Akhir Damai Kasus Nenek Rubingah yang Viral Karena Dianiaya

CNN Indonesia | Minggu, 26/01/2020 04:45 WIB
Kasus Nenek Rubingah berakhir damai setelah pihak kepolisian melakukan mediasi dengan pelaku penganiayaan dan pengunggah video meminta maaf. Kapolres Sleman, Kombes Rizky Ferdiansyah (CNN Indonesia/Sutriyati).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nenek Rubingah menjadi perhatian publik setelah video penganiayaan terhadap dirinya viral di media sosial. Dalam video warga dusun Kranggan 1, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, DIY ini ditendang oleh seseorang di Pasar Gendeng, Prambanan.

Dalam video itu, tas yang dijinjing Rubingah ditendang dan kemudian ditarik oleh seorang pria, karena dituduh mengutil di pasar. Bahkan masker dan kain penutup kepalanya juga dilepas paksa, sembari dimintai menunjukkan KTP.

Kasus yang menghebohkan jagat maya tersebut sempat ditangani oleh pihak kepolisian setempat. Hanya saja, Kapolres Sleman, Kombes Rizky Ferdiansyah mengatakan, persoalan antara Rubingah dengan pelaku berinisial N, akhirnya berakhir damai setelah melalui mediasi yang disaksikan banyak pihak.


"Kejadian pada tanggal 20 Januari itu semuanya sudah clear, sudah disepakati kedua belah pihak, dan saling memaafkan," jelas Rizky kepasa wartawan di Mapolres Sleman, Sabtu (25/1).


Keputusan untuk tak melanjutkan kasus itu ke ranah hukum, lanjut Rizky, juga atas pertimbangan kemanusiaan.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dusun Prenggan 1, Suharmadi membenarkan ada kesepakatan damai antara kedua pihak pada 23 Januari 2020.

"Pelaku dan pengunggah video sudah meminta maaf, sujud kepada Bu Rubingah, keluarga dan warga kami," ungkap Suharmadi kepada CNNIndonesia.com.

Menurutnya, sejak puluhan tahun atau tepatnya setelah bercerai dan anak memilih ikut mantan suaminya di Sumatera, Rubingah hidup sebatang kara di rumah sangat sederhana dan tanpa aliran listrik.

[Gambas:Video CNN]
Kesehariannya, nenek Rubingah sering pergi meninggalkan rumahnya dan menghilang beberapa hari. Makan sehari-hari diberi oleh warga, namun kadang ditolaknya.

"Ibu Rubingah itu kalau diajak bicara kadang nyambung, kadang juga enggak," ucap Suharmadi.


Di tahun 2018 lalu, anaknya pernah datang untuk jemput ibunya, namun Rubingah menolak dibawa pergi. "Saat kami beri tahu anaknya tentang kejadian yang menimpa ibunya, dia shock dan berencana akan pulang," imbuhnya.

Ke depan, pihaknya berencana mengikutsertakan Rubingah dalam Program JPS dari Dinas Sosial.

Sementara untuk opsi Rubingah diserahkan ke Panti Sosial, Suharmadi mengaku pihaknya harus berkonsultasi dengan pihak keluarga terlebih dahulu, terutama dengan anak Rubingah yang jauh. (tri/osc)