PKPU itu sendiri tak mengatur larangan calon kepala daerah eks narapidana kasus korupsi untuk ikut pemilihan umum kepala daerah (pilkada), dan hanya tak mengutamakannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, KPU dalam beberapa kali konsultasi dengan Komisi II DPR menginginkan larangan terpidana kasus korupsi ikut maju dalam pilkada itu diakomodasi dalam PKPU.
Logo KPU. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Doli mengatakan isi PKPU itu juga merupakan harmonisasi antara KPU dengan Kementerian Hukum dan HAM sebagai pihak yang mengundangkan PKPU. Tujuannya, aturan tersebut tidak bertentangan dengan UU di atasnya atau putusan MK.
"Ini jalan tengah tanpa mengurangi semangat untuk mendorong pemerintahan di daerah bersih dan bebas korupsi," kata politikus Partai Golkar itu.
Terpisah, Anggota Komisi II DPR RI Kamrussamad menilai KPU gagal mendorong pembentukan regulasi yang lebih baik karena tak melarang eks narapidana kasus korupsi ikut pilkada.
"Ini merupakan kegagalan KPU dalam mendorong regulasi yang lebih baik," ucap Kamrussamad saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (9/12).
[Gambas:Video CNN]
Dia menjelaskan bahwa larangan terhadap mantan terpidana korupsi ikut pilkada merupakan sebuah sanksi sosial yang diharapkan memberikan efek jera.
Pasalnya, lanjut politikus Gerindra itu, jumlah kepala daerah yang terjerat dalam kasus korupsi mengalami peningkatan di 2018.
"Fakta kepala daerah terjerat korupsi meningkat dari sembilan kepala daerah pada 2017 ke 20 kepala daerah di 2018," katanya.
"Sehingga kita yang paling penting bagaimana peraturan KPU pencalonan ini cepat bisa keluar dan menjadi pedoman bagi tahapan pencalonan pemilihan kepala daerah 2020," kata Evi kepada wartawan, Jumat (6/12).
"Tetap saja keinginan kita itu sebenarnya jadi larangan, tetapi kan kita tentu berharap itu diatur di undang-undang sehingga nanti memperkuat," dia menambahkan.
(mts/arh)
Logo KPU. (