Sumsel Perpanjang Status Tanggap Darurat Karhutla

CNN Indonesia | Minggu, 27/10/2019 08:11 WIB
Sumsel Perpanjang Status Tanggap Darurat Karhutla Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hafidz).
Kendari, CNN Indonesia -- Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) Sumatera Selatan memperpanjang status tanggap darurat dari sebelumnya selesai pada 31 Oktober menjadi 10 November 2019. Perpanjangan status dilakukan karena menjelang akhir Oktober titik api dan luasan lahan terbakar semakin parah.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan Iriansyah mengatakan, kondisi Sumsel saat ini berbeda dengan 5 provinsi lain yang sama-sama berjibaku dengan karhutla. Wilayah lain sudah berangsur normal namun Sumsel peningkatan titik api masih terjadi.

Mundurnya perkiraan turunnya hujan yang sebelumnya pada dasarian I Oktober menjadi dasarian III pun menjadi salah satu alasan perpanjangan status tanggap darurat.


"Dengan perpanjangan masa tanggap darurat artinya bantuan peralatan dan personel dari pusat pun masih ada di sini. Belum akan ditarik lagi ke pusat. Supaya penanggulangan karhutla masih bisa dilakukan hingga kemarau selesai," kata dia.

Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan BPBD Sumsel Ansori menambahkan, karhutla yang terjadi pada 2019 di Sumsel lebih parah daripada masa 2016-2018 namun masih di bawah daripada 2015. Meskipun pihaknya belum mengevaluasi lebih detil, namun pihaknya mengakui bahwa karhutla 2019 paling parah sejak 3 tahun terakhir.

Perbandingan year on year pada 4 bulan puncak karhutla, yakni Pada Juli 2015 terdapat 656 titik api sedangkan 2019 terdapat 256 titik. Pada Agustus, 2015 terdapat 1.800 titik api sedangkan pada 2019 terdapat 1.308 titik. Lalu pada September 2015 terdapat 11.285 dibandingkan dengan 2019 yakni 6.829, serta di Oktober 2015 muncul 11.584 titik api dibandingkan dengan 2019 dengan 5.242 titik api.

"Selain personel dan peralatan, kita juga minta anggaran untuk diperpanjang karena sampai 31 Oktober anggaran kita habis. Padahal karhutla masih terjadi," ujar dia.

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumsel Nuga Putrantijo berujar potensi hujan akan berkurang dipengaruhi badai tropis Bualoi yang pusat tekanannya terjadi di Samudera Hindia. Hal itu mengakibatkan potensi asap akan terus terjadi.

[Gambas:Video CNN]
Seiring melemahnya Badai Tropis Bualoi akan berpotensi munculnya Borneo Vorteks (Sirkulasi Kalimantan) yang menyebabkan masuknya massa udara dari Laut Cina Selatan dan Laut Jawa ke wilayah Sumsel.

"Ada kemunduran masa musim hujan yang tadinya diprediksi terjadi di Dasarian I mundur ke Dasarian III Oktober. Prediksinya hujan baru terjadi di akhir Oktober sekitar tanggal 27-30 Oktober atau di Dasarian I November sekitar tanggal 1 November. Potensi awan di tanggal itu harus dimanfaatkan untuk hujan buatan," ujarnya.

(idz)