Polisi soal Lucinta Luna Depresi: Alasan Klasik

CNN Indonesia | Rabu, 19/02/2020 17:31 WIB
Polisi soal Lucinta Luna Depresi: Alasan Klasik Polisi menghadirkan artis Lucinta Luna pada rilis kasus narkoba di Polres Metro Jakarta Barat, Rabu (12/2/2020). (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Audie S Latuheru mengatakan alasan Lucinta Luna mengonsumsi narkoba lantaran depresi merupakan alasan klasik.

Sebagai polisi, Audie mengaku selama ini banyak pengguna yang beralasan mengonsumsi narkoba dengan alasan depresi.

"Di dalam pengalaman kami menangani kasus-kasus narkoba memang banyak sekali atau itu alasan-alasan klasik menyatakan sedang stres. Logikanya banyak orang stres juga tapi tidak juga harus menggunakan narkoba," tutur Audie di Polda Metro Jaya, Rabu (19/2).


Soal pengakuan Lucinta bahwa dirinya depresi, kata Audie, juga perlu didalami lebih lanjut. Audie mengatakan alasan itu hanya merupakan pernyataan dari Lucinta semata.
"Kami juga bukan psikolog untuk menilai itu," ujarnya.

Audie mengungkapkan alasan mengapa saat tes urine di Polda Metro, polisi hanya mendapati kandungan benzo dalam urine Lucinta Luna. Padahal, saat Lucinta menjalani tes rambut di BNN Lido, terdapat kandungan amphetamine dalam dirinya.

Menurut Audie, hal itu terjadi lantaran Lucinta terlalu banyak mengonsumsi riklona. Alhasil, saat tes urine hanya kandungan benzo yang diperoleh.

"Sehingga kandungan benzo-nya lebih dominan daripada kandungan yang lainnya," tutur Audie.

[Gambas:Video CNN]

Sebelumnya, Audie mengungkapkan bahwa Lucinta telah mengonsumsi ekstasi selama satu bulan. Lucinta sendiri telah ditetapkan sebagai tersangka karena terbukti mengonsumsi obat-obatan psikotropika.

Lucinta saat ini juga telah ditahan di sel wanita yang ada di Rutan Polda Metro Jaya untuk 20 hari ke depan. Keputusan penahanan Lucinta di sel wanita diputuskan setelah ada berkas dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tentang keputusan pergantian jenis kelamin, Desember 2019.

Lucinta dijerat dengan pasal 62 Juncto 71 Undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang Psikotropika. Ia terancam hukuman penjara 4 tahun. (dis/ain)