Saat rapat mau mendekati berakhir, Koordinator Pusat BEM Nusantara Hengki Primana menegur anggota Komisi III, Eva Yuliana yang dinilai lebih menghargai gadget pintarnya ketimbang aspirasi dari mahasiswa.
Teguran ini bermula tatkala Hengki ingin menyampaikan pernyataan penutup. Ia menyatakan permasalahan terbesar bagi Indonesia adalah ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami berikhtiar untuk percaya kepada DPR. Kenapa saya sampaikan kami ragu untuk percaya? Dan Mbak Eva lebih menghargai iPhone 11-nya daripada kami berbicara dari tadi. Sepakat kawan-kawan? Dan itu kita tahan," tegur Hengki.
Menurutnya, prilaku itu justru membuat mahasiswa susah untuk kembali percaya kepada anggota DPR. Ia lantas menyarankan agar anggota DPR tak bermain-main dengan gadget tatkala sedang melakukan rapat. Sebab, mendengarkan suara dan keluhan masyarakat merupakan tugas utama anggota DPR.
"Lebih menghargai iPhone 11 itu daripada suara-suara kami. Ya kami paham, kami ini nggak sanggup beli iPhone 11. Tapi paling tidak suara kami ini adalah suara orang-orang yang memilih Anda, yang kami sampaikan, suara-suara yang memilih Anda," imbuhnya.
"Mba Eva pasti membuka itu apa-apa, yang lama-lama, yang dulu-dulu. Jadi jangan suuzan juga. Mbak Eva ini ada acara sebenarnya. Tapi dia khusus ikut di sini dan sampai terakhir, adik-adik mahasiswa," kata Adies.
Disaksikan Polisi
Jalannya rapat audiensi antara BEM Nusantara dan Komisi III itu sempat disaksikan oleh aparat kepolisian di Balkon Komisi III.
Pantauan CNNIndonesia.com, belasan aparat kepolisian duduk memantau dan mendengarkan jalannya audiensi tersebut. Dari identitas seragamnya, personel kepolisian itu berasal dari satuan Sabhara.
Pihak BEM Nusantara dalam audiensi tersebut meminta agar DPR mendesak pemerintah untuk menuntaskan kasus pelanggaran HAM berat.
Beberapa diantaranya adalah menuntaskan kasus tragedi penembakan mahasiswa Trisakti tahun 1998, tragedi tewasnya dua mahasiswa Universitas Halu Oleo Kendari dan bentrokan antara mahasiswa dan aparat di Papua.
Mereka pun meminta agar Komisi III segera mempertemukan antara Komnas HAM dan Kejaksaan untuk membahas mengenai penyelesaian pelanggaran HAM berat yang masih terbengkalai sampai saat ini
"Sehingga terkait pertemuan Komnas HAM dengan kejaksaan, kami berharap besar bapak bisa memutuskan tanggal pertemuan ktu, dan bisa mengundang kami mahasiswa untuk mendengarkan langsung apa sih sebenarnya permasalahannya," kata dia. (rzr/asa)