Kritik PSI terhadap rancangan anggaran Pemprov DKI Jakarta dikatakan tidak tepat karena baru berupa draf pagu anggaran yang masih harus melewati tahapan panjang dan bisa diubah.
"PSI mesti belajar proses penganggaran, yang dibahas ke publik [mestinya] bukan draf pagu anggaran," kata Nursyahbani saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Jumat (1/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nursyahbani menekankan bahwa data yang dikritik PSI dan diributkan publik masih berupa pengajuan Kebijakan Umum Anggaran Prioritas Plafon Anggaran (KUA-PPAS) 2020 DKI Jakarta.
"Jadi pagu misalnya 100 juta, itu hanya awal saja. Lalu sekolah-sekolah itu--karena ini dinas pendidikan--baru mengajukan anggaran-anggaran dan diolah lagi oleh staf lalu dimasukkan sistem yang lebih terinci. Itu ada rencana kerja dan lain-lain, masih panjang itu sebelum diserahkan DPRD," lanjut dia.
Bila hendak mengkritik, Nursyahbani menyarankan sebaiknya anggota DPRD bukan berbasis pada draf rancangan anggaran yang masih mentah. Terlebih, menurut dia, anggota dewan juga memiliki prosedur formal yakni dengan mempertanyakan langsung ke Pemprov DKI Jakarta.
"Yang harus dibahas formal anggarannya saja. Atau paling enggak ditanyakan, kenapa bisa seperti ini. Supaya bisa juga diperbaiki sistemnya. Bukan kemudian, apa ya, statement-nya itu yang lebih bersifat politis," ujar dia.
[Gambas:Video CNN]
Kendati begitu ia mengakui bahwa TGUPP tak ikut mengecek RAPBD. Namun Nursyahbani mengatakan TGUPP ikut mempelajari rencana penganggaran dinas.
Unggahan itu menjadi viral. Anies sendiri mengaku diam-diam sudah menyisir rencana penggunaan anggaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tahun 2020.
Anies juga mengaku sudah mengetahui ada sejumlah keanehan saat menyisir anggaran. Namun ia mengatakan dirinya enggan membeberkan ke luar.
"Tapi saya kan tidak umumkan ke luar bukan? Karena memang saya mau mengoreksi. Ini tidak bisa seperti ini terus," ujar Anies. (ika/asa)