Dia berhenti di trotoar Pangkalan Jati dekat Tol Becakayu, Jakarta Timur, untuk menemui sejumlah kawan. Rombongan Bekasi alias Robekers, begitulah rekan-rekan Rudi menamakan diri. Di titik ini, sedikitnya 15 pesepeda memulai perjalanan bersama ke kantornya masing-masing di bilangan Jakarta.
"Biasa kami dari Bekasi ramai-ramai ke kantor naik sepeda, kadang 10 orang, kalau lagi ramai bisa sampai 30 orang. Titik kumpulnya di sini," ujarnya di Jakarta Timur, Rabu (6/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika semua telah siap, Rudi mulai menggowes kembali sepedanya. Hari itu, sepeda touring jadi andalan di musim hujan. Pada musim sebelumnya, dia biasanya menggunakan sepeda lipat.
Tak ada jalur hijau khusus sepeda di sepanjang Jalan Kalimalang-Otista. Rudi dan rombongannya pun harus berebut jalur dengan pengguna sepeda motor, mobil, maupun angkutan umum.
"Kami kadang naik lewat trotoar meskipun ada saja motor yang enggak tahu aturan, lewat trotoar juga," ujar pria yang akrab disapa Klowor.
Bersepeda secara berkelompok, menurut Rudi, lebih aman daripada sendirian. Setidaknya, para pesepeda ada yang memberi arahan ketika memasuki tikungan.
"Yoook," teriak pesepeda di barisan depan sambil mengacungkan tangan sebagai tanda belok. Maklum sepeda tak memiliki lampu sein untuk berbelok.
Meski perjalanan mereka berbaris mengular, namun ada saja pesepeda yang tertinggal dari rombongan lantaran pengendara motor menyalip masuk ke barisan.
Warga melintas di jalur sepeda di kawasan trotoar GBK, Jakarta (4/8). Jalur sepeda tersebut terhalang kotak kontainer. (CNN Indonesia/Hesti Rika) |
Para pesepeda memilih naik ke trotoar untuk menghindari galian. Pesepeda lain menunjukkan kemahirannya melompat rendah menghindari bebatuan.
"Ada bekas proyek galian itu, jadi sangat menghalangi jalan," kata Rudi menyesalkan. Dia berharap proyek itu segera dirapikan kembali.
Saat menyusuri arah Matraman hingga Salemba, tantangannya berbeda lagi. Kali ini banyak pengguna sepeda motor yang melawan arus. Jalur sepeda justru dikuasai oleh para pelanggar lalu lintas itu.
Sementara peserta Robekers semakin berkurang, sebagian memisahkan diri menuju kantor masing-masing. Rudi akhirnya mengambil jalur alternatif, menyusuri gang hingga tembus ke kawasan Menteng.
Beberapa kali Rudi memilih naik ke trotoar. Bukan tanpa alasan, jalur khusus sepeda justru dipakai untuk menyalip para pengguna jalan, parkir kendaraan, atau sekadar mengetem. Bahkan ada pengguna sepeda motor yang menendang traffic cone sebagai pembatas jalan karena lajunya terganggu.
Sekitar pukul 08.00 WIB, Rudi akhirnya tiba di kantor. Dia masih memiliki waktu setengah jam untuk mandi, berbenah, dan makan di kantin, sebelum memulai pekerjaannya di lantai 49.
Dengan mengendarai sepeda, Rudi mampu menghemat waktu perjalanan ke kantor, sembari berolahraga. Meski tantangan di jalan tak mudah dilalui, dia tetap memilih menggunakan sepeda ke kantor.
"Saya sudah merasakan ke kantor naik mobil bisa tiga jam, naik motor kadang dua jam, atau KRL yang paling cepat tapi sama saja, turun di [Stasiun] Sudirman harus jalan lagi ke Menara BCA, keringetan juga," katanya.
"Gowes Bareng" dalam rangka Uji Coba Jalur Sepeda Fase 1 sepanjang 11 km di sejumlah jalanan Jakarta, Jumat (20/9). (CNN Indonesia/Daniela) |
"Perlu ada penegakan hukum yang jelas buat memaksimalkan jalur sepeda itu, kan selama ini kalau dilihat kayak motor misalnya, lewat itu [jalur sepeda] cuma takut pas ada polisi, tapi begitu polisi pergi, lanjut lagi [pelanggarannya]," kata Rudi.
Pada Sabtu (2/11) lalu, Dinas Perhubungan DKI Jakarta sendiri telah melakukan uji coba jalur sepeda fase ketiga di dua area, salah satunya Jalan Matraman Raya hingga Jatinegara. Uji coba yang terakhir ini akan berlangsung hingga 19 November mendatang, sebelum jalur sepeda diresmikan pada sehari berikutnya.
Nantinya jika jalur sepeda telah resmi efektif digunakan, maka pengguna kendaraan bermotor yang melintas di jalur tersebut bakal dijerat dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
"Jadi total 63 Km [jalur sepeda] per tanggal 20 November itu berlaku efektif sebagai jalur sepeda," kata Kepala Dishub DKI Jakarta Syafrin Liputo saat ditemui di Jakarta Pusat, akhir pekan lalu.

