Ketua Komisi II DPR Ahmad Doli Kurnia mengakui ada keinginan dari para anggota dewan untuk mengakomodir hal tersebut meski sudah pernah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Salah satunya melalui revisi UU Pilkada.
"Memang ada isu dan ada keinginan juga supaya terjadi revisi terhadap UU itu," kata Doli di Kompleks DPR/MPR, Jakarta, Senin (18/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau materinya berat-berat dan membutuhkan waktu panjang, ini masalah waktu, waktunya enggak cukup malah ganggu tahapan pilkada 2020," kata dia.
Wacana anggota legislatif tak perlu mundur dari jabatannya bila mengikuti Pilkada disampaikan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin beberapa waktu lalu. Dia mengatakan revisi UU Pilkada bakal mencakup pasal tentang syarat anggota legislatif ikut dalam pilkada.
Berbeda dengan Doli, Wakil Ketua Komisi II Arif Wibowo mengatakan peluang revisi bagi pasal itu sudah dikunci oleh putusan MK. Putusan MK ini, kata dia, sudah dimasukkan dalam Pasal 7 Ayat (2) huruf s Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota.
Arif menyarankan, jika DPR ingin merevisi UU Pilkada, maka tidak boleh ditargetkan untuk bisa diterapkan pada pilkada 2020. Menurutnya, itu tidak akan mungkin.
"Ini tahapan sudah jalan. Lah sudah jalan payung hukumnya kan UU itu. Kalau kami ubah lagi nanti komplikasi politiknya tinggi, memunculkan banyak spekulasi politik," kata Arif.