Melihat Tempat Rehabilitasi Anak Terduga Pelaku Terorisme

CNN Indonesia | Jumat, 18/10/2019 08:11 WIB
Melihat Tempat Rehabilitasi Anak Terduga Pelaku Terorisme Tempat rehabilitasi anak para terduga pelaku tindak pidana terorisme di Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang bocah perempuan terlihat dari celah pintu Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Handayani yang sedikit terbuka, Rabu (16/10). Seorang petugas di salah satu rumah perlindungan pemerintah di Bambu Apus, Jakarta Timur tersebut, buru-buru menutupnya agar tak lagi terlihat dari luar.

Bocah itu adalah R (12), anak dari Syahrial Alamsyah yang diduga melakukan penusukan terhadap Menkopolhukam Wiranto di Kecamatan Menes, Pandeglang, Banten pada Kamis (11/10).

"Tidak boleh [dilihat] ya, sedang diterapi," kata sang petugas yang menutup pintu kepada CNNIndonesia.com.


Ruangan itu adalah satu dari empat kamar di Laboratorium Terapi Psikososial milik Kementerian Sosial. Tampak ruang terapi tersebut berbentuk seperti kamar berukuran sekitar 3x4 meter dengan kaca pembatas satu arah (one way mirror), ber-AC, ada kursi untuk duduk bercakap, dan dilengkapi kamera pengawas (CCTV).

Kaca pembatas tersebut memungkinkan orang di ruang observasi bisa memerhatikan apapun di ruang terapi. Ruang observasi juga dilengkapi monitor hasil tangkapan CCTV.

"Ini kacanya bisa terlihat dari luar, jadi kalau ada yang mau mengamati bisa dari ruang observasi," ujar salah satu pekerja sosial saat ruang terapi sedang kosong.

Dua ruang lain adalah ruang evaluasi (assesstment) dan ruang konsultasi. Dua ruangan tersebut lebih mirip kamar bermain--dengan kursi dan karpet warna-warni, juga dilengkapi buku dan beberapa jenis mainan.

Total ada lebih dari 100 anak penghuni rumah perlindungan pemerintah tersebut, 13 anak di antaranya adalah korban radikalisme--termasuk R.

Kepala Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) Handayani, Neneng Heryani menuturkan dari 13 anak korban radikalisme itu, tujuh di antaranya merupakan anak korban teror bom di Surabaya dan Sidoarjo, sedangkan sisanya korban untuk kasus lain.

Rabu siang terlihat ada beberapa bocah tampak berkegiatan di tiga ruangan--ada yang ngobrol dengan pendamping, ada pula yang membaca buku.

Tapi, jurnalis tak boleh mengajak mereka bicara. Lebih-lebih, karena di situ ada penghuni baru yakni bocah berinisial R.

Cerita Anak Penusuk Wiranto, Penghuni Baru Rumah PerlindunganMenko Polhukam Wiranto diserang orang tak dikenal dalam kunjungannya di Kecamatan Menes, Pandeglang, Banten, 10 Oktober 2019. (ANTARA FOTO/Dok Polres Pandeglang)
Belum sepekan R jadi penghuni rumah perlindungan. Salah satu petugas di sana menceritakan kepada CNNIndonesia.com, malam-malam bocah perempuan itu diboyong tim dari Densus 88 Antiteror Mabes Polri dari Pandeglang ke rumah perlindungan di Jakarta.

Rabu (16/10) siang itu R sedang di ruang terapi bersama pendamping dan psikolog.

Direktur Rehabilitasi Kementerian Sosial Edi Suharto yang mengunjungi rumah perlindungan memantau R dari ruang observasi didampingi Neneng Heryani. Saat terapi akan dimulai, pintu ditutup tamu lain di Laboratorium Terapi Psikososial tak diperbolehkan ikut serta memantau proses yang tengah berlangsung.

"Ini kan karena baru ya, jadi baru beberapa hari yang lalu [dibawa ke rumah perlindungan]. Kami masih assesstment dan pemeriksaan psikolog. Medis juga, kalau secara medis tidak bermasalah ya. Untuk kasus [korban radikalisme] seperti ini kan kami ada terapi khusus," jelas Neneng Heryani saat ditemui CNNIndonesia.com di kantornya, selang beberapa jam setelah proses terapi.

Menurut pendamping, R mengaku berada di Alun-alun Menes saat insiden penyerangan terjadi. Bocah usia 12 itu tahu bapaknya sedang ditahan polisi. Tapi, ia tak mengerti detail sebabnya.

"Kalau ditanya, dia bilang, 'karena jatuhin Bapak Wiranto'," kata seorang pendamping menirukan.

Pendamping juga mengatakan, bocah yang menempuh pendidikan pesantren ini tampak ceria saja ketika berada di rumah perlindungan. Bila dibandingkan dengan anak korban radikalisme lain, R cenderung lebih mudah bergaul.

"Sudah mau bicara, didekati mau. Cepat kok. Sosialisasi juga mau," ungkap Neneng Heryani.

Pendamping lain mengutarakan, R memang terlihat senang saat bermain, selayaknya anak-anak lainnya. Tapi setiap kali disinggung soal keluarga, tersirat kesedihan di raut sang bocah.

"Dia senang kalau lagi anak teman. Tapi kalau nanya apa yang dirasakan, ya sedih. Kangen sama bapaknya, kangen sama ibunya di Medan. Sedih bapaknya ditahan polisi," tutur salah satu pendamping anak di rumah perlindungan.

Neneng Heryani mengatakan hingga enam bulan ke depan R akan menjalani sejumlah assesstment dan terapi untuk memulihkan trauma sekaligus mengukur tingkat radikalisme. Ia mengatakan salah satu tahapan yang nanti dilakukan adalah tes untuk menguji sikap anak terhadap negara dan pemerintah.

"Kalau yang ini, kami belum sampai ke arah situ (NKRI). Soal mau tidak menyanyikan lagu Indonesia Raya, salam, upacara dan lain-lain, itu nanti. Karena sekarang sedang pemeriksaan psikolog," kata Neneng.

[Gambas:Video CNN]
Kemarin, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menyatakan saat akan menyerang Wiranto, Syahrial memberi pisau kepada anaknya untuk juga melakukan penyerangan.

Namun di tengah penyerangan, kata dia, anaknya memutuskan untuk tidak ikut, padahal, lanjut Dedi, pisau tersebut telah disiapkan dan sudah dipegang oleh anak dan istri Syahrial.

"Yang berani Abu Rara dan istrinya. Saat ini (pisaunya) sedang diperiksa labfor," ujar Dedi.

Dengan ajakan itu, Dedi memastikan Syahrial akan mendapat hukuman yang lebih berat. Ia dikenakan pasal untuk mempengaruhi dan mengajak anak di bawah umur melakukan aksi terorisme menusuk Menkopolhukam Wiranto.

(ika/kid)