Crazy Rich Tanjung Priok Patahkan Argumen Yasonna Laoly

CNN Indonesia | Rabu, 22/01/2020 17:11 WIB
Crazy Rich Tanjung Priok Patahkan Argumen Yasonna Laoly Politikus NasDem Ahmad Sahroni menyatakan kawasan Tanjung Priok tak lagi identik dengan kemiskinan dan kriminalitas seperti diucapkan Yasonna Laoly. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anggota DPR RI yang tinggal di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Ahmad Sahroni, menyesalkan pernyataan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Laoly yang mengidentikkan kawasan Tanjung Priok dengan kemiskinan, kriminalitas dan kumuh. Menurut Sahroni, sebagai menteri Yasonna seharusnya bisa menjaga setiap pernyataan.

"Sebagai pejabat publik, kita sepatutnya memang benar-benar menjaga pernyataan kita sehingga tidak memunculkan dampak sosial hingga berujung unjuk rasa," kata Sahroni lewat pesan singkat, Rabu (22/1).

Hari ini, Kantor Yasonna di bilangan Rasuna Said didemo massa dari Tanjung Priok. Massa menuntut permintaan maaf dari Yasonna atas ucapannya menyebut kawasan Tanjung Priok kumuh, miskin, dan kriminal.


Sahroni menyebut demonstrasi warga Tanjung Priok tidak dimobilisasi pihak tertentu. Menurut politikus NasDem ini demo dilakukan sebagai bentuk kegelisahan atas ucapan Yasonna.

Dia juga tak menampik bahwa Tanjung Priok dahulu lekat dengan julukan daerah kumuh dengan tingkat premanisme tinggi. Namun, dia mengingatkan Yasonna bahwa Tanjung Priok sudah berkembang dengan tingkat keamanan lebih baik dibandingkan kawasan Menteng, Jakarta Pusat berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

"Pada masa lalu Tanjung Priok memang lekat dengan julukan daerah slum dengan premanisme tinggi. Tetapi jangan lupa, sebuah daerah dapat berkembang menjadi lebih baik. Tanjung Priok misalnya, data BPS bahkan menunjukkan tingkat keamanan lebih baik dibandingkan dengan Menteng saat ini," tuturnya.
Crazy Rich Tanjung Priok Beberkan Kekeliruan Yasonna LaolyWarga Tanjung Priok berunjuk rasa buntut dari pernyataan Yasonna Laoly. (CNN Indonesia/ Safir Makki)

Crazy Rich Tanjung Priok

Sahroni adalah anak asli Tanjung Priok. Dia lahir di Kebon Kawung, Tanjung Priok pada 8 Agustus 1977.

Lelaki yang akrab disapa Roni ini menjalani masa kecil yang sulit. Ia lahir dari keluarga sederhana penjual nasi padang. Orang tuanya bercerai dan ibunya menikah lagi. Besar tanpa seorang ayah, Roni tinggal bersama ibu dan neneknya.

Semasa tinggal bersama ibu dan neneknya, Roni mengaku pernah tidur di gerobak nasi padang.

Kondisi keluarga membuat Roni semakin giat mencari pundi-pundi rupiah. Sebelum sukses dalam bisnisnya yang sekarang, Roni pernah bekerja sebagai buruh kasar bahkan menjadi tukang cuci.

Roni juga sempat meniti karier menjadi supir pribadi bos minyak dan pernah mengadu peruntungan dengan bekerja di kapal pesiar hingga ke Atlanta, Amerika Serikat.

Usai bekerja di kapal pesiar, Roni kembali bekerja menjadi supir bos minyak. Ia mempelajari semua hal yang bisa ia dapat selama bekerja, termasuk mengangkut logistik yang beratnya mencapai 79 kg.

[Gambas:Video CNN]
Berbekal pengalaman dan ilmu yang dimilikinya semasa bekerja, Roni kemudian mencoba peruntungan dengan mendirikan perusahaan minyak sendiri. Saat ini, Roni memiliki beberapa kapal tongkang pengangkut BBM. Publik pun menjulukinya sebagai crazy rich Tanjung Priok. 

Priok Berubah

Perekonomian Tanjung Priok saat ini, menurut Sahroni, telah meningkat, terutama di sektor properti.

Merujuk data BPS, Sahroni menuturkan Kecamatan Tanjung Priok saat ini memiliki tujuh komplek apartemen dan 18 kawasan elite. Priok hanya kalah dari kecamatan Kelapa Gading yang memiliki 10 kompleks apartemen dan 45 kawasan elite serta Kecamatan Penjaringan yang memiliki 17 komplek Apartemen dan 61 kawasan elite.

Data BPS dari Roni tak jauh berbeda dengan penelusuran CNNIndonesia.com di situs BPS. Kecamatan Tanjung Priok memiliki 7 Apartemen yang terletak di Kelurahan Sunter Agung, Sunter Jaya dan Papanggo. Kecamatan Tanjung Priok juga memiliki fasilitas olah raga dan berbagai fasilitas kesehatan yang mudah diakses masyarakat.

BPS juga mencatat sejak 2013, Pelabuhan Tanjung Priok berkontribusi besar dalam kegiatan ekspor-impor. Pada 2015 Pelabuhan Tanjung Priok memuat lebih dari 12 juta ton ekspor Indonesia, dengan total nilai 40 juta dolar Amerika.

"Logikanya sederhana saja, orang tidak akan mau berinvetasi kalau tidak aman dan yang tak kalah penting Pelabuhan Tanjung Priok menjadi barometer dan penopang perekonomian Indonesia," ujar Sahroni.

Atas dasar itu, Sahroni kembali mengingatkan Yasonna agar tidak melabelkan suatu wilayah tertentu. Apalagi, Yasonna berstatus menteri sekaligus akademisi dengan gelar profesor. 

"Sebagai seorang akademisi bergelar profesor yang juga menjabat menteri, sepatutnya Pak Yasonna mencontohkan sebuah daerah A dengan tingkat kesejahteraan lebih rendah dengan daerah B yang memiliki kondisi sebaliknya, bukan mengeneralisir wilayah tertentu," ujar Sahroni. (mel/wis)