"Demokrasi kita sudah maju. Enggak ada mengekang. Masing-masing yang saya lihat di Surabaya, di kampus masing-masing. Jangan dianalogikan ini kebijakan negara. Berbeda loh," kata Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (30/10).
Moeldoko menyatakan kebebasan berpendapat dan berekspresi mahasiswa sudah menjadi tradisi akademik yang dikembangkan dari waktu ke waktu. Menurutnya, jika ada sebuah kampus yang melarang, maka itu merupakan kebijakan dari pihak rektorat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Alergi Demonstrasi di Rezim Jokowi |
Pemantauan YLBHI dilakukan saat gelombang aksi #ReformasiDikorupsi yang masif dilakukan oleh mahasiswa di Indonesia. Modusnya beragam mulai dari imbauan pelarangan, ancaman akan dikeluarkan dari kampus atau sekolah hingga pelaksanaan ujian secara mendadak yang bersamaan dengan tanggal aksi.
Ketua YLBHI Asfinawati menyebut kondisi tersebut menunjukkan kegentingan dunia pendidikan.
"Tidak heran banyak intoleransi, konservatisme sebab dunia pendidikan tidak membebaskan orang berpikir. Akibatnya mudah dimasuki pikiran-pikiran konservatif, termasuk konservatisme agama," jelas Asfinawati saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (29/10).
Asfinawati mengungkapkan kondisi hampir mirip pernah ditemui ketika reformasi mulai mengemuka. Hanya saja, situasi pengekangan aksi unjuk rasa dilakukan tidak terstruktur.
"Yang terstruktur seperti ini mengingatkan kita akan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) zaman Orba," kata Asfinawati. (fra/ain)