Kasus Narkoba di Selat Malaka Terungkap, 37 Kg Sabu Disita

CNN Indonesia | Senin, 09/12/2019 15:32 WIB
Kasus Narkoba di Selat Malaka Terungkap, 37 Kg Sabu Disita Ilustrasi paket sabu. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Transaksi 37 kilogram sabu dan 150 butir pil jenis Yaba disebut dilakukan di tengah laut dengan menggunakan sampan motor. Modus ini terungkap oleh Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Argo Yuwono mengatakan komplotan ini ialah bagian dari jaringan Malaysia-Medan-Jakarta. Polisi sendiri meringkus empat tersangka jaringan ini, yakni RY, AL, ZL, dan BM.

Tersangka RY ditangkap lebih dulu di Pelabuhan Sarang Elang, Panai Hulu, Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara, pada 5 Desember. Darinya diperoleh informasi bahwa barang haram tengah diambil oleh tiga tersangka lainnya menggunakan sampan motor.


"Menggunakan sampan mengambil barang, padahal ombak besar, mereka bertemu di tengah laut, ada kode sorotan senter, sudah ada komunikasi sandinya seperti apa," tutur Argo di Bareskrim Polri, Senin (9/12).

Sementara itu, Wakil Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Kombes Krisno Halomoan Siregar menyampaikan tiga tersangka lainnya diringkus saat tiba di Pelabuhan Sarang Elang usai mengambil sabu.

[Gambas:Video CNN]
Tak hanya sabu, polisi juga menemukan 150 butir pil jenis Yaba dari tangan ketiga tersangka. Menurut Krisno, pil tersebut merupakan obat-obatan yang kerap dikonsumsi di kawasan Indo Cina.

"Ini disebut sebagai mint amfetamin, ini harganya lebih murah. Ini di negara Indo China ini jamak digunakan, ini digunakan street user," tutur Krisno.

Disampaikan Krisno, dalam menjalankan aksinya tersangka RY berperan sebagai pengendali. RY juga menyediakan transportasi untuk keberangkatan tiga tersangka lainnya.

"Para tersangka ini tergolong berani dan melawan maut karena dari Indonesia ke perairan dekat Pulau Ketam, Malaysia, hanya menggunakan sampan motor," tuturnya.

Atas perbuatannya, keempat tersangka dijerat pasal 114 Undang-Undang Nmor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Diketahui, Pulau Ketam berada di Selat Malaka dan berada di sebelah barat Kuala Lumpur, Malaysia. (dis/arh)