KNKT Akan Umumkan Investigasi Kecelakaan Lion Air JT610

CNN Indonesia | Jumat, 25/10/2019 09:38 WIB
KNKT dijadwalkan membeberkan hasil investigasi dan penelitian kecelakaan pesawat Boeing 737 Max dengan registrasi PK-LQP, Jumat (25/10) siang. Ketua Komite Nasional Keselamatan Trasportasi, Soerjanto Tjahjono. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dijadwalkan membeberkan hasil investigasi dan penelitian kecelakaan pesawat Boeing 737 Max dengan registrasi PK-LQP milik Lion Air, Jumat (25/10).

Pesawat dengan nomor penerbangan JT610 ini diketahui jatuh di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, 29 Oktober 2018.

Tim investigasi rencananya siang nanti bakal mengungkap laporan akhir dan sebab kecelakaan penerbangan Lion Air tujuan Jakarta-Pangkal Pinang tersebut.


"Iya nanti siang jam 2 habis Jumatan, disampaikan langsung oleh Pak Ketua KNKT, ada Kepala Sub (komite investigasi) Penerbangan dan investigator juga," kata pihak KNKT saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Jumat (25/10).

Sebelumnya di tengah proses investigasi KNKT, The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan penyebab jatuhnya Pesawat Lion Air JT 610 Boeing 737 Max 8.

Media massa yang berbasis di New York, Amerika Serikat itu menyebut penyelidik Indonesia mendaftar sekitar 100 faktor penyebab kecelakaan. Salah satu penyebab pesawat jatuh adalah karena kesalahan desain.

Selain itu, pengawasan pesawat turut berkontribusi pada kecelakaan yang menewaskan 189 penumpang serta awak tersebut. Penyebab lain adalah kesalahan pilot dan masalah pemeliharaan.

Saat itu, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengakui memang telah dihubungi WSJ, tapi ia memilih untuk tak berkomentar atas temuan tersebut. Ia pun meminta WSJ menunggu hasil akhir laporan lembaganya.

[Gambas:Video CNN]
Penyelidikan sementara yang dirilis KNKT pada pengujung 2018 menyebut, menjelang terbang pesawat itu telah mengalami stick shaker atau kemudi pada pilot bergetar. Hal ini merupakan indikasi bahwa pesawat akan mengalami kehilangan daya angkat.

Sedangkan sehari sebelum peristiwa nahas 29 Oktober 2018, pesawat yang sama terbang dari Bali menuju Jakarta. Kondisi pesawat mengalami kendala serupa seperti yang terjadi saat penerbangan Jakarta ke Pangkal Pinang.

(ika/kid)