Analisis

Bom Medan, Cap Polisi sebagai 'Thagut' di Benak Pelaku

CNN Indonesia | Kamis, 14/11/2019 19:22 WIB
Bom Medan, Cap Polisi sebagai 'Thagut' di Benak Pelaku Garis polisi melintang di Tempat Kejadian Perkara (TKP) aksi bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumut, Rabu (13/11). (AFP/ALBERT DAMANIK)
Jakarta, CNN Indonesia -- Suasana pengurusan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) di Mapolrestabes Medan pada Rabu (13/11) pagi yang semula tenang berubah menjadi mencekam. Terjadi ledakan dalam area Mapolrestabes Medan, tak jauh dari lokasi yang dipenuhi warga yang sedang mengurus SKCK untuk keperluan pendaftaran calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2019.

Aksi bom bunuh diri yang kemudian diketahui dilakukan pria berinisial RMN itu mengincar para polisi yang baru menyelesaikan apel.

Dari hasil penyelidikan sejauh ini, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menyatakan RMN melilitkan bom di pinggangnya dan lolos dari pemeriksaan petugas polisi. RMN diduga melancarkan serangan seorang diri alias Lone Wolf.


Menanggapi aksi penyerangan di markas polisi Medan tersebut, pengamat intelijen Ridlwan Habib justru menilai sebaliknya. Dari karakteristik serangan, menurut Ridlwan itu bukan serangan lone wolf.

Menurut Ridlwan setidaknya ada tiga dalih aksi bom bunuh diri Mapolrestabes Medan itu bukan lone wolf.

Pertama perihal karakteristik bom yang menurut Ridlwan bukanlah tipe yang terlalu sederhana. Itu, kata dia, merujuk pada bumbungan asap dan daya hancur pada tubuh pelaku bom bunuh diri. Pelaku adalah satu-satunya korban tewas dalam aksi tersebut.

"[Bom] itu jelas disiapkan atau dirangkai oleh orang yang memahami tentang demolisi atau rangkaian bom," ujar Ridlwan saat dihubungi, Kamis (14/11).

Kedua, berdasarkan peristiwa yang sudah terjadi sebelumnya, kata Ridlwan, lone wolf cenderung menggunakan senjata tajam dalam melancarkan serangan. Ia lalu mencontohkan peristiwa penusukan tiga Polisi di Pospol Cikokol (Tangerang), perencanaan penusukan dengan gunting di Mako Brimob Depok, dan serangan di pos polisi Kartasura (Jawa Tengah).

Peristiwa di Polrestabes Medan pada 13 November lalu, menurut dia, memiliki keterkaitan dengan kelompok teroris yang belum bisa disebutkan.

"Tetap ada dua, tiga, empat orang temannya yang membantu mempersiapkan. Apalagi dengan skala dan bentuk bom dan efek bom sebesar Polrestabes Medan ini. Jadi, saya tidak meyakini itu lone wolf," kata jebolan S2 Kajian Strategi Intelijen Universitas Indonesia tersebut.

Terakhir, berdasarkan informasi dari penegak hukum yang namanya tak disebut, Ridlwan mengaku ada pujian yang dilontarkan dari beberapa saluran khusus (channel) kelompok teroris yang ada di aplikasi pesan Telegram usai aksi bom Mapolrestabes Medan tersebut terjadi. Ridlwan memandang hal itu memperlihatkan hubungan, baik langsung ataupun tidak langsung antara pelaku RMN dengan saluran telegram tersebut.

"Ya di channel telegram mereka. Ada beberapa channel yang mereka pantau, mereka memuji kejadian itu sebagai tindakan yang baik, barokah, dan seterusnya. Artinya orang ini pernah berinteraksi, jejaring ini, orang ini pasti mendapat simpati dari mereka," kata Ridlwan.

Ridlwan mengatakan polisi dinilai sebagai merupakan musuh terbesar oleh kelompok teroris di Indonesia. Ia mengatakan ada paradigma di benak kelompok tersebut bahwa polisi adalah thagut alias setan.

"Tujuan utama kan memang untuk menegakkan khilafah; versi mereka, ya. Dan pihak yang paling merintangi adalah kepolisian. Bagi mereka seperti itu. Jadi thagut, setan besar, atau musuh mereka itu ya polisi. Nah, dengan demikian memang wajar pihak polisi selalu jadi target mereka," ucap Ridlwan.

Bom Medan, Cap Polisi sebagai <i>Thagut</i> di Benak Pelaku
Terkait pemilihan Medan sebagai lokasi serangan, Ridlwan menilai itu karena RMN adalah warga di ibukota Provinsi Sumatera Utara tersebut. Walhasil, itu jadi pertimbangan pelaku melancarkan aksinya.

"Dan saya yakin mereka sudah melakukan pengintaian sebelumnya. Jadi, terlalu dini menyebut lone wolf," simpul Ridlwan.

Dihubungi terpisah, Pengamat Teroris Al Chaidar menilai alasan Medan yang menjadi sasaran teror lantaran pelaku RMN tidak mampu untuk pergi ke Suriah. Chaidar berpendapat RMN memiliki keterkaitan dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Menurutnya, ISIS yang baru saja kehilangan pemimpinnya Abubakar Al Baghdadi itu tidak mensyaratkan lokasi penyerangan tertentu, hanya target sasaran adalah polisi.

"Orang-orang yang tidak bisa pergi ke Suriah karena tidak memiliki dana disuruh melakukan jihad di daerah sendiri. Conditional," kata Chaidar kepada CNNIndonesia.com, Kamis (14/11).

"Kalau ISIS mereka diperintahkan untuk melakukan serangan di mana saja asal ada serangan yang disebut jadi target dekat yaitu Polisi," sambungnya.

Chaidar mengatakan polisi sudah menjadi 'thagut' bagi para teroris lantaran selalu menghalangi niat mereka. Atas dasar, sambungnya, penyerangan terhadap polisi oleh para teroris merupakan bentuk jihad pula.

"Motif ideologis yaitu jihad. Motif keagamaan ini yang kuat, yang tidak banyak disadari oleh ahli kriminal," kata dia.

Sementara itu, pengamat dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi mengatakan pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan merupakan orang yang terpapar propaganda dari media sosial, interaksi dengan orang-orang yang sebelumnya sudah terpapar, atau orang yang tidak terpapar namun memiliki referensi mengenai terorisme.

"Ini wanna be, orang-orang yang terinspirasi," kata Fahmi kepada CNNIndonesia.com.

Fahmi mengatakan tindakan bom bunuh diri tidak terlepas dari sifat yang dimiliki pelaku RMN yang notabene merupakan anak muda.

"Mereka datang bisa dengan beragam latar belakang, motif, ya kekecewaan atau pengalaman personal yang bisa memicu atau mendorong mereka untuk melakukan kekerasan ekstrem itu," kata Fahmi.

Fahmi mengatakan anak muda seperti pelaku RMN lebih mudah mengalami kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Menurutnya sosok seperti RMN lebih mudah mengalami putus asa ketika tidak bisa mewujudkan apa yang menjadi harapannya.

"Bagaimana mereka memberi makna kepada dorongan hasrat untuk bunuh diri. Yang satu bunuh diri, bunuh diri saja. Kalau yang ini dia coba memberi makna terhadap bunuh dirinya. Relijiusitas itu yang kemudian membungkus bunuh dirinya bermakna," kata Fahmi.

[Gambas:Video CNN]

Secara terpisah, saat memaparkan kelanjutan hasil penyelidikan bom Mapolrestabes Medan, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menyatakan pelaku diketahui aktif di media sosial dan diduga terpapar radikalisme dari istri, DA.

"Istri pelaku tersebut atas nama DA. DA yang diduga yang terpapar lebih dahulu dibandingkan pelaku," kata Dedi di Mako Brimob, Depok, Kamis (14/11).

"Ya, patut diduga, dia terpapar dari istrinya dulu, kemudian baru terpapar di media sosial jejaring istrinya," sambungnya.

Polisi juga, kata dia, menemukan perencanaan aksi terorisme di Bali dalam jaringan komunikasi DA di media sosial.

"Itu lagi didalami dan dikembangkan. Apakah pelaku RMN ini dalam melakukan serangannya ini memiliki jejaring, baik terstruktur atau pun non struktur. Ini masih didalami oleh Densus 88," tuturnya.

(ryn)