Penangkapan 14 Mahasiswa Usai Aksi Hari HAM Menyisakan Trauma

CNN Indonesia | Rabu, 11/12/2019 18:46 WIB
Penangkapan 14 Mahasiswa Usai Aksi Hari HAM Menyisakan Trauma Ilustrasi demo mahasiswa. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tim Advokasi untuk Demokrasi mengkritik langkah kepolisian yang menangkap 14 mahasiswa usai menggelar aksi memperingati Hari HAM Sedunia pada Selasa (10/12). Penangkapan terjadi di sekitar kawasan Sarinah, Jakarta Pusat.

Anggota Tim Advokasi untuk Demokrasi dari LBH Masyarakat Afif Qayim menyampaikan tindakan aparat berpotensi meninggalkan trauma meskipun peserta aksi dibebaskan jelang tengah malam. Menurutnya, bukan tak mungkin insiden penangkapan usai aksi bisa membuat takut warga yang hendak mengutarakan aspirasi.


"Memang seharusnya tindakan mengamankan peserta demo itu harus dihindari, karena kan orang menyampaikan aspirasinya. Masak orang menyampaikan aspirasi, ditangkap. Padahal konstitusi menjamin itu, eranya juga demokrasi. Ini jadi pertanyaan besar," ucap Afif kepada CNNIndonesia.com saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (11/12).


Afif mengatakan aparat penegak hukum seharusnya memberi jaminan perlindungan warga untuk menyampaikan pendapat. Dia menambahkan kalaupun di lapangan terdapat dinamika aksi maka semestinya masing-masing pihak bisa menahan, termasuk aparat kepolisian.

"Selain memberikan dampak traumatik terhadap teman-teman massa aksi, ini kan juga berdampak pada gerakan masyarakat," tutur Afif.

"Yang pasti menciptakan kekhawatiran, kalau mereka menyampaikan aspirasinya bisa berurusan dengan aparat penegak hukum," kata Afif. 
Sejumlah aktivis menggelar aksi damai di depan Istana Negara, Jakarta, Rabu (10/12). (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Sedikitnya 14 orang ditangkap dan diinterogasi di kantor Polres Jakarta Pusat. Afif mengatakan semuanya berstatus mahasiswa dari berbagai universitas.

"Sebenarnya mereka tertib mengikuti aturan unjuk rasa, sore pun sudah bubar. Persoalannya, setelah bubar itu mereka bikin was-was warga karena heboh di jalan, mengganggu arus lalu lintas. Lalu warga melaporkanlah ke polisi, ini informasi dari Kasat ya. Karena kami memastikan mereka pulang dulu, saat itu," kata Afif.


Selanjutnya Tim Advokasi berencana mengklarifikasi informasi tersebut kepada peserta aksi. Afif mengatakan hal utama yang menjadi fokus Tim Advolasi kemarin adalah memastikan pemulangan para mahasiswa. Para demonstran yang ditangkap akhirnya dipulangkan pada pukul 23.00 WIB, Selasa (10/12).

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengonfirmasi kabar penangkapan 14 mahasiswa usai aksi Hari HAM Sedunia. Yusri pun membenarkan semua mahasiswa telah dipulangkan sejak Selasa malam.

"Memang betul kemarin dari Polres Jakarta Pusat dan Polsek Menteng telah mengamankan 14 mahasiswa. Jam setengah 10 malam dikembalikan ke LBH dan rekan-rekan dari KontraS," kata Yusri saat dikonfirmasi, Rabu (11/12).

Penangkapan 14 Mahasiswa Usai Aksi Hari HAM Menyisakan TraumaKawasan Sarinah, Jakarta Pusat, lokas penangkapan 14 mahasiswa usai Hari HAM Sedunia. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Yusri menyampaikan 14 mahasiswa itu ditangkap lantaran dianggap mengganggu ketertiban umum dengan menutup ruas jalan di kawasan Sarinah.

"Kemudian pembatas jalan yang sepeda motor itu dilempar ke tengah-tengah (ruas jalan)," ujarnya.



Yusri menambahkan, para mahasiswa itu juga mencoret-coret tembok di sekitar Gedung Sarinah.

"Ada petugas di sana dan diamankan, mereka dibawa dan didata petugas Polres," tutur Yusri.

Sebelumnya, rekaman video aksi kericuhan diunggah oleh akun Twitter @borderrakyat. Dalam unggahan itu tampak beberapa orang digiring ke mobil polisi.

"Info sementara. Massa Aksi yang melakukan long march pulang. Tertangkap di sekitar Sarinah-Kebon Sirih. Info selanjutnya menyusul." Demikian cuitan terkait penangkapan yang diunggah pada pukul 21.03 WIB, Selasa (10/12).

[Gambas:Video CNN] (ika/pmg)