Wakil Sekretaris Jenderal PPP Achmad Baidowi mengatakan teriakan takbir tidak dapat dijadikan sebagai ukuran ketakwaan seseorang dalam beragama.
"Soal keimanan, soal mengukur ketakwaan seseorang, itu bukan di jalan begitu caranya," kata Baidowi kepada wartawan di kantor DPP PPP, Rabu (11/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baidowi menyampaikan ormas seharusnya bisa melakukan tindakan pencegahan agar kejadian persekusi seperti itu tidak terulang lagi.
Para kader Banser saat mengelar aksi damai di dekat Patung Kuda Monas, Jakarta, 23 Mei 2019. (CNN Indonesia/Hesti Rika) |
Dalam video berdurasi 1 menit 2 detik itu, dua anggota Banser yang hendak mengawal Gus Muwafiq dipaksa meneriakkan takbir oleh seseorang di pinggir jalan.
"Lu takbir dulu sama gua, ya, bareng ya! Takbir! Takbir! Takbir! Allahu akbar! Lu Islam bukan?" kata pria tersebut.
[Gambas:Twitter]
Namun dua anggota Banser menolak meladeni pria tersebut dan menanyakan untuk apa dia meminta bertakbir.
"Kok buat apa? Kafir dong lu! Lu takbir dulu kalo Muslim," kata pria itu.
Kader Banser yang menolak paksaan itu berpendapat untuk menunjukkan bahwa dirinya menganut Islam cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.
"Syahadat itu kalau buat yang dari bukan Islam. Lu enggak usah ngajarin gue, lu enggak bisa pulang lu, enak aja. Apa lu? Apa lu? Gue cegat lu di sana jawara semua. Anjing lu!" kata pria tersebut.
Pria itu sebelumnya meminta KTP anggota Banser dan mencaci maki dengan sebutan monyet. Namun akhirnya, dua anggota Banser itu tak menanggapi cacian dan memilih pergi.
Kasus ini telah dilaporkan ke pihak kepolisian. Proses penyelidikan pun tengah berjalan.
Lihat juga:PKB: Penghina Banser Tak Paham Esensi Takbir |
[Gambas:Video CNN] (mjo/pmg)
