Batan Jadi Acuan Uji Tak Rusak di Afrika dan Asia Pasifik

Advertorial, CNN Indonesia | Minggu, 15/12/2019 00:00 WIB
Batan Jadi Acuan Uji Tak Rusak  di Afrika dan Asia Pasifik Wokshop NDI yang digelar Batan-IAEA Collaboration Center pada Selasa, 3 Desember 2019 di Jakarta (Foto: Dok Batan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) telah ditunjuk oleh Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) sebagai pusat acuan atau collaborating center (CC) di bidang uji tidak merusak atau Non Destructive Investigation (NDI).

Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir (TEN) Batan Suryantoro mengatakan, prestasi menjadi CC dari IAEA ini menjadi kebanggan Indonesia, karena IAEA hanya menetapkan satu negara untuk satu periode dalam empat tahun (2015-2019).

"Dengan pengakuan ini, Batan telah menjadi negara tujuan bagi negara-negara lain, khususnya di kawasan regional Afrika dan Asia-Pasifik untuk mengikuti pelatihan teknik uji tak rusak," kata Suryantoro.


Suryantoro menambahkan, selama empat tahun ini, Batan berhasil mengembangkan berbagai teknik dan peralatan uji tak rusak berbasis nuklir, baik untuk pekerjaan di bidang industri manufaktur, infrastruktur, pengolahan, maupun lingkungan.

"NDI merupakan serangkaian kegiatan pengujian atau inspeksi untuk memastikan bahwa material, struktur, dan komponen dapat berfungsi sesuai yang dipersyaratkan," tambahnya.

Suryantoro menyebutkan kegiatan tersebut dilakukan untuk mendeteksi adanya diskontinuitas pada material, struktur, dan komponen yang dapat mempengaruhi keselamatan dan menyebabkan kerugian, seperti ledakan pipa gas, kegagalan operasi instalasi, dan lain-lain.

Berbagai sektor industri seperti industri logam, migas, transportasi, manufaktur, konstruksi, elektronika, dan lain-lain telah memanfaatkan NDI untuk mengendalikan mutu dalam meningkatkan keselamatan dan keandalan produk yang berdampak pada reputasi industri pengguna.

Ia pun mencontohkan beberapa teknologi yang dikembangkan Batan antara lain X-Ray dan Gamma-Ray Radiography, Neutron Radiography, Neutron Activation Analysis (NAA), Thin Layer Analysis (TLA), X-Ray Diffractometer (XRD) dan X-Ray Fluorescence (XRF).

Instrumen-instrumen ini dapat dimanfaatkan pada sektor industri, manufaktur, lingkungan, dan kesehatan. Selain itu, Batan juga mengembangkan teknologi NDI berbasis nonradiasi, seperti Ultrasonic Testing (UT) dan UT Pundit, Ground Penetrating Radar (GRP), Thermography, dan Accoustic Emission.

"Batan telah berhasil mengembangkan perangkat uji tak rusak radioskopi dan gamma scanner berbasis nuklir, yang sangat efektif digunakan untuk banyak pekerjaan di bidang industri. Perangkat radioskopi dapat diaplikasikan pada industri manufaktur untuk inspeksi produk secara langsung (real time) dan gamma scanner digunakan untuk mengetahui kondisi kolom pada instalasi industri, khususnya industri petrokimia," ujarnya

Cara Kerja NDI

Lebih lanjut Suryantoro menjelaskan pada prinsipnya cara kerja teknologi NDI memanfaatkan teknologi nuklir dengan karakteristik dan energi yang dihasilkan. Radiasi yang dipancarkan dari sumber radioaktif mampu melakukan penetrasi yang lebih tinggi sehingga dapat menembus benda-benda yang tebal dan padat. Interaksi radiasi juga tidak akan merusak target yang diuji, sehingga dikenal dengan teknik uji tak rusak.

"Dengan keunikan tersebut, teknik uji tak rusak berbasis nuklir sangat sesuai untuk pekerjaan infrastruktur, seperti konstruksi jalan tol, jembatan, gedung-gedung, dan badan pesawat, dan untuk bidang manufaktur, seperti otomotif, industri kimia, industri pupuk, pengolahan, dan lainnya," tegasnya.

Di bidang lingkungan, teknik analisis nuklir dan radiasi dapat dimanfaatkan untuk mengetahui kadar polusi lingkungan sampai dengan ukuran partikel yang sangat kecil. Data dan informasi dari hasil analisis sampel lingkungan ini dapat digunakan untuk penetapan kebijakan nilai baku mutu lingkungan di suatu wilayah oleh pemerintah atau pemerintah daerah.

"Untuk kegiatan ini, uji tak rusak jangan dipahami sebagai nuklir untuk pembangkit listrik. Dalam pekerjaan ini kita hanya memanfaatkan sifat dan energi radiasinya untuk memperoleh image atau visualisasi dari target yang diradiasi," ujarnya.

Melalui image tersebut kita akan sangat mudah menginterpretasi hasilnya, sehingga pekerjaan akan dapat diselesaikan dengan cepat tanpa merusak target yang diradiasi. Bahkan, pekerjaan dapat dilakukan tanpa harus menghentikan proses yang sedang berjalan.

Pekerjaan dengan sumber radiasi ini, ujar Suryantoro, memiliki tingkat keselamatan tinggi karena sumber radioaktifnya ditempatkan di tempat yang dilapisi dengan bahan pelindung yang bersifat menyerap radiasi dan mencegah terpaparnya lingkungan dari radiasi.

"Pekerja dan lingkungan dijamin keselamatannya selama pekerjaan berlangsung. Tentu saja dalam melakukan pekerjaan tersebut para pekerja harus memenuhi persyaratan teknis bekerja menggunakan sumber radioaktif dan memahami pengetahuan tentang prinsip proteksi radiasi," tegasnya.

Dengan penguasaan teknologi NDI ini, Batan siap bekerja sama dalam menyiapkan sumber daya manusia dan berbagi pengalaman dengan stakeholder yang bergerak dalam bidang pekerjaan infrastruktur, manufaktur dan lingkungan. (adv/adv)