Koordinator aksi, Rudi Suhendra mengatakan pihaknya meminta Pemerintah Kota Depok segera menghentikan kegiatan jemaat Ahmadiyah di Kota Depok dan menggusur sekretariatnya.
"Kita berharap kalau perlu kita gusur ini tempat, enggak boleh mereka ada kegiatan di sini lagi," kata Rudi kepada CNNIndonesia.com di tempat aksi unjuk rasa, Jumat (31/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, ia juga menyesalkan kegiatan sosial jemaat Ahmadiyah bersama warga sekitar. Ia resah karena beberapa warga akhirnya menjadi pengikut Ahmadiyah.
"Mungkin warga bilang Ahmadiyah baik. Tapi ini bicara akidah. Akidah ini mereka sesat dan menyesatkan," katanya.
Plang penyegelan kegiatan Ahmadiyah oleh Pemerintah Kota Depok di masjid jemaat Ahmadiyah. (CNN Indonesia/Thohirin) |
Salah satu kalimat dalam spanduk berisi tulisan "Kami Umat Islam Sawangan Depok Menolak Ahmadiyah Sesat".
Rudi enggan menjawab ketika ditanya organisasi yang menaunginya. Dia mengatakan selama ini tinggal di sekitar sepuluh menit dari lokasi aksi jika ditempuh menggunakan sepeda motor.
Rudi menuduh jemaat Ahmadiyah telah mencopot beberapa spanduk yang mulanya dipasang di sekitar lingkungan tersebut.
"Ini loh ada Ahmadiyah sesat jangan sampe ikutan sesat. Spanduk kita dicopot oleh mereka. Kita enggak tahulah, enggak ada bukti kita nyopot. Tapi siapa lagi yang nyopot kalau bukan mereka?" ujar Rudi.
Beberapa spanduk penolakan Ahmadiyah dibentangkan di pinggir jalan. (CNN Indonesia/Thohirin) |
"Kita silakan aja. Buktikan seperti apa. Itu kan, urusan sama kepolisian. Silakan aja tanya, kita enggak tahu menahu masalah itu," kata Hafiz kepada CNNIndonesia.com saat ditemui di Sekretariat Jemaat Ahmadiyah.
Ketua Jemaat Ahmadiyah Sawangan, Niza Perdana menyatakan tak akan melakukan perlawanan kepada massa aksi. Pihaknya mungkin akan menempuh jalur hukum dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwajib.
"Walaupun diprovokasi kita juga tidak akan melawan. Kita akan diam saja. Kita percayakan semua ke pihak yang berwajib," kata Niza di tempat yang sama.
Niza menjelaskan selama ini jemaat Ahmadiyah tak pernah ada masalah dengan warga sekitar dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Jemaat Ahmadiyah, kata Niza, bahkan kerap melakukan kegiatan bersama dengan warga.
Hal itu mereka lakukan sesuai motto Ahmadiyah, yakni "Love for All, Hatred for None".
"Kalau kita intinya, Ahmadiyah ini cinta damai. Moto kita Love for All, Hatred for None. Jadi kita tidak akan melawan," ujar Niza.
Sementara itu, Camat Sawangan Herry A. Gumelar menyarankan agar jemaat Ahmadiyah menghentikan kegiatannya. Hal itu, kata Herry, demi menghindari gejolak lebih lanjut di masyarakat.
"Saya kan mediasi dengan adanya aspirasi masyarakat. Kan ini sudah jelas sesuai SKB (Surat Keputusan Bersama) tiga menteri kemudian dari MUI melarang adanya kegiatan ini. Itu yang kita tegaskan. Untuk keamanan bersama kegiatan itu saya sarankan supaya dihentikan, supaya tidak ada gejolak lebih lanjut. Ke depannya akan lebih detail lagi," kata Herry.
[Gambas:Video CNN] (thr/pmg)
Plang penyegelan kegiatan Ahmadiyah oleh Pemerintah Kota Depok di masjid jemaat Ahmadiyah. (CNN Indonesia/Thohirin)
Beberapa spanduk penolakan Ahmadiyah dibentangkan di pinggir jalan. (CNN Indonesia/Thohirin)