Rayuan Hijrah ke Negeri Khilafah

Martahan Sohuturon, CNN Indonesia | Selasa, 16/07/2019 08:40 WIB
Niatan hijrah untuk bangkit dari kesengsaraan ekonomi malah berujung tragedi bagi Febri (25) dan 17 WNI dalam perburuan di jantung konflik perang saudara Suriah. (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Febri (25) nyaris depresi ditinggal keluarga besarnya ke Suriah pada 2015. Kerabat inti Febri bertolak ke negara konflik di Timur Tengah karena tergiur iming-iming perbaikan hidup lebih sejahtera.

Febri satu-satunya anggota keluarga yang tak percaya dengan propaganda hijrah umat muslim dunia untuk berjuang di bawah bendera kelompok milisi Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS. Alih-alih ikut 'berjihad', Febri memilih membatin dengan keraguannya sendiri.

Pria kelahiran 1994 itu harus berpindah-pindah indekos karena rumah tinggal dijual kerabatnya untuk bekal ongkos ke Suriah. Febri bertahan hidup dengan menjual barang atau perabotan milik keluarga yang masih tersisa.

Kepergian keluarga Febri berbarengan dengan puncak gelombang migrasi warga Indonesia yang bertolak ke Suriah. Tim intelijen dari Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) mencatat hingga April 2015 setidaknya ada sekitar 600 WNI bergabung ISIS di Suriah.
Rayuan Hijrah ke Negeri Khilafah

Muslim Indonesia hijrah ke Suriah tak semata didasari itikad berjihad berlandaskan ideologi agama. Melainkan juga karena dijanjikan sejumlah fasilitas yang membangkitkan mereka dari keterpurukan ekonomi.


Keluarga Febri nekat berangkat ke Suriah karena percaya akan medapat gaji Rp160 juta per bulan, jaminan pendidikan gratis untuk anak-anak, kiriman tunjangan bulanan untuk keluarga di Indonesia, serta hidup sejahtera di wilayah kekhalifahan yang telah dikuasai ISIS.

Di luar itu semua, ISIS memberi jaminan 100 persen uang ganti ongkos yang dikeluarkan oleh keluarga Febri.

"Saya ditinggal waktu itu karena tidak setuju dengan segala macam ideologi dan keyakinan mereka," ujar Febri menceritakan kembali kisahnya kepada CNNIndonesia.com, April lalu.

Keluarga Febri berangkat setahun setelah ISIS mendeklarasikan berdirinya negara Islam sekaligus kekhalifahan dunia di bawah kepemimpinan Abu Bakr al-Baghdadi --tokoh aktivis militan yang sejak 2011 dibanderol US$10 juta oleh Amerika Serikat untuk informasi yang mengarah pada penangkapan atau kematiannya.

Berbarengan dengan deklarasi itu, ISIS berganti nama menjadi ad-Dawlah al-Islāmiyah atau Negara Islam. Raqqa, tempat deklarasi berdirinya Negara Islam versi ISIS, sejak itu diklaim menjadi ibu kota kekhalifahan.

ISIS gencar mempropagandakan kejayaan Negara Islam di Suriah melalui situs-situs partisan dan memanfaatkan jaringan simpatisan di media sosial.
Rayuan Hijrah ke Negeri Khilafah

Paman Febri adalah orang pertama yang melihat propaganda tentang kebangkitan Islam itu tersaji di dunia maya. Dia pun bersemangat mengajak seluruh keluarga hijrah ke Raqqa, Suriah.

Kondisi keluarga Febri saat itu sedang terpuruk. Kakak kandung Febri menderita sakit tuberkulosis tulang kritis. Sementara tulang punggung keluarga hanya bertopang pada sang ibu --sejak ditinggal cerai suaminya.

"Keluarga waktu itu sedang down. Kakak saya butuh pengobatan dengan biaya besar," kata Febri.

Keadaan itu semakin meneguhkan keluarga Febri untuk berangkat ke Suriah, mengingat ISIS telah menjanjikan pengobatan dan perawatan gratis bagi siapapun yang bergabung dengan mereka.

Syahdan berangkatlah 26 orang kerabat mulai dari ibu, kakak, ipar, sepupu, keponakan, hingga paman ke Suriah. Menyisakan Febri yang bertahan dengan dilema di Indonesia.

Berlanjut ke halaman selanjutnya...



[Gambas:Video CNN] (gil)
1 dari 6