"Saya akan berundinglah, akan bicara dengan pihak Malaysia agar sama-sama ambil tanggung jawab peristiwa yang berkali-kali terjadi. Sudah 44 orang kita diculik, sekali culik 3-5 orang," kata Mahfud di kawasan Jakarta Pusat, Sabtu (25/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Mahfud menjelaskan pemerintah Indonesia sudah memberikan pernyataan resmi meminta peran aktif Malaysia dalam mengantisipasi dan menangani perompak Abu Sayyaf.
Menteri Pertahanan Malaysia Mohamad Sabu dalam kunjungan ke Indonesia kemarin mengatakan masalah penyanderaan nelayan Indonesia menjadi salah satu topik yang dibahas dengan Menhan RI Prabowo Subianto.
Sabu mengaku Malaysia kesulitan mengamankan perairan yang rawan pembajakan. Malaysia juga memerlukan kapal serta peralatan lebih canggih untuk mendeteksi kapal-kapal pembajak.
[Gambas:Video CNN]
"Kami (Malaysia) memang perlu meningkatkan keamanan di perairan (Sabah) sebelah Mindanao itu sendiri. Pulau-pulau begitu banyak dan kecil-kecil ini, sulit untuk mengenali kapal nelayan dan kapal kumpulan pembajak yang masuk," kata menteri yang kerap disapa Mat Sabu itu dalam wawancara eksklusif bersama CNNIndonesia.com di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Jumat (24/1).
Malaysia enggan disalahkan Indonesia terkait hal ini. Angkatan bersenjata Malaysia menyatakan selama ini telah berkoordinasi dengan Indonesia dan Filipina dalam menggelar patroli di perairan Sulu yang sudah berjalan sejak empat tahun lalu. Mat Sabu juga menyatakan banyak nelayan Malaysia yang dibajak atau diculik di perairan Indonesia. (adp/wis)