Mantan ISIS Minta Pemerintah Beri Solusi untuk WNI di Suriah

CNN Indonesia | Selasa, 11/02/2020 18:36 WIB
Mantan ISIS Minta Pemerintah Beri Solusi untuk WNI di Suriah Nasib ratusan WNI mantan simpatisan ISIS saat ini terkatung di kamp pengungsian Suriah, sementara pemerintah menyatakan menolak kepulangan mereka. (Foto: Fadel SENNA / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan simpatisan ISIS, Febri Ramdani meminta pemerintah memberikan solusi terbaik kepada ratusan Warga Negara Indonesia (WNI) yang masih berada di penampungan Suriah. Febri sendiri pernah berada di Suriah dan berhasil kembali ke Indonesia pada 2017 lalu.

"Harus diberikan solusi yang terbaik, sehingga masyarakat dapat hal positif dari kebijakan itu," kata Febri saat ditemui dalam bedah buku '300 Hari di Bumi Syam: Perjalanan Seorang Mantan Pengikut ISIS', di Jakarta, Selasa (11/2).

Febri selaku penulis buku itu menyerahkan sepenuhnya pada pemerintah terkait nasib ratusan WNI eks ISIS yang masih menetap di Suriah. Termasuk juga para anak-anak dan perempuan asal Indonesia yang masih berada di kamp penampungan tersebut.

"Dilihat lagi level asesmen-nya. Serahkan lagi ke pemerintah," tuturnya.


Selain itu, kata Febri, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) juga bisa menyiapkan dan melakukan program deradikalisasi terhadap ratusan WNI eks ISIS itu jika nanti benar-benar dipulangkan. Ia pun pernah mengikuti program deradikalisasi usai kembali dari Suriah.

"Program itu harus dijalankan, dimaksimalkan, sehingga orang-orang ini (eks ISIS) dibenahi lah," tuturnya.

Baca Selengkapnya Kisah Febri di Sini

Febri pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS pada September 2016 lalu. Ia nekat hijrah ke Suriah untuk menyusul keluarganya yang telah berangkat lebih dulu pada Agustus 2015.

Total ada 26 anggota keluarga yang berangkat ke Suriah. Febri kala itu sempat depresi karena ditinggal oleh keluarganya. Dia belakangan memutuskan pergi ke Suriah berkat bantuan kerabatnya dan diyakinkan oleh propaganda yang disebarkan ISIS.

"Saat saya masuk sudah beda, sudah ada bendera-benderanya. Tapi kok beda sama yang dipropagandakan. Kok hancur semua. Saya pikir ini wilayah bagus tidak di wilayah perang," ujarnya.

Singkat cerita, kata Febri, apa yang dipropagandakan ISIS berbeda dari kenyataan. Ia pun akhirnya bisa bertemu dengan ayah dan kakaknya. Febri bersyukur keluarga intinya masih hidup setelah satu tahun tinggal di sana.

[Gambas:Video CNN]



Ternyata, kenang Febri, keluarganya selama satu tahun itu ingin pulang ke Indonesia. Selama satu tahun pula keluarganya tidak mendapatkan apa yang dijanjikan oleh ISIS.

"Akhirnya saya dan keluarga saya dibantu oleh penduduk lokal untuk keluar dari sana. Akhirnya kami bisa keluar dengan perjuangan yang luar biasa," tuturnya.

Pemerintah telah memutuskan tak memulangkan ratusan WNI eks ISIS ke Indonesia. Hal ini diputuskan dalam rapat kabinet yang digelar tertutup oleh Presiden Joko Widodo dan sejumlah kementerian di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/2).

"Pemerintah tidak ada rencana memulangkan teroris, bahkan tidak akan memulangkan foreign terrorist fighter (FTF) ke Indonesia," ujar Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD.

Dari data terbaru, kata Mahfud, terdapat 689 WNI eks ISIS yang tersebar di sejumlah wilayah seperti Suriah dan Turki. Sebelumnya disebutkan ada 660 WNI. Mahfud mengatakan, keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan keamanan bagi ratusan juta penduduk di Indonesia.

Sementara Kepala BNPT Suhardi Alius mengungkap saat ini ada ratusan WNI yang masih mengungsi di Suriah tersebar di tiga kamp pengungsian.

BNPT mendapatkan informasi tersebut dari beberapa lembaga intelijen negara Timur Tengah dan Palang Merah Internasional (International Commitee of the Red Cross/ ICRC).

"Di Al Roj, Al Hol, dan Ainisa. Tiga kamp. Jangan salah di sana ada tiga otoritas kekuasaan, ada SDF (Syrian Democratic Forces), ada Pemerintah Suriah, ada Pemerintah Kurdistan," kata Suhardi pada jumpa pers di Gedung BUMN, Jakarta, Jumat (7/2).

(fra/gil)