IPW Nilai Kepolisian Gagal Cegah Terorisme

ryn & Tim, CNN Indonesia | Minggu, 17/11/2019 12:45 WIB
IPW Nilai Kepolisian Gagal Cegah Terorisme Situasi setelah kejadian bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan pada Rabu (13/11). (Foto: ATAR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia Police Watch (IPW) menilai masifnya penangkapan terduga teroris usai peristiwa penusukan mantan Menko Polhukam Wiranto dan bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan merupakan bentuk kegagalan polisi dalam mencegah terorisme.

Ketua Presidium IPW Neta S. Pane mengatakan polisi tidak sigap melakukan deteksi dini padahal cukup banyak anggotanya yang kerap menjadi serangan teror.

"Ironisnya, dalam kondisi seperti ini polisi terkadang sangat ceroboh, lengah dan tidak sigap melakukan deteksi dini," kata Neta kepada CNNIndonesia.com, Minggu (17/11).
Neta menyoroti ledakan yang terjadi di Polretabes Medan sebagai pesan bahwa terorisme di Indonesia masih hidup. Pasalnya, menurut dia, peristiwa tersebut merupakan kali pertama yang terjadi di periode kedua pemerintahan Joko Widodo.


Ia menambahkan, penangkapan terhadap para terduga teroris belakangan ini tidak meredupkan eksistensi mereka, justru sebaliknya.

"Meski Densus 88 terus-menerus melakukan penangkapan dan pembersihan ke sarang-sarang terorisme, tapi para teroris tetap mencari celah untuk melakukan serangan dan para teroris tidak pernah takut pada penangkapan maupun penggerebekan yang dilakukan Polri terhadap mereka," ujarnya.

Peristiwa bom bunuh diri di Medan, ungkap Neta, juga sebagai cara untuk mempermalukan Jenderal Idham Aziz yang baru beberapa saat menjabat sebagai Kapolri. Menurut dia, Idham merupakan tokoh penting di tubuh Densus 88.

"Kasus bom Medan ini sekaligus menunjukkan Polri di bawah kepemimpinan Idham Aziz sangat lemah dalam sistem deteksi dininya, baik deteksi dini dari jajaran Densus 88 maupun dari Intelijen Kepolisian, maupun Bareskrim," simpulnya.
Diketahui kursi Bareskrim Mabes Polri sampai saat ini masih kosong. Neta menilai kelambatan Idham memilih anggota untuk mengisi pos tersebut memperlihatkan kelemahannya mengantisipasi pelbagai serangan teror.

"Selama ini jajaran Kepolisian sendiri yang selalu mengatakan bahwa sasaran terorisme saat ini sudah meluas dan polisi dijadikan sebagai sasaran utamanya. Tapi kenapa Polri lengah dan masih kebobolan?" sambung Neta mempertanyakan.

Neta pun menyarankan agar Idham segera memilih Bareskrim baru agar konsolidasi internal Polri menjadi kuat.

"Bagaimana Polri bisa mencermati dan mendeteksi manuver jajaran terorisme, jika Polri sendiri tidak terkonsolidasi dengan mengambangnya posisi Kabareskrim? Yang ada justru muncul manuver-manuver negatif di internal Kepolisian yang membuat jajaran Kepolisian menjadi bingung untuk bersikap di tengah maraknya serangan terorisme," katanya.

CNNIndonesia.com sudah berupaya menghubungi Karopenmas Mabes Polri Brigjen Polisi Dedi Prasetyo. Namun, sampai saat ini belum mendapat respons terkait pesan yang telah dilayangkan sejak malam kemarin. Status pesan singkat WhatsApp ceklis satu.
Sebelumnya, Densus 88 Mabes Polri telah mengamankan 18 orang terduga teroris usai ledakan bom bunuh diri terjadi di Polrestabes Medan. Mereka yang ditangkap seluruhnya ditetapkan sebagai tersangka. Data tersebut dirilis per tanggal Sabtu (16/11).

"Hingga hari ini total yang kita amankan ada 18 orang. Di antaranya ada diringkus di Aceh tiga orang, Hamparan Perak tiga orang, Jermal dua dan sejumlah titik lainnya," kata Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Agus Andrianto, Sabtu (16/11) malam.

Agus mengatakan Tim Densus 88 Polri dan Polda Sumut sendiri masih terus melakukan pengejaran terhadap para terduga teroris lainnya.

Sementara itu di kawasan Hamparan Perak, Sumatera Utara, Densus 88 Mabes Polri terlibat baku tembak dengan terduga teroris. Dalam baku tembak tersebut, satu personel Densus 88 terluka dan dua terduga teroris meninggal dunia.

"Kami dapat informasi tadi pagi ada baku tembak dengan dua terduga teroris dan anggota Densus 88. Satu anggota luka," kata Agus, Sabtu (16/11).

[Gambas:Video CNN] (rea)