Pelaku Skimming Nasabah BNI Kendari Beraksi di Semarang

CNN Indonesia | Kamis, 23/01/2020 09:28 WIB
Pelaku Skimming Nasabah BNI Kendari Beraksi di Semarang Ilustrasi ATM. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Kendari, CNN Indonesia -- Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Kendari mendeteksi lokasi penarikan uang nasabah yang terkena pencurian tabungan dengan modus penggandaan identitas kartu ATM atau skimming berada di Semarang hingga Filipina.

Nasabah korban skimming pun berasal dari bank lain karena menggunakan ATM BNI di lokasi tertentu.

"Mayoritas di Semarang dan ada juga dari luar negeri (Filipina). Itu indikasinya," kata Bidang Layanan BNI Cabang Kendari Ikram saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (22/1).


Ia menyebut penarikan uang nasabah BNI di Kendari mayoritas menggunakan anjungan tunai mandiri (ATM) milik bank lain.

"Sebab, kalau pakai ATM BNI, pasti gampang terlacak," tambahnya.

Berdasarkan keterangan korban, sebelum uangnya ditarik secara misterius, kebanyakan nasabah melakukan transaksi di ATM depan Hotel Putri Wisata, Jalan MT Haryono, Kelurahan Wowawanggu, Kecamatan Wuawua Kota Kendari.

"Sebagian besar dari keterangan korban begitu. Tapi tim dari Jakarta akan memastikan dulu," imbuh Ikram.

Terpisah, warga Kendari Suci Maulidya Estiningrum (26) mengaku kesal karena turut menjadi korban skimming padahal dia merupakan nasabah Bank Centeral Asia (BCA).

Tarik Uang di ATM BNI Kendari, Nasabah dibobol di FilipinaPolisi menunjukkan alat sebuah skimmer, atau alat skimming yang berfungsi menggandakan kartu nasabah, dalam sebuah kasus yang terungkap pada 2018. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Masalahnya, ia melakukan transaksi di ATM BNI depan Hotel Putri Wisata Kendari. ATM ini diduga menjadi tempat pemasangan alat perekam data nasabah.

Penarikan uang itu, katanya, dilakukan pada 16 Januari sekitar pukul 19.00 WITA di ATM BNI depan Hotel Putri Wisata, sebesar Rp1 juta.

Dua hari kemudian, ia baru menyadari uangnya hilang saat hendak kembali melakukan transaksi di ATM BCA di Kelurahan Lepolepo.

"Saya curiga sepertinya uang saya berkurang," katanya.

Setelah mengecek mutasi di rekeningnya, uang Rp10 juta telah terdebet secara misterius pada 17 Januari 2020 malam. Pelaku menarik uang sebanyak empat kali dengan nominal Rp2,5 juta sekali penarikan.

"Padahal, malam itu saya tidak menarik. Saya di rumah dan tidak kemana-mana," tuturnya.

Ia menyebut berdasarkan keterangan pihak BCA, penarikan di rekeningnya di lakukan di BNI Citraland 1 Semarang.

"Saya akhirnya telepon layanan pengaduan agar ATM saya segera diblokir," tuturnya.

[Gambas:Video CNN]

Meski demikian, ia kesulitan untuk meminta kembali uangnya. Sebab, setelah berkonsultasi dengan pihak BNI, ia harus melapor ke BCA untuk menggantikan kerugiannya.

"Saya ke BCA, mereka bilang nanti 7 hari kerja baru ada pemberitahuan," tuturnya.

Terhadap keluhan Suci ini, Ikram menyebut pihaknya hanya bisa melayani korban skimming dari nasabahnya.

"Nasabah lain, harus melapor ke bank bersangkutan. Setelah dari BCA, kan kita ada kerjasama antarbank, nanti BCA pusat akan bersurat ke BNI pusat untuk diselesaikan," tuturnya.

Sebelumnya, ada 115 nasabah BNI Cabang Kendari yang menjadi korban skimming dengan total kerugian Rp500 juta.

Pihak BNI sejatinya telah membuat sistem pengamanan terhadap transaksi nasabahnya dengan memasang CCTV, meletakan kanopi di mulut ATM, menggunakan chip untuk setiap kartu hingga melakukan patroli.

Tetapi faktanya, mayoritas nasabah yang menjadi korban skimming memiliki kartu ATM dengan pengamanan mutakhir, seperti chip tersebut.

"Selama ini kami lakukan patroli, hanya saja mereka beroperasi di jam tertentu. Tapi pastinya akan dipikirkan solusinya oleh BNI pusat. Pasti ada kebijakan karena kejadian ini tidak hanya di sini (Kendari), tapi ada juga di Bali," pungkasnya.

(pnd/arh)