BNPB: Bencana Karhutla Paling Banyak Dilaporkan Oktober

CNN Indonesia | Jumat, 01/11/2019 00:15 WIB
BNPB: Bencana Karhutla Paling Banyak Dilaporkan Oktober BNPB, PVMBG, BMKG, LIPI, dan BRG menggelar konferensi pers bersama terkait kebencanaan Indonesia, Jakarta, Kamis (31/10). (CNNIndonesia/Nurika Manan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) adalah jenis bencana yang paling banyak dilaporkan pada Oktober tahun ini. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo memaparkan kejadiannya meliputi wilayah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

"Hari ini status siaga daruratnya untuk Riau selesai, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah juga sudah selesai. Yang lainnya yang masih sisa adalah [status siaga darurat] Kalimantan Barat sampai 31 Desember 2019, kemudian Jambi dan Sumatera Selatan sampai 10 November," terang Agus dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Kamis (31/10).

Agus menambahkan operasi pemadaman karhutla masih berlanjut di tiga daerah yang masih berstatus siaga darurat antara lain dengan pemadaman darat, pemadaman udara dan Teknologi Modifikasi Cuaca. Untuk teknologi modifikasi cuaca masih berlangsung di Sumatra, sementara daerah lain sudah mengandalkan musim hujan tiba.


"Posisinya sekarang masih ada satu pesawat di Sumatera Selatan di Palembang," tutur dia.

Saat ini menurut Agus, BNPB bersama Bank Dunia tengah dalam proses penghitungan kerugian finansial akibat karhutla.

"Kalau tahun 2015 sebanyak Rp221 triliun, untuk tahun ini kami sedang proses menghitung," ujar Agus.

Dari total 3.089 kejadian bencana sepanjang Januari-Oktober tahun ini sebanyak 653 di antaranya adalah kebakaran hutan dan lahan. Karhutla menduduki posisi ketiga setelah bencana puting beliung sebanyak 964 kejadian dan banjir 73 kejadian. Namun, untuk total kejadian bencana sepanjang Januari hingga Oktober 2019 mayoritas yang terjadi merupakan bencana hidrometeorologi.

"Lebih dari 98 persen," kata Agus.

Sepanjang 10 bulan ini akibat ribuan bencana tersebut BNPB mencatat terdapat 564 orang meninggal dan 109 orang hilang. Sementara 3.272 orang luka-luka, 5.932.700 orang mengungsi, 61.565 unit rumah rusak--dengan rincian 14.635 rusak berat, 11.715 rusak sedang, 35.215 rusak ringan--, dan 1.879 fasilitas umum rusak.

Meskipun jumlah kejadian bencana tercatat naik 10,9 persen dibanding tahun 2018 sebanyak 2.785 bencana, namun jumlah korban meninggal diklaim turun. Pada tahun lalu korban meninggal mencapai 4.648 orang sementara tahun ini sebanyak 564 jiwa.

"Yang masih banyak itu Jawa Tengah, lalu Jawa . Yang merah itu yang paling banyak . Kalau kabupaten/kota itu nomor satu Kabupaten Bogor, Kota Semarang ini adalah yang paling banyak kejadian bencananya," kata Agus.

Gempa Ambon Paling Banyak Timbulkan Gempa Susulan

Selain itu, dalam jumpa pers tersebut, diungkapkan bahwa gempa Ambon pada 26 September lalu merupakan yang paling banyak menimbulkan gempa susulan dibanding gempa lain.

Kepala Subdirektorat Peringatan Dini Direktorat Kesiapsiagaan BNPB Abdul Muhari membeberkan hanya dalam waktu tiga setengah pekan saja gempa susulan tercatat lebih 1.800 kali.

"Meskipun gempa 26 September lalu itu cuma magnitudo 6,5 tetapi setelah tanggal 26 itu sampai sekarang tiga setengah minggu itu ada 1.897 kali gempa susulan," papar Abdul Muhari. "Kalau dibandingkan dengan gempa Lombok pada 2018, selama tiga bulan setelah gempa, itu gempa susulannya 600an."

Tingginya intensitas gempa susulan tersebut membuat sebagaian masyarakat panik dan memilih untuk mengungsi. Kepanikan itu menurut Abdul diperparah dengan munculnya berita bohong atau hoaks. Walhasil jumlah pengungsi pun membludak melebihi perkiraan warga terdampak gempa.

"Kerusakan totalnya 11 ribu rumah. Kalau kita umpamakan satu rumah dihuni 4 orang, maka seharusnya korban terdampak ada di kisaran 50 ribu orang. Tapi kalau kita lihat, total pengungsi 103 ribu jiwa lebih," kata dia.

Fakta itu menunjukkan separuh lebih pengungsi atau sekitar 50 ribu orang sebenarnya tak termasuk korban terdampak namun ikut mengungsi. Fenomena tersebut menurut dia memperlihatkan bahwa peningkatan jumlah korban pengungsi lebih masif disebabkan dampak dimensi sosial ketimbang kerusakan fisik. Demi menandingi penyebaran hoaks tersebut, sambung Abdul Muhari, akhirnya menjadi tantangan bagi BNPB untuk mampu menyajikan data tandingan yang lebih saintifik.

"BNPB bekerja sama dengan ITB, BMKG dan pemerintah daerah dengan memasang 11 seismograf di Maluku untuk pengamatan lebih detail," tutur dia.

[Gambas:Video CNN]
Alat atau sensor pengukur gempa itu ditempatkan beberapa di antaranya di Ambon, Pulau Haruku, Pulau Saparua dan Pulau Seram. Langkah ini bertujuan memetakan lebih detail tren dan karakteristik gempa susulan. Ia mengatakan terdapat kompleksitas patahan sesar antara Seram dan Ambon. Abdul pun mengakui ada beberapa garis sesar yang belum diketahui. Karena itu masih diperlukan penelitian dan pemantauan lebih lanjut untuk memetakan pola sesar di Maluku.

BNPB mencatat setidaknya 41 korban meninggal dan 266 korban luka-luka akibat gempa Maluku September lalu. Sementara kerusakan bangunan mencapai lebih dari 11 ribu unit dengan rincian 2.712 rusak berat, 3.317 rusak sedang dan 6.108 rusak ringan.

Penghitungan BNPB menunjukkan kerugian material akibat gempa mencapai Rp170 miliar untuk sektor perumahan serta Rp376 miliar untuk fasilitas umum dan fasilitas sosial. Sementara gempa susulan setelah tiga setengah pekan gempa utama, tercatat total ada 1.897 kali dan 214 kali dirasakan.

(ika/kid)