Menag: Konten Khilafah Dipindah dari Fiqih ke Sejarah Islam

CNN Indonesia | Selasa, 10/12/2019 04:39 WIB
Menag Fachrul Razi memastikan dua konten dalam pelajaran agama Islam, yakni khilafah dan jihad hanya dipindah dari pelajaran ilmu fiqih ke sejarah Islam. Menteri Agama Fachrul Razi. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Agama merevisi konten khilafah dan jihad dalam buku pelajaran agama.  Menteri Agama Fachrul Razi menyebut konten khilafah dan jihad dipindah dari pelajaran ilmu fiqih pelajaran sejarah Islam.

"Itu hanya dipindahkan dari tadinya itu masuk ke fiqih dipindahkan ke sejarah ya. Sejarah enggak boleh hilang, tapi di fiqih enggak ada lagi," kata Fachrul di Gedung Kementerian Agama, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin (9/12).

Hal ini juga dijelaskan oleh Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin. Dia menyebut soal khilafah dan jihad ini memang tak bisa dihapus dari pembelajaran agama Islam. Hanya saja hal tersebut harus ditempatkan dalam bidang yang sesuai yakni soal sejarah agama Islam.


Sebab kata dia, memang tak bisa dipungkiri bahwa khilafah dan jihad merupakan bagian dari perjalanan Islam. Keduanya masuk dalam sejarah perkembangan agama Islam.

"Jadi fakta bahwa pernah ada khilafah dalam sejarah peradaban Islam itu tidak bisa ditutupi, itu fakta pernah ada dalam sejarah peradaban Islam, itu tetap akan disampaikan," kata Kamaruddin.

Dia juga menyebut nantinya dalam bidang pembelajaran sejarah terkait khilafah dan jihad ini akan disampaikan perspektif yang lebih produktif dan kontekstual.

Bahkan dalam pelajaran tersebut akan disampaikan bahwa khilafah dan jihad ini hanya bagian dari sejarah, namun tak akan bisa diterapkan di Indonesia.

"Nanti disampaikan bahwa khilafah itu tidak lagi cocok untuk Indonesia. Negara bangsa yang sudah memiliki konstitusi. Dan sekarang ini di dunia ini sudah tidak ada lagi negara islam yang menerapkan khilafah," jelasnya.

Menurut dia, perspektif baru ini memang perlu disampaikan secara menyeluruh kepada siswa dan guru-guru di sekolah.

"Jadi nasionalisme dan religiusitas harus ditanamkan bareng bersamaan pelajaran agama. Jadi pelajaran agama Islam akan berfungsi instrumental menanamkan nilai-nilai keagamaan yang moderat nasionalis religius," kata dia.

"Jadi di satu sisi anak-anak kita religiusitasnya tinggi, rajin ibadah, di sisi lain mereka memiliki pengetahuan pemahaman dan artikulasi keagamaan yang nasionalis," jelasnya.

[Gambas:Video CNN] (tst/osc)