'Mas Menteri' Nadiem Makarim dan Harapan Para Orang Tua Didik

CNN Indonesia | Jumat, 25/10/2019 08:28 WIB
'Mas Menteri' Nadiem Makarim dan Harapan Para Orang Tua Didik Menteri Pemdidikan, Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi Indonesia, Nadiem Anwar Makarim usai serah terima jabatan dari Muhadjir Effendy di Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nadiem Makarim menjadi menteri yang meminta dipanggil dengan sapaan 'Mas' kepada anak-anak buahnya di Kemendikbud. Sebelumnya ada mantan Mendikbud Anies Baswedan yang meminta dipanggil seperti itu sebelumnya.

Salah seorang pegawai di lingkungan Kemendikbud bercerita saat itu Anies yang kini Gubernur DKI Jakarta tersebut meminta jajarannya tak lagi memanggil dengan "Pak Menteri".

"Kalau sama pegawai diminta panggil Mas Menteri saja," cerita resepsionis yang sudah bertugas sejak Mendikbud dijabat Muhammad Nuh.


Kini, Nadiem pun begitu. Mantan CEO Gojek ini adalah menteri paling muda di jajaran kabinet Jokowi. Usia Nadiem tahun ini baru menginjak 35 tahun.

"Pagi-pagi waktu pengumuman menteri itu, pegawai di sini ada yang bilang, menteri kita katanya Nadiem. Langsung semua pegawai di komputernya masing-masing lihat pelantikan," tutur pegawai di Kemendikbud.
Sejumlah harapan diungkapkan para orang tua. Yudi, bapak dari dua bocah yang masih SD ini menginginkan Nadiem menyelaraskan pengajaran dengan perkembangan teknologi-seperti yang dilakukan saat membangun aplikasi ojek online Gojek.

"Mendikbud baru harus bisa kasih perubahan sistem pendidikan. Jangan bawa buku tebel," kata Yudi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (24/10).

Ia juga menginginkan tak ada lagi pungutan-pungutan dari sekolah. "Bebas iuran, di sekolah anakku masih ada iuran meski namanya bukan SPP," kata dia lagi. Saban bulan ia harus menyisihkan Rp700.000 untuk sekolah satu anaknya.

Senada disampaikan orang tua lain, Aisyah, mengenai biaya pendidikan. "Terutama sekolah swasta yang naik terus entah berdasarkan apa," ungkap dia.
Ia juga berharap Nadiem mampu menyusun kurikulum yang lebih relevan. Misalnya, dengan memperbanyak topik digital. Dia menyebut anak zaman now mulai dari lahir sudah hidup bersama teknologi digital.

Keinginan serupa juga diungkapkan Nova Wulandari yang mendambakan kurikulum yang progresif dan tidak konvensional. Sehingga perkembangan putrinya yang kini duduk di bangku SMP tak tertinggal dengan anak-anak di negara lain.

"Selain itu, perlu pengembangan skill untuk siswa-siswa, mulai diberikan sedari dini. Jadi setelah SMA tahu akan ke mana mereka mengembangkan karier," Nova menambahkan.

Sehari setelah serah terima jabatan dengan menteri sebelumnya Muhadjir Effendy, Nadiem Makarim maraton menggelar rapat dan tak melayani pertemuan atau wawancara dengan wartawan.
[Gambas:Video CNN]

"Arahan Pak Nadiem, untuk sementara tidak bisa bertemu dan wawancara dulu," kata seorang petugas di depan ruangan menteri.

Kamis (24/10) pagi, Nadiem menghadiri sidang kabinet di Istana Negara. Siang hingga sore ia menggelar rapat internal dengan para pejabat eselon satu. Dalam pertemuan itu selain Direktur Jenderal di Kemendikbud, hadir pula sejumlah Dirjen Pendidikan Tinggi.

Setelah pelantikan di Istana Negara, Nadiem sempat menyampaikan bahwa dirinya tak memiliki program 100 hari kerja. Sebab pada hari-hari itu ia mengaku bakal lebih banyak mendengarkan dari para pendahulu dan berdiskusi dengan para pakar. (ika/ain)