Analisis

Polemik Pancasila-Agama dan Cap BPIP Alat Gebuk Politik

CNN Indonesia | Jumat, 14/02/2020 08:25 WIB
Polemik Pancasila-Agama dan Cap BPIP Alat Gebuk Politik Presiden Joko Widodo (kanan) memberikan ucapan selamat kepada Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi (kiri). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pernyataan Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyu yang menyebut agama adalah musuh Pancasila menuai polemik. Pernyataan Yudian itu disampaikan saat menuding ada kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingan pribadi. Apalagi Yudian juga menyebut bahwa musuh terbesar Pancasila adalah agama, bukan kesukuan.

"Si minoritas ini ingin melawan Pancasila dan mengklaim dirinya sebagai mayoritas. Ini yang berbahaya. Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama, bukan kesukuan," kata Yudian demikian pernyataan Yudian dalam acara Blak-blakan di Detik.com.

Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah menilai pernyataan Yudian selip lidah. Merujuk pada kalimat keseluruhan, ia menilai pernyataan Yudian yang ramai dikritik itu bukan pada substansinya.


Meski dibela sebagai selip lidah, namun tak membuat beberapa tokoh berhentik mengkritik Yudian. Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil Qoumas justru menilai Yudian telah membenturkan Pancasila dengan agama. Wakil Presiden Ma'ruf Amin pun telah meminta agar Yudian segera melakukan klarifikasi.

Langkah Presiden Joko Widodo membentuk BPIP sendiri memang menuai banyak kritik dari sejumlah kalangan karena dikhawatirkan seperti Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7) yang pernah didirikan di era Orde Baru (Orba). Badan ini dulu kerap dinilai jadi alat untuk menggebuk lawan politik pemerintah.
Pengamat politik The Habibie Center Bawono Kumoro menyebut seharusnya Yudian bisa lebih menata setiap pernyataan yang dilontarkan demi membuktikan bahwa BPIP bukan lembaga atau badan yang dibentuk untuk menggebuk lawan politik pemerintah.

Dia melanjutkan, Yudian seharusnya memberikan pernyataan yang tidak bias sehingga bisa membuktikan bahwa pemerintah tidak menggunakan Pancasila untuk menggebuk lawan politik.

Menurut Bawono, Yudian lewat pernyataan-pernyataannya harus membuktikan bahwa pemerintah ingin memperkaya dan menjadikan Pancasila sebagai sebuah ideologi dalam bernegara.

"BPIP buktikan pancasila bukan (alat) gebuk lawan politik, tapi memperkaya agar pancasila jadi ideologi," kata Bawono kepada CNNIndonesia.com, Kamis (13/2).

Senada, pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Ujang Komarudin berharap agar pernyataan Yudian ini tidak semakin memperjelas bahwa BPIP dibentuk untuk melegitimasi pemerintah mencap radikal atau antinasionalisme terhadap kelompok atau kalangan tertentu. Menurutnya, Jokowi harus segera mengoreksi kinerja BPIP.

[Gambas:Video CNN]


"Memang jangan (BPIP) jadi alat legitimasi untuk (pemerintah) menuduh kelompok lain radikal dan antinasionalisme," kata Ujang.

Ujang pun meminta Jokowi segera menegur Yudian. Menurutnya, teguran itu penting agar BPIP sebagai lembaga negara satu-satunya yang membidangi Pancasila mendapatkan kepercayaan masyarakat.

"Ketua lembaga negara seperti BPIP, tidak boleh keluarkan pernyataan kontroversial. Kalau tidak, tidak akan dihormati. Hari ini masyarakat kritik sehingga BPIP yang membidangi Pancasila tidak akan dipercaya publik," katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif KedaiKOPI, Kunto Adi Wibowo juga mengaku khawatir pernyataan Yudian ini semakin membuktikan bahwa BPIP hanya dibentuk untuk menjadi tukang stempel pemerintah untuk mencap radikal terhadap kelompok tertentu.

Menurutnya, BPIP harus bekerja seperti saat di bawah kepemimpinan Yudi Latif yakni untuk membumikan dan merekontekstualisasi Pancasila terhadap situasi saat ini.

"Jangan sampai BPIP (menjadi) alat gebuk kelompok ini radikal antipancasila, seharusnya tidak usah masuk wilayah stempel," kata Kunto.

Sementara itu Istana melalui Kepala Staf Presiden Moeldoko mengatakan Yudian tak bermaksud menyudutkan bahwa agama memang menjadi musuh Pancasila. Menurutnya bisa saja kesalahan terletak pada yang memaknainya.

"Ya, bisa saja yang memaknainya yang salah. Padahal bukan seperti itu maksudnya," ujar Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (13/2).

Moeldoko meminta semua pihak tak menyalahkan pernyataan Yudian. Ia meyakini Yudian menyampaikan pendapatnya dengan penuh pertimbangan dan pikiran yang jernih.

"Beliau itu intelektual dan agamanya juga tinggi. Jadi mesti kita lihat dengan jernih. Jangan dijustifikasi," katanya. (mts/ain)