Polri Buka Penyelidikan Korupsi Asabri

CNN Indonesia | Rabu, 15/01/2020 16:42 WIB
Karopenmas Mabes Polri, Brigjen Argo Yuwono menyebut pihaknya membuka penyelidikan PT Asabri, dan meminta publik menunggu hasil temuan penyidik. Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Argo Yuwono. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian Republik Indonesia (Polri) membuka penyelidikan terkait dugaan tindak pidana korupsi dalam perusahaan asuransi pelat merah PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Asabri).

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebelumnya menaksir kerugian negara dalam kasus Asabri mencapai Rp10-Rp16 triliun.

"Kita sedang penyelidikan kasus tersebut," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri Brigjen Pol Argo Yuwono di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (15/1).


Kendati demikian, Argo menolak merinci langkah awal penyelidikan yang dilakukan pihaknya. Argo minta publik menunggu hasil temuan penyidik.
Kasus Asabri mencuat usai Menko Polhukam Mahfud MD menyatakan kerugian negara di perusahaan tersebut mencapai triliunan. Mahfud bahkan menyebut ada sejumlah pelaku korupsi di PT Asabri juga melakukan korupsi di PT Asuransi Jiwasraya.

"Modus operandinya sama (dengan Jiwasraya). Akan mungkin ada beberapa orangnya yang sama," ujar Mahfud di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Senin (13/1).

Di sisi lain, Mahfud menyampaikan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang akan fokus menyelesaikan persoalan tersebut sesuai dengan lingkup PT Asabri di luar BUMN.
PT Asabri. (CNN Indonesia/ Safir Makki)

[Gambas:Video CNN]
"Kan tentara itu, kok jadi terjadi lagi. Nampaknya itu nanti akan jadi banyak porsi perhatian Pak Menhan," ujar Mahfud.

Teranyar, BPK juga tengah mengumpulkan informasi dan data terkait PT Asabri. Sejauh ini, menurut anggota BPK Harry Azhar Azis, pihaknya menaksir kerugian negara mencapai di kisaran Rp10-Rp16 triliun.

"Sekarang masih dalam proses pengumpulan data dan informasi yang diperkirakan potensi kerugian Rp10 sampai Rp16 triliun," ujar Harry kepada wartawan, Rabu (15/1). (mjo)