Tak Periksa Data Papua, Mahfud Klaim Punya yang Lebih Lengkap

CNN Indonesia | Selasa, 18/02/2020 15:02 WIB
Tak Periksa Data Papua, Mahfud Klaim Punya yang Lebih Lengkap Menko Polhukam Mahfud MD. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, Keamanan Mahfud MD menyatakan tak berniat memeriksa lebih lanjut dokumen berisi data tahanan politik dan korban tewas konflik di Nduga, Papua karena tak lengkap. Mahfud mengklaim pemerintah memiliki data yang lebih lengkap dengan daftar riwayat hidupnya.

Dokumen itu diserahkan oleh perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) kepadanya saat mengisi acara di kampus UI, Senin (17/2) kemarin.

"Enggak usah diperiksa. Kalau memang ada kan, sudah ada juga di kantor aparat yang berwajib. Itu infografis saja, kita punya daftar yang lebih lengkap, ada daftar riwayat hidupnya," ujar Mahfud di kantor presiden, Jakarta, Selasa (18/2).


Mahfud tak memusingkan kekecewaan BEM UI atas sikapnya tersebut. Ia berkukuh dokumen itu hanya berisi nama-nama tanpa penjelasan detail kasus yang menjerat. Sementara data itu sendiri disebut Mahfud juga telah dimiliki oleh kepolisian.

"Anda kasih daftar nama tahanan politik, bisa saja kriminal biasa. Semua sudah tercatat di Polri, di situ enggak ada. Ya biasalah, itu hal kecil sajalah. Kan sudah tercatat di polisi, untuk apa kasih hal-hal seperti itu?" tuturnya.

Mahfud juga mengaku tak dapat memastikan apakah nama-nama korban dalam dokumen dari BEM UI, telah terdata di kepolisian. Sebab, data yang diserahkan BEM UI itu ia sebut tak lengkap.

Menurutnya, pihak kepolisian yang akan mengecek dan mencocokkan nama-nama itu dengan data yang dimiliki.

"Kan dia (BEM UI) kasih cuma sebut nama dan umur. Nanti dicek dulu di polisi pasti punya dasar hukum kalau memang itu kriminal, tahanan politik, orang Papua atau bukan. Semua pasti ada pertanggungjawaban," katanya.

BEM UI sebelumnya mengaku kecewa dengan sikap Mahfud terkait dokumen berisi nama-nama tahanan politik Papua tersebut. Sikap Mahfud saat menerima dokumen itu di lingkungan kampus UI, dinilai berbanding terbalik dengan sikapnya saat di luar kampus.

Di luar kampus, Mahfud menyebut dokumen Papua itu sekadar dokumen dan tidak ada apa-apanya. Sementara saat BEM UI menyerahkan langsung dokumen tersebut, Mahfud memeriksa dan membaca sekilas isi dokumen. (psp/wis)