Isak Sofie, Waria Depok Respons Rencana Wali Kota Razia LGBT

CNN Indonesia | Rabu, 15/01/2020 07:18 WIB
Sambil terisak, seorang waria mengaku pihaknya paling rentan atas rencana razia LGBT di Depok, yang bisa berujung pada persekusi. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Persaudaraan Waria Depok (Perwade) buka suara soal rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Depok merazia kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di wilayah itu. Perwade menilai upaya itu merupakan bentuk pelanggaran HAM.

Ketua Perwade, Sofie mengaku kelompoknya menjadi yang paling dirugikan jika Pemkot Depok sampai merazia kaum LGBT. Pasalnya, identitas kaum waria, menurut Sofie, paling mudah terlihat dibanding kelompok transgender lainnya.

"Karena label ini tadi kan. Kalau yang homo, gay, emang tahu sudah ada label? Paling kalau ada kejadian dia, sodomi anak di bawah umur. Itu mungkin bisa jadi. Baru bisa terkuak dia sebagai gay atau homo. Kalau waria, gimana itu? Ya paling dirugikan kan waria," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (14/1).


Sofie menyadari rencana Pemkot Depok merazia LGBT merupakan bentuk kekhawatiran pemerintah terhadap warganya atas kasus Reynhard Sinaga.

Reynhard adalah warga Depok di Manchester, Inggris. Reynhard diputus bersalah dan dihukum seumur hidup oleh pengadilan Inggris karena memperkosa puluh hingga seratusan pria dan ada yang di bawah umur. Kasus Reynhard bahkan disebut sebagai perkara pemerkosaan terbanyak dalam sejarah kriminal negara tersebut.

Terlepas dari kekhawatiran Pemkot Depok, Sofie khawatir rencana razia bisa berujung persekusi pada kelompok LGBT di Depok.

Menurut Sofie, selama bukan bentuk kejahatan seksual tidak ada yang salah pada kelompok LGBT. Sebab, katanya, orientasi gender merupakan sifat alamiah bahkan bisa lahir dari trauma masa lalu seseorang.

"Dan itu kan penyakit dari awal. Itu kan keluarga terdekat dia juga yang memperkosa dia waktu kecil. Si Reynhard itu," ujar Sofie.

Selain rencana razia, Pemkot Depok juga akan mendirikan crisis center LGBT. Bagi Sofi, hal itu sah-sah saja. Namun, sebelum melakukannya, Sofie meminta Pemkot Depok berkolaborasi agar mengetahui persoalan sebenarnya yang dialami kaum waria atau LGBT di Depok.

"Dia harus berkolaborasi dengan medis, karena transpuan ini kan rata-rata dia pake (obat) hormon. Nah, alat vital itu enggak keras," ucap Sofie.

"Makanya saya bilang tadi, suruh kolaborasi dengan ahli medis. Jadi waria ini sebenernya bentuknya aja laki. Hatinya tuh perempuan. Tidak ingin disakitin," ujar Sofie dengan suara terisak.

Rencana razia LGBT kali pertama diungkap Wali Kota Depok Muhammad Idris akhir pekan lalu.

Pemicunya, Idris mengaku geram atas kasus kekerasan seksual sesama jenis yang dilakukan WNI yang juga warga Depok, Reynhard Sinaga di Manchester, Inggris.

Agar hal serupa tak terjadi di Depok, Idris mengintruksikan bawahannya untuk aktif mengatasi persoalan kriminalisasi seksual. Idris rencananya bakal membentuk crisis center LGBT dan melakukan razia untuk mengurangi perilaku seksual kelompok LGBT.

[Gambas:Video CNN]
Langkah Idris itu lantas menuai kritik, salah satunya dari Amnesty International. Direktur Amnesty Internasional, Usman Hamid mengatakan langkah Pemkot Depok yang bakal merazia kelompok LGBT di Depok mencerminkan perlakuan kejam, tak manusiawi, dan merendahkan martabat mereka sebagai manusia.

"Di bawah hukum nasional maupun internasional, razia semacam itu justru mencerminkan perlakuan kejam, tak manusiawi dan merendahkan martabat mereka sebagai manusia," kata Usman dalam keterangan tertulis, Rabu (14/1).

(thr/wis)