Saat Pemerintah Kota Depok Menghindari Perayaan Valentine

CNN Indonesia | Jumat, 14/02/2020 21:18 WIB
Saat Pemerintah Kota Depok Menghindari Perayaan Valentine Pemkot Depok mengeluarkan surat edaran larangan mal hingga sekolah merayakan valentine. (CNN Indonesia/Aria Ananda).
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak ada warna khas valentine di setiap sudut Kota Depok. Ornamen-ornamen berbentuk hati juga tak terlihat di pusat perbelanjaan maupun restoran. Tak ada valentine di Kota Depok. 

Pemerintah Kota Depok mengimbau agar pusat perbelanjaan, hotel, dan sekolah tidak merayakan hari valentine yang jatuh di hari ini, Jumat (14/2). Pemkot Depok menghindari perayaan hari kasih sayang.

Melalui surat edaran yang diterbitkan Kamis (13/2), Dinas Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga (DPAPMK) mengimbau para camat dan lurah 'menghindari kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan norma agama, sosial, dan budaya'.



CSR & Government Relation Department Head Margo City, Ahmad Syahrullah mengakui pihaknya menerima surat edaran dari Pemkot Depok terkait valentine. Imbauan seperti itu, kata Ahmad, selalu diterima pihaknya dari tahun-tahun sebelumnya.

"Dari tenant-tenant kami di mall juga tidak ada yang mengadakan event khusus valentine. Karena memang himbauan ini sudah ada dari tahun-tahun sebelumnya," ujarnya.

Berbeda dengan mal, kondisi berbeda dialami toko-toko bunga di sepanjang Jalan Akses UI, Cimanggis, Depok. Toko-toko di situ justru mengaku kebanjiran pesanan bunga di hari valentine. Tapi kebanyakan memang tak langsung datang ke lokasi, melainkan memesan lewat pesan WhatsApp.

"Kalau hari biasa paling [pelanggan] cuma 10 orang. Kalau valentine bisa 100 orang," ujar Wildan (23), salah satu penjaga toko bunga kepada CNNIndonesia.com, Jumat (14/2).

Ia bercerita hari ini sudah merangkai ratusan rangkaian bunga dan menjual 300 batang mawar. Semua pesanan sudah dikirim ke masing-masing pelanggan.

Pemilik toko bunga itu, Mumu (41) mengatakan peningkatan jumlah pelanggan di hari kasih sayang memang lazim terjadi sejak tiga tahun ia berjualan di situ.

Walaupun laris, namun keuntungannya justru lebih banyak di hari biasa. Karena di hari valentine harga bunga dari pemasoknya bisa naik tiga kali lipat.

Mumu pun mengaku tak mengetahui kalau pemkot Depok melarang perayaan valentine. Ketika ditanya raut wajahnya heran.

"Gimana ya, bingung juga. Baru dengar saya ini. Selama ini nggak pernah ada yang ngelarang sih. Mungkin karena bunga juga kan bisa jadi hiasan. Saya sih yang penting usaha saja buat anak dan bini," ujar Mumu.

Merapat ke sebuah hotel di wilayah Jalan Margonda, paket makan malam romantis juga masih ditawarkan. Namun poster atau promosi valentine di lobi hotel maupun di depan restoran memang tidak dipampang. Jika bertanya langsung ke resepsionis maupun pelayan di restoran, mereka mengiyakan ada paket spesial untuk hari kasih sayang.

Hotel tersebut menawarkan makan malam romantis dengan pilihan menu lengkap dari hidangan pembuka sampai pencuci mulut. Pelayan restoran pun mengaku sudah banyak pengunjung yang memesan meja untuk malam ini.

Pihak restoran menyiapkan lima meja yang bakal dipercantik dengan lilin dan hiasan manis. Lokasi makan malam ada di bagian rooftop hotel di samping kolam renang. Lengkap dengan pertunjukan musik.

Mereka yang Merayakan dan yang Tidak

Masih di area Jalan Margonda, sebuah pusat perbelanjaan tak banyak menampilkan ucapan hari kasih sayang atau hiasan berbentuk hati. Kendati tak ada suasana spesial di sini, Larissa dan Tama (19) memilih pusat perbelanjaan ini sebagai tujuan mereka di hari valentine.

Keduanya adalah mahasiswa jurusan animasi di salah satu perguruan tinggi di Depok. Karena kerap bertemu dalam satu kelas, setahun lalu keduanya memutuskan berpacaran.

Walaupun tidak ada rencana makan malam romantis, Larissa mengaku sudah bagi-bagi cokelat ke teman-teman sekelas pagi tadi di kampus. Tadinya, ia dan Tama rencana membuat cokelat di rumah untuk dosen mereka. Tapi karena jadwal yang padat rencana itu gagal.


Tama mengaku tahu larangan pemerintah setempat merayakan hari kasih sayang. Namun ia dan teman-temannya tak menghiraukan hal tersebut.

"Menurut saya [larangan] ini berkaitan dengan edukasi tentang pasangan, seks dan semacamnya. Karena di Indonesia masih tabu. Misalnya soal seks. Kita benar-benar ditabukan mengenai kondom dan sebagainya. Valentine itu kan merujuk ke hal-hal seperti itu," ujar Tama.

Ditemui di pusat perbelanjaan yang sama, Nurul dan Dimas (20) yang merupakan teman sekampus juga mengaku terbuka dengan perayaan valentine.

Meski tak punya pasangan, Dimas bercerita tahun lalu ia turut merayakan valentine bersama adiknya. Di tanggal 14 Februari ia sengaja meluangkan waktu jalan-jalan bersama sang adik seharian.

Dimas sendiri menilai sebenarnya valentine bukan hanya untuk mereka yang sudah berpasangan. Valentine bisa dijadikan momen menunjukan kasih sayang kepada keluarga, sahabat dan orang-orang sekitar.

[Gambas:Video CNN]

Ia juga tak tahu kalau Pemkot Depok melarang perayaan valentine.

"Oh kayak gitu? Kita nggak tahu," ujarnya.

Namun begitu Nurul mengatakan dirinya memahami kekhawatiran pemerintah sehingga mengeluarkan imbauan tersebut.

"Mungkin surat edaran keluar karena pergaulan juga. Sekarang anak SD atau SMP sudah mulai pacaran. Mungkin pemerintah takut mereka melakukan perbuatan yang belum cukup umur," kata Nurul.

Meski banyak yang terbuka dengan hari kasih sayang, ada juga yang menganggap hari ini tak ada bedanya dengan hari biasa. Seperti yang dikemukakan Tasha (19) dan Fadil (23).

Tasha merupakan mahasiswa di universitas di Jakarta namun sudah lama berdomisili di Depok. Walaupun sedang tidak berpasangan, ia mengaku tidak pernah merayakan valentine ketika punya pacar.

"Menurut ku valentine biasa saja. Kayak hari-hari biasa. Nggak ada yang istimewa. Kalau mau cokelat ya tinggal beli. Nggak usah nunggu valentine," ujarnya.

Ia pun bercerita kebanyakan temannya serupa. Tak banyak orang-orang di lingkungannya yang merayakan hari valentine. Walaupun sekadar berbagi bunga dan cokelat.

Fadil (23), seorang perantau dari Kepulauan Riau yang kini bekerja sebagai Network Engineer di Jakarta Timur juga berpendapat sama. Ia baru lima bulan merantau ke Depok namun sudah berhasil memikat jodoh.

Meskipun punya pasangan Fadil tidak merayakan hari kasih sayang. Ia mengatakan dirinya tak pernah tertarik dengan hari valentine.

"Dulu di Riau juga sama ada imbauan [melarang perayaan valentine]. Belakangan ini sih, waktu saya SMA enggak ada," ucapnya.

Fadil menilai imbauan melarang valentine sebenarnya tak ada yang salah. Menurutnya itu bisa jadi langkah antisipasi pemerintah mengurangi kegiatan negatif.

"Mungkin biasa hari valentine gini meningkat hal-hal yang negatif. Jadi dikurangi. Bagus juga sih," tambahnya. (fey/osc)