Audiensi dengan Mahasiswa, Anggota DPR Sibuk Main iPhone 11

CNN Indonesia | Selasa, 10/12/2019 21:16 WIB
Audiensi dengan Mahasiswa, Anggota DPR Sibuk Main iPhone 11 Ilustrasi rapat di DPR. (CNN Indonesia/ Ramadhan Rizki Saputra).
Jakarta, CNN Indonesia -- Elemen mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara beraudiensi bersama Komisi III DPR di Kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (10/12). Pertemuan itu dilakukan untuk membahas mengenai penyelesaian kasus HAM yang belum dituntaskan oleh pemerintah.

Saat rapat mau mendekati berakhir, Koordinator Pusat BEM Nusantara Hengki Primana menegur anggota Komisi III, Eva Yuliana yang dinilai lebih menghargai gadget pintarnya ketimbang aspirasi dari mahasiswa.

Teguran ini bermula tatkala Hengki ingin menyampaikan pernyataan penutup. Ia menyatakan permasalahan terbesar bagi Indonesia adalah ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah.


"Ini analisa saya dan teman-teman mahasiswa lain, permasalahan terbesar di negara kita ini adalah ketidakpercayaan, baik itu kepada pemerintah, kepada komnas-komnas, kepada wakil rakyat," kata Hengki.

Setelah itu, Hengki menyatakan mahasiswa saat ini sedang berusaha untuk mempercayai kinerja DPR. Akan tetapi, ada saja persoalan yang masih mengganjal untuk berusaha percaya kepada DPR.

Salah satu yang mengganjal, lanjut dia, anggota DPR masih asyik bermain gadget saat rapat ketimbang memperhatikan aspirasi dari mahasiswa

"Kami berikhtiar untuk percaya kepada DPR. Kenapa saya sampaikan kami ragu untuk percaya? Dan Mbak Eva lebih menghargai iPhone 11-nya daripada kami berbicara dari tadi. Sepakat kawan-kawan? Dan itu kita tahan," tegur Hengki.

Menurutnya, prilaku itu justru membuat mahasiswa susah untuk kembali percaya kepada anggota DPR. Ia lantas menyarankan agar anggota DPR tak bermain-main dengan gadget tatkala sedang melakukan rapat. Sebab, mendengarkan suara dan keluhan masyarakat merupakan tugas utama anggota DPR.

"Lebih menghargai iPhone 11 itu daripada suara-suara kami. Ya kami paham, kami ini nggak sanggup beli iPhone 11. Tapi paling tidak suara kami ini adalah suara orang-orang yang memilih Anda, yang kami sampaikan, suara-suara yang memilih Anda," imbuhnya.

Mendengar teguran itu, Wakil Ketua Komisi III Adies Kadir yang memimpin audiensi tak terima. Ia membela rekannya tersebut dengan alasan Eva sedang mencari materi seputar kasus HAM masa lalu yang urung diselesaikan di gadgetnya.

"Mba Eva pasti membuka itu apa-apa, yang lama-lama, yang dulu-dulu. Jadi jangan suuzan juga. Mbak Eva ini ada acara sebenarnya. Tapi dia khusus ikut di sini dan sampai terakhir, adik-adik mahasiswa," kata Adies.

Disaksikan Polisi

Jalannya rapat audiensi antara BEM Nusantara dan Komisi III itu sempat disaksikan oleh aparat kepolisian di Balkon Komisi III.

Pantauan CNNIndonesia.com, belasan aparat kepolisian duduk memantau dan mendengarkan jalannya audiensi tersebut. Dari identitas seragamnya, personel kepolisian itu berasal dari satuan Sabhara.

Pemandangan hadirnya pihak kepolisian itu tak biasa. Sebab, rapat yang selama ini digelar di DPR hanya dijaga oleh petugas pengamanan dalam (Pamdal) DPR RI. Kali ini, terlihat hanya satu personel Pamdal yang berjaga di balkon Komisi III.

Pihak BEM Nusantara dalam audiensi tersebut meminta agar DPR mendesak pemerintah untuk menuntaskan kasus pelanggaran HAM berat.

Beberapa diantaranya adalah menuntaskan kasus tragedi penembakan mahasiswa Trisakti tahun 1998, tragedi tewasnya dua mahasiswa Universitas Halu Oleo Kendari dan bentrokan antara mahasiswa dan aparat di Papua.

Mereka pun meminta agar Komisi III segera mempertemukan antara Komnas HAM dan Kejaksaan untuk membahas mengenai penyelesaian pelanggaran HAM berat yang masih terbengkalai sampai saat ini

"Sehingga terkait pertemuan Komnas HAM dengan kejaksaan, kami berharap besar bapak bisa memutuskan tanggal pertemuan ktu, dan bisa mengundang kami mahasiswa untuk mendengarkan langsung apa sih sebenarnya permasalahannya," kata dia. (rzr)