Komunitas yang terbentuk pada April tahun ini mencetuskan ide mengumpulkan donasi untuk keluarga Riyanto dan empat rekan Banser lain yang bertugas kala itu.
"Pas momen natal, kami ingat bahwa dulu ada sejarah di mana Riyanto pasang badan untuk menyelamatkan umat kristiani, walaupun tak langsung di gereja kami [Katolik], tapi juga pada waktu itu peledakan bom ada di beberapa tempat termasuk di Gereja Santo Yoseph Mojokerto," ujar salah satu admin akun Twitter @KatolikG yang tak ingin identitasnya disebut, Senin (23/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami kan dari komunitas katolik, sehingga kami menuju ke Santo Yoseph, karena di sana adalah gereja Katolik. Kalau tempat Riyanto bertugas itu (Eben Haezer) adalah gereja Kristen, Protestan," kata dia.
"Kami tidak ada pesan khusus, kami hanya ingin mengucapkan terima kasih bahwa di tengah masyarakat, situasi di mana penolakan satu dengan yang lain begitu tinggi terutama menyangkut hal-hal agama, kepercayaan, masih ada orang yang berpikir kemanusiaan di atas segalanya, " ujar sang admin.
Anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan) |
Seperti dikutip dari situs NU Online, untuk membantah keraguan Banser soal instruksi menjaga gereja, Gus Dur pada 1996 silam menjawab agar para anshor berpikir yang dijaga bukan sekedar gereja, melainkan menjaga tempat tinggal, menjaga tanah kelahiran. Setiap gangguan yang terjadi di tanah kelahiran, pasti akan berdampak pada anshor itu juga.
Menghormati Semangat Kemanusiaan Riyanto
Mengingat Riyanto, bagi Katinem tak melulu hanya soal susah hati. Memorinya kemudian kembali ke belasan tahun silam saat anak pertamanya masih belia.
"Siang-siang waktu dia makan, dia bilang 'Bu, aku ingin jadi tentara, mengabdi pada negara'," kata Katinem, bercerita.
Sebagai orang tua, Katinem pun bertanya mengapa anaknya mempunyai keinginan seperti itu. Riyanto menjawab jika gugur di medan perang, kematiannya syahid karena membela bangsa dan negara.
"'Kalau aku mati syahid, nanti banyak orang yang mendoakan'. Saya iya-iya saja waktu itu, wong dia bilang saat makan sambil lihat TV, pulang kerja. Saya ya ndak ngerti, ya mungkin keinginannya sekarang tercapai, banyak orang yang mendoakannya," cerita Katinem.
Kepergian Riyanto, selalu dikenang banyak pihak. Doa-doa itu, datang dari rekan sesama Banser Mojokerto yang rutin menggelar haul Riyanto tiap tahun, tanpa terputus. Tak hanya itu, menjelang Natal, ratusan jemaat Gereja Eben Haezer juga menggelar doa khusus untuk mendiang.
"Kami tiap tahun tak pernah putus menggelar haul, ini sebagai penghormatan kepada Riyanto karena pengorbanannya," kata Kasatkorcab Banser Kota Mojokerto, Syahrial.
Melalui itu, Syahrial berharap, dirinya sendiri, para banser, dan seluruh umat Islam di Indonesia bisa meneledani sikap dan pengorbanan yang telah Riyanto lakukan. Baginya, Riyanto adalah seorang pejuang kemanusiaan, yang telah sepenuhnya berhasil mengamalkan rahmat dari tuhan
"Negeri ini memiliki banyak perbedaan, agama ada Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan lainnya. Perbedaan itu adalah rahmat tuhan, kita harus menghargai rahmat itu. Riyanto sudah melakukannya, tugas kita sekarang meneladaninya," ujar Syahrial.
Gapura Jalan Riyanto di Mojokerto. (CNNIndonesia/Farid) |
"Yang sudah ya sudah. Semoga aksi teror tidak terulang lagi. Semoga segera disadarkan orangnya ditunjukkan jalan yang benar. Kami sudah memaafkan," katanya.
Anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Gapura Jalan Riyanto di Mojokerto. (CNNIndonesia/Farid)
Ibu dan adik dari Banser Mojokerto, Riyanto, Katinem dan Titik Sumarmi, memegang foto sang kakak yang tewas mencegah jatuh korban akibat teror bom, Mojokerto, 15 Desember 2019. (CNNIndonesia/Farid)
Amir Sagianto. (CNNIndonesia/Farid)
Gereja Eben Haezer Mojokerto, tempat yang mendapatkan teror bom di mana Banser, Riyanto, menjadi korban pada 24 Desember 2000. (CNNIndonesia/Farid)
Titik Sumarmi bersama vespa peninggalan kakaknya, anggota Banser Mojokerto Riyanto, yang tewas akibat ledakan teror bom di Gereja Eben Haezer pada 24 Desember 2000. (CNNIndonesia/Farid)
Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. (AFP PHOTO/Sonny TUMBELAKA)