalnya langka," ujar dia.

Levi pun mengaku dirinya telah didatangi tim gabungan dari Disbudpar OKI, Balai Arkeologi Sumsel, Polda Sumsel, serta Balai Pelestarian Cagar Budaya. Mereka mengatakan peninggalan Sriwijaya tersebut bernilai sejarah tinggi. Dirinya mengaku akan menjaga koleksi tersebut dengan baik.

"Tapi kalau ada yang [menawar] harganya cocok, ya dilepas," ujar Levi seraya tertawa.


[Gambas:Video CNN]
Terpisah, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar OKI Nila Maryati mengatakan wilayahnya belum memiliki tim ahli cagar budaya (TACB). Akibatnya, pelestarian lokasi harta karun yang diduga merupakan peninggalan Sriwijaya di Desa Pelimbangan, Kecamatan Cengal, Kabupaten OKI bebas diburu masyarakat.

Sementara itu, Kepala Balai Arkeologi Sumsel Budi Wiyana berujar, tidak adanya TACB di Kabupaten OKI bisa disiasati dengan berkoordinasi dengan pihak lainnya seperti Disbudpar Sumsel, Balar, serta Balai Pemeliharaan Cagar Budaya. Sehingga, kata Budi, ketidakadaan TACB di kabupaten tidak menjadi alasan untuk menentukan sebuah benda atau bangunan yang bisa menjadi cagar budaya, termasuk lokasi perburuan harta karun Sriwijaya di Cengal.

(idz/kid)