LIPUTAN KHUSUS

Foto Senyum Jokowi dan Nasib Siswa SD di Kalijaya

Tiara Sutari, CNN Indonesia | Jumat, 14/02/2020 16:10 WIB
Foto Senyum Jokowi dan Nasib Siswa SD di Kalijaya Ilustrasi siswa (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Delon, siswa kelas 3 SDN Kalijaya, Ciamis, Jawa Barat akrab dengan foto Presiden Joko Widodo yang terpajang di dinding kelas. Hampir setiap hari dia menangkap senyum Jokowi lewat tatapannya.

Namun, dia tidak tahu siapa Jokowi. Foto yang terpajang di dinding terlampau kecil, sehingga teks keterangan foto tidak bisa dibaca dari bangku para siswa.

"Tidak tahu, kalau yang dipasang di depan kelas ya itu gambar weh mereun (mungkin). Saya mah kan tidak tahu," kata Delon yang juga diamini oleh teman-teman sebayanya.


Delon mestinya tahu berkat pelajaran yang dia peroleh sehari-hari. Akan tetapi, ada masalah keterbatasan guru di sekolahnya sehingga dia tidak tahu siapa orang berjas dan dasi dalam bingkai yang setiap hari menebar senyum.
SDN 1 Kalijaya, Ciamis, Jawa Barat termasuk salah satu sekolah yang memiliki keterbatasan jumlah guru. Hanya ada 5 guru yang mengajar.

Dari jumlah itu, 2 di antaranya berstatus PNS. Mereka adalah kepala sekolah bernama Wardi yang merangkap sebagai guru dan istrinya.

Sementara 3 orang lainnya adalah guru honorer. Mereka tidak setiap hari bisa datang ke sekolah untuk mengajar. Terkadang, mereka lebih memilih untuk mengurusi anak atau usaha pertaniannya.

Para guru honorer itu juga sebatas berlatar belakang pendidikan SMA atau sederajat. Bukan pula dari sekolah unggulan di perkotaan. Dengan segala kondisi tersebut, wajar jika mereka tak memberikan pengajaran yang optimal kepada siswa.

"Iya memang ya kadang enggak hadir untuk mengajar, kalau sudah begini kekosongannya saya tutupi, saya gantikan untuk mengajar, kadang sehari saya bisa mengajar di tiga kelas," kata Wardi kepada CNNIndonesia.com di Ciamis beberapa waktu lalu.
LIPSUS 10 PENDIDIKAN HOLDSDN 1 Kalijaya, Ciamis, Jawa Barat memiliki bangunan sekolah yang ideal, namun keterbatasan guru menjadi penghambat kegiatan belajar mengajar. (CNN Indonesia/Tiara Sutari)
Keberadaan guru-guru honorer itu dicemaskan oleh para orang tua siswa. Ada ketakutan di dalam benak. Mereka khawatir anak-anak tak mendapat ilmu sebagaimana mestinya.

Salah satunya adalah Nopi. Dia memiliki putra bernama Reza yang kini duduk di bangku kelas 3. Nopi tahu guru honorer sering tak hadir untuk mengajar.

"Takutnya dalam materi gitu, kurang masukan ke anak-anak, khususnya kalau gurunya lagi enggak ada karena suka sering enggak hadir," kata Nopi.

"Jadi anak saya bilang, kepalanya pusing. Gimana mikir kalau misalnya guru menerangkan tapi kurang jelas. Enggak masuk akal. Enggak bisa dimengerti," tambahnya.

Nopi bicara demikian karena ada penurunan nilai Reza. Dia menganggap ada penurunan semangat belajar karena faktor guru yang tak bisa setiap hari hadir di sekolah.

"Saya mah enggak mau diajarin sama guru yang enggak pernah datang, enggak sering datang. Gitu kata Reza. Nah pas kelas satu atau dua sama Bu Yuyun mah prestasinya baik," ucap Nopi.

Nopi tak bisa memindahkan anaknya ke sekolah lain. SDN 1 Kalijaya adalah sekolah yang jaraknya paling dekat dari kediaman Nopi. Bisa ditempuh jalan kaki selama 10 menit.

Walhasil, Nopi tak bisa berbuat banyak. Dia hanya berharap ada perubahan dari SDN 1 Kalijaya. Menurutnya, itu perlu demi siswa-siswa yang lain juga.

"Harapannya ya semoga saja Pak Menteri ini bisa membantu. Bisa enggak yah kalau sampai datang ke sini gitu," kata Nopi lalu terkekeh.

"Menteri bisa bantu ke daerah kami supaya ada kemajuan gurunya ditambahin yang bagus yang cakap, biar anak kami dari desa pinter-pinter," lanjutnya.

[Gambas:Video CNN]

Beda di Ibukota

Problem di SDN Kalijaya, Ciamis sulit ditemukan di sekolah-sekolah di Jakarta. Notabene sudah ideal. Baik dari segi infrastruktur, fasilitas pendidikan, mau pun tenaga kependidikan.  Meski demikian, bukan berarti tidak ada masalah sama sekali.

SMPN 13 Jakarta, misalnya. Sekolah itu memiliki gedung sekolah yang bagus, tidak kekurangan guru dan kegiatan belajar mengajar ditunjang oleh fasilitas teknologi terkini. Salah satu guru yang akrab dengan penggunaan teknologi adalah Heppy.

Heppy pernah mengajar mata pelajaran teknologi dan informasi (TIK). SMPN 13 pun memiliki laboratorium dengan banyak komputer agar kegiatan belajar mengajar mata pelajaran TIK bisa berjalan optimal. 

Namun, perangkat teknologi mumpuni dan jumlahnya yang tak sedikit kini tak digunakan secara optimal. Itu semua akibat dari penggunaan Kurikulum 13 (K13). Mata pelajaran TIK dihapus. Heppy kini mengajar mata pelajaran Prakarya dan Keriwausahaan.

Seperti diketahui, dalam kurikulum 2013 (K13) pemerintah telah sepenuhnya menghapus mata pelajaran TIK untuk siswa SMP dan sederajat. Mata pelajaran itu kini diganti menjadi Prakarya dan Kewirausahaan. Dalam hal ini, pemerintah meminta agar penggunaan teknologi diintegrasikan secara menyeluruh dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan.
Saat CNNIndonesia.com menyambangi ruangan lab, terlihat komputer-komputer disana tampak sudah lama tak digunakan. Bagaikan ruang gudang, kursi-kursi bekas dan juga beberapa peralatan lain tertumpuk menjadi satu di sudut-sudut ruangan. 

Ruangan pun terasa pengap saat dihampiri. Pertanda jarang dibuka, digunakan dan dibersihkan. Bahkan, tidak sedikit komputer di lab sudah mati tak bisa digunakan karena tersambar petir pada awal Januari 2020. Beberapa komputer memiliki spesifikasi tinggi dengan Processor Intel Core7 dan Intel Core 5.

Hingga kini belum ada tindak lanjut terhadap komputer-komputer tersebut.

Heppy mengaku tetap menggunakan perangkat teknologi untuk mengajarkan mata pelajaran prakarya. Membuat kerajinan tangan, rajutan tangan, tata boga, hingga budidaya Ia coba proyeksikan secara modern di dalam kelas.

"Dulu kan saya guru TIK, tapi karena sekarang mengajar prakarya yang lebih tradisional. Saya coba untuk tetap gunakan teknologi sembari mengajar," jelas Heppy sembari masuk ke kelas.

Kebiasaan penggunaan teknologi tersebut ke kelas prakarya yang kini diampunya. Namun, hal itu dilakukan hanya sesekali karena kemampuan operasi perangkat teknologi bukan menjadi silabus utama dalam mata pelajaran itu.

"Kami ada di training dulu, jadi diajarkan materi-materi yang ada (dalam mapel Prakarya)," ujar Heppy.

"Saya pakaikan media pembelajaran, power point misalnya," tambah dia.
[Gambas:Video CNN]
Ia, yang merupakan lulusan sarjana komputer , berharap mata pelajaran TIK diadakan kembali. Dengan demikian, lab komputer yang tersedia dapat digunakan lagi secara optimal.

Selama ini, lab komputer hanya dipakai secara berkala saat mendekati Ujian Nasional dan diperuntukkan bagi siswa kelas 9 saja.


Saat dihubungi terpisah, Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Awaluddin Tjalla menjelaskan bahwa sejak 2019 pemerintah telah menetapkan Informatika sebagai mata pelajaran pilihan. Artinya, sekolah diberikan kewenangan untuk memilih pengambilan mata pelajaran tersebut.

"Mata pelajaran (informatika) dapat dipilih oleh sekolah jika merupakan kebutuhan siswa dan kesiapan sekolah untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran tersebut. Guru dan fasilitas komputer," jelas Awaluddin.

Dalam Surat Edaran No 5091/D/KR/2019 tentang Kesiapan SMP dan SMA dalam menerapkan informatika sebagai mata pelajaran pada tahun pelajaran 2019/2020 yang diterbitkan oleh Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah, disebutkan bahwa sekolah yang belum ditetapkan untuk melaksanakan pelajaran informatika dapat mempersiapkan diri dengan melakukan berbagai kegiatan yang terkait dengan muatan informatika itu.

Berdasarkan data yang diterima CNNIndonesia.com, di wilayah DKI Jakarta hanya terdapat 38 sekolah yang siap mengimplementasikan mata pelajaran informatika. 15 dari antara sekolah tersebut tercatat sebagai sekolah swasta.
(bmw/bmw)