Mahfud lantas menyatakan karakteristik politik uang yang ditimbulkan dalam gelaran pilkada langsung sifatnya eceran karena harus menyogok masyarakat secara langsung untuk mendulang suara.
"Harapannya tak ada politik uang. Tapi kemudian sama aja... Ternyata kalau lewat rakyat itu eceran, sama saja, tambah boros. Sama. Itu eksperimen dari pilkada kita," kata Mahfud di Inews Tower, Jakarta, Kamis (12/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau lewat DPRD politik uangnya itu borongan, lewat agen-agen," kata dia.
Barang bukti politik uang dalam pemilu. (ANTARA FOTO/Anis Efizudin) |
Kala itu, Mahfud bercerita bahwa DPRD kerap melakukan teror kepada kepala daerah dengan berbagai ancaman. Semisal ancaman laporan pertanggungjawabannya ditolak hingga ancaman pelengseran terhadap kepala daerah.
"Korbannya dulu ada kepala daerah di Riau ada. Diteror lalu dilengserkan," kata dia.
Melihat hal itu, Mahfud berpandangan pilkada langsung dengan segala plus minusnya merupakan mekanisme yang sudah menjadi pilihan rakyat saat ini.
Mahfud juga menjelaskan bahwa perkembangan demokrasi di Indonesia belakangan ini tak terlalu mengecewakan dengan digelarnya pilkada langsung.
Ia merinci bahwa indeks persepsi demokrasi Indonesia pada 2017 menyentuh angka 72.18. Angka itu mengalami kenaikan pada 2018 lalu yang menyentuh 72.39.
"Mudah-mudahan 2019 pemilu kemarin itu naik. Dan yang akan datang, mari kita bersama-sama jaga pilkada ini agar meningkatkan kualitas demokrasi kita," kata dia.
[Gambas:Video CNN] (rzr/pmg)
Barang bukti politik uang dalam pemilu. (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)