Ia beranggapan, seharusnya kader-kader dari partai berlambangkan pohon beringin tersebut dapat secara bebas memilih kandidat untuk menjadi ketua umum Golkar periode selanjutnya.
"Saya termasuk yang kurang setuju kepada aklamasi. Biarkan saja siapa memilih calonnya dan bebas saja. Saya yang kurang setuju. Tapi kan saya tidak bisa menentang," kata Fahmi kepada wartawan saat ditemui usai sebuah diskusi yang diselenggarakan di Jenggala Center, Jakarta, Selasa (19/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, selama diskusi, Fahmi meyakini bahwa konflik yang kini semakin mencuat di dalam internal partai yang pernah menjadi akomodasi politik Soeharto dulu itu akan selesai ketika munas Golkar berakhir.
[Gambas:Video CNN]
Ia pun menegaskan, bahwa munculnya kubu dan polarisasi dalam partai tersebut tidak akan berakhir pada pembentukan partai politik baru.
"Jangan khawatir akan ada partai baru, saya yakin tidak ada," jelas Fahmi.
"Biaya membuat partai juga tinggi, tindak mungkin lah muncul partai baru. Dengan makin matangnya kader Golkar, kita akan bisa mengatasi masalah," tambah dia.
Diketahui, rivalitas antara dua calon kandidat yang digadang akan maju sebagai Ketum Golkar, yakni Airlangga Hartanto dan Bambang Soesatyo makin memanas jelang Munas. Mereka berdua kerap melakukan manuver-manuver politik guna meraih simpati para pengurus Golkar di daerah-daerah.
Sementara itu, Golkar sendiri akan menyelenggarakan munas pada 3 hingga 6 Desember 2019. Dalam Rapimnas yang sudah digelar beberapa hari lalu, disepakati juga mengenai pemberian kesempata pada kader muda Golkar untuk tampil di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 mendatang. (mjo/evn)